- Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyampaikan kredit nganggur perbankan mencapai Rp2.562,57 triliun pada Selasa 22 Oktober 2026.
- Pertumbuhan kredit perbankan nasional tercatat tinggi sebesar 13,26 persen secara tahunan pada September 2026.
- Bank Indonesia memperkuat kebijakan makroprudensial longgar melalui insentif likuiditas guna meningkatkan penyaluran pembiayaan.
Suara.com - Bank Indonesia (BI) mencatat masih ada kredit yang nganggur atau undibersed loan di perbankan. Angkanya naik 21,70 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Gubernur BI, Destry Damayanti, mengatakan bahwa besarnya undisbursed loan menjadi faktor potensi pertumbuhan kredit yang masih tinggi.
"Potensi kenaikan kredit masih tinggi sejalan masih besarnya fasilitas pinjaman yang belum digunakan (undisbursed loan) yang tercatat Rp2.562,57 triliun atau 21,70 persen dari plafon kredit yang tersedia," katanya saat RDG dikutip Selasa (22/10/2026).
Dia juga mengatakan, pertumbuhan DPK tercatat lebih rendah yakni 8,22 persen (yoy) sehingga perlu terus didorong guna menopang pertumbuhan kredit.
Rinciannya, pertumbuhan kredit perbankan pada September 2026 tercatat tinggi sebesar 13,26 persen (yoy), didukung oleh kredit investasi, kredit modal kerja, dan kredit konsumsi yang masing-masing tumbuh sebesar 23,20 persen (yoy), 11,89 persen (yoy), dan 4,86 persen (yoy).
Kredit ke korporasi yang tidak terkait dengan program Pemerintah juga meningkat.
"Intermediasi perbankan tetap kuat, disertai dengan ketahanan perbankan yang terjaga," katanya.
Selain itu, Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan kredit 2026 dalam kisaran 8-12 persen.
Dari sisi ketahanan perbankan secara umum tetap kuat, dengan rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan pada Agustus 2026 tercatat tinggi sebesar 24,10 persen.
Lalu rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) perbankan secara agregat rendah di level 2,11 persen (bruto) dan 0,84 persen (neto) pada Agustus 2026.
Rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) tercatat meningkat dari 23,04% pada Agustus 2026 menjadi 24,08 persen pada September 2026.
Sementara kti, Bank Indonesia terus memperkuat kebijakan makroprudensial longgar untuk meningkatkan kredit/pembiayaan ke sektor riil dengan tetap menjaga stabilitas sistem keuangan.
Perkembangan kredit yang tetap positif didukung oleh kebijakan makroprudensial longgar yang terus ditempuh melalui optimalisasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) untuk mendorong peningkatan kredit/pembiayaan perbankan ke sektor prioritas.
" Hingga minggu pertama Oktober 2026, insentif KLM yang diperoleh bank tercatat sebesar Rp458,5 triliun dengan alokasi pada KLM financing channel sebesar Rp336,4 triliun, serta alokasi pada KLM Pendalaman Pasar Uang (PPU) sebesar Rp122,1 triliun," katanya.
Dia menambahkan, implementasi KLM PPU telah mendorong redistribusi likuiditas di perbankan dan meningkatkan transaksi di pasar uang Rupiah.
Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan implementasi KLM guna meningkatkan efektivitas penyaluran kredit/pembiayaan dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian.