- Menko Pangan Zulkifli Hasan menyatakan pembangunan 80 ribu Koperasi Desa Merah Putih menghadapi berbagai tantangan pengelolaan.
- Pemerintah melakukan evaluasi dan pembinaan langsung untuk mengatasi permasalahan operasional pada koperasi di berbagai wilayah desa.
- Program tersebut bertujuan mendorong masyarakat desa menjadi pelaku usaha produktif dan memperkuat perekonomian dari bawah.
Suara.com - Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan alias Zulhas, mengakui pembangunan 80 ribu unit Koperasi Desa Merah Putih menghadapi berbagai tantangan.
Pelaksanaannya disebut membutuhkan perubahan pola pikir dan kemampuan masyarakat dalam mengelola usaha.
Zulhas mengatakan, koperasi desa tidak hanya dibangun sebagai lembaga ekonomi, tetapi juga diharapkan mampu mendorong masyarakat desa menjadi pelaku usaha yang produktif.
Untuk mencapai tujuan tersebut, masyarakat perlu dibekali kemampuan mengelola usaha, pembukuan, permodalan, hingga membangun kemitraan.
“Kita harus bangun 80.000 (koperasi merah putih) desa. Tentu bertahap ya kan. Nah tentu ada salah satu, ada salah dua, salah tiga, tapi bukan berarti salah semua gitu,” kata Zulkifli dalam CNN Indonesia Agri-Food Summit 2026, Senin (19/10/2026).
Ia mencontohkan, terdapat kemungkinan koperasi di suatu wilayah menghadapi masalah meskipun program serupa dapat berjalan di wilayah lain.
Menurut dia, persoalan tersebut harus ditangani melalui evaluasi dan pembinaan, bukan langsung dijadikan alasan untuk menilai keseluruhan program gagal.
“Ada satu koperasi desa yang di gunung tapi semua salah. Nah satu itu saya akan datangi kita beresin, satu kan dari 35.000 (koperasi) misalnya. Nah itu, kita perlu dukungan semua pihak bareng-bareng, termasuk teman-teman media untuk merubah keadaan kita itu,” ujarnya.
Ketua Umum PAN itu menyatakan, pembangunan koperasi desa merupakan bagian dari upaya memperkuat perekonomian masyarakat dari tingkat paling bawah.
Pemerintah ingin desa tidak hanya bergantung pada bantuan sosial, tetapi juga mampu menghasilkan pendapatan melalui kegiatan ekonomi produktif.
Menurut dia, perubahan tersebut membutuhkan proses panjang karena masyarakat yang selama ini bertumpu pada sektor pertanian perlu didorong untuk mengembangkan usaha dan meningkatkan produktivitas.
“Kita ajak mereka untuk berlatih jadi kemitraan, punya saham permodalan, berlatih ada pembukuan, berlatih jadi usaha, berlatih produktivitas, itu tidak mudah,” pungkas Zulhas.