- Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menyambut positif lonjakan IHSG sebesar 2,92 persen pada sesi perdagangan Selasa, 20 Oktober 2026.
- Pemulihan pasar didorong oleh aksi *buyback* saham senilai Rp4,5 triliun oleh konglomerasi besar serta mitigasi risiko oleh Bursa Efek Indonesia.
- Danantara berkomitmen memperkuat kepemilikan saham BUMN berfundamental kokoh, yang menghasilkan total nilai transaksi perdagangan mencapai Rp2,330 triliun.
Suara.com - Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad merespons positif pergerakan pasar modal nasional yang menunjukkan sinyal pembalikan arah pada perdagangan sesi I, Selasa (20/10/2026).
Setelah didera tekanan jual ekstrem sepanjang pekan lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat 2,92 persen atau terapresiasi 145,869 poin menuju level 5.142,478, bahkan sempat menyentuh level tertinggi intraday di 5.145,478.
Melalui akun Instagram pribadinya, Dasco mengunggah tangkapan layar pergerakan IHSG yang kembali menghijau bersama lonjakan harga saham-saham perbankan berkapitalisasi jumbo ˆ
"Pagi Yang Cerah," kata Dasco.
Dasco mengatakan, Indonesia masih bisa bangkit karena mempunyai basis fundamental yang kuat.
"Fundamental yang kuat dan kebersamaan menjadi modal kita melewati tantangan. Dengan langkah yang tepat, mari terus menjaga optimisme dan kepercayaan terhadap bursa Indonesia. Bersatu untuk Indonesia. Buy Indonesia," kata Dasco.
Big Banks Kompak Menghijau
Dalam unggahannya, Dasco menyoroti pemulihan harga kelompok perbankan yang menjadi motor penggerak utama indeks.
Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) memimpin penguatan dengan melesat 5,95% ke level Rp3.560 per lembar saham.
Penguatan disusul oleh emiten bank pelat merah lainnya, yakni PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) yang melonjak 5,12% ke posisi Rp2.670, serta PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.
(BBNI) yang naik 4,05% menjadi Rp3.080 per lembar saham. Tak ketinggalan, emiten swasta terbesar PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) turut terkerek 2,70% ke level Rp4.950.
Kolektifnya penguatan saham perbankan ini menjadi penahan utama kejatuhan bursa domestik, yang secara year to date (YTD) tercatat masih terkoreksi dalam hingga 40,47%.
Pelemahan tajam sebelumnya dipicu oleh ancaman MSCI yang berencana men-downgrade status pasar saham Indonesia ke standalone market.
Kolaborasi Tiga Sentimen Penyelamat Pasar
Rebound signifikan IHSG pada perdagangan hari ini tidak terjadi secara kebetulan. Pasar merespons positif koordinasi cepat antara otoritas bursa, regulator, pemerintah, hingga korporasi besar dalam membendung kepanikan pasar. Sedikitnya ada tiga katalis utama yang menopang pembalikan arah IHSG: