- IHSG anjlok 14,91 persen pada penutupan perdagangan Jumat, 16 Oktober 2026, akibat aksi jual masif di bursa domestik.
- MSCI membuka konsultasi peninjauan status Indonesia menjadi Standalone Market dan memicu kekhawatiran pelepasan portofolio global.
- Haji Isam merampungkan akuisisi saham BYAN senilai Rp26 triliun yang turut menekan pergerakan harga saham di pasar.
Suara.com - Pasar modal Indonesia mencatatkan salah satu periode perdagangan terburuk dalam sejarah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 14,91 persen dalam sepekan hingga penutupan perdagangan Jumat (16/10/2026), berakhir pada posisi 5.185,11.
Tekanan berat yang memicu aksi jual masif ini didorong oleh dua sentimen utama, yakni ancaman penurunan status bursa oleh MSCI ke kategori Standalone Market—sejajar dengan negara seperti Zimbabwe dan Argentina—serta dinamika akuisisi saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) oleh pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam.
Ancaman Reklasifikasi MSCI ke Kategori Standalone Market
Pemicu utama kejatuhan indeks bermula saat penyedia indeks global MSCI secara resmi membuka putaran konsultasi pada 15 Oktober 2026 untuk meninjau status MSCI Indonesia Indexes. MSCI mempertimbangkan menurunkan klasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Kategori Standalone Market merupakan kelompok khusus di luar Emerging Market maupun Frontier Market, yang saat ini dihuni oleh negara-negara seperti Argentina, Lebanon, Palestina, Ukraina, hingga Zimbabwe. MSCI menyoroti tiga alasan utama dalam peninjauan ini:
- Kurangnya transparansi dalam struktur kepemilikan saham.
- Tingginya konsentrasi kepemilikan saham oleh pihak tertentu.
- Indikasi praktik perdagangan terkoordinasi (coordinated trading).
Meskipun pemerintah telah melakukan serangkaian perbaikan, MSCI menilai belum ada kemajuan material yang konsisten. Periode konsultasi ini dibuka hingga 30 April 2027, dengan keputusan akhir diumumkan paling lambat 30 Juni 2027.
Ketidakpastian jangka panjang ini memicu kekhawatiran pelepasan portofolio secara otomatis oleh dana pasif global (capital outflow). Ketegangan pasar kian diperberat oleh pergerakan nilai tukar rupiah yang melemah di kisaran Rp18.027 hingga Rp18.038 per dolar AS.
Sorotan Transaksi Jumbo BYAN dan Fenomena Gadai Saham
Dari dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada aksi korporasi pengusaha asal Kalimantan Selatan, Andi Syamsuddin Arsyad (Haji Isam).
Melalui PT Jhonlin Baratama, Haji Isam merampungkan akuisisi sekitar 10,08 miliar saham atau setara 30,25 persen porsi kepemilikan PT Bayan Resources Tbk (BYAN) dengan nilai transaksi mencapai sekitar Rp26 triliun.
Untuk membiayai transaksi tersebut, Haji Isam menggadaikan saham PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) dan PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) kepada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) guna mengikat fasilitas kredit.
Pasca-akuisisi, jajaran pengendali BYAN seperti Low Tuck Kwong, Elaine Low, dan Lim Chai Hock turut melepas sebagian porsi saham mereka, meski Low Tuck Kwong tetap memegang kendali perusahaan dengan porsi kepemilikan 8,3 persen.
Langkah akuisisi ini mendapat sorotan kritis dari Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, yang menilai minimnya keterbukaan struktur pembiayaan serta perlindungan investor minoritas dapat memengaruhi persepsi pemodal asing.
Di pasar sekunder, saham BYAN mengalami koreksi tajam hingga menyentuh batas Auto Reject Bawah (ARB) di level Rp9.450 per lembar. Penurunan saham BYAN beserta jajaran bank besar seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI menjadi motor utama penekan indeks.
"Jumat Berdarah" dan Statistik Perdagangan Sepekan