- Lebih dari seratus investor mempertanyakan ancaman MSCI mengucilkan pasar modal Indonesia ke standalone market.
- Managing Director MSCI menyatakan Indonesia harus membersihkan pasar modalnya dari aktor jahat dan manipulasi perdagangan.
- MSCI memberikan tenggat waktu hingga Juni 2027 bagi regulator Indonesia untuk melakukan reformasi pasar modal.
Suara.com - Lebih dari 100 investor mempertanyakan keputusan MSCI yang mengancam akan mengucilkan pasar modal Indonesia ke standalone market.
Desakkan dari para investor itu, seperti dilaporkan Bloomberg, Kamis (22/10/2026) disampaikan dalam pertemuan dengan MSCI pada Selasa (21/10/2026) kemarin. Mereka mempertanyakan alasan penyedia indeks global tersebut memberikan ancaman tersebut dan apakah Indonesia punya peluang untuk bertahan di kelas emerging market.
Dalam pertemuan online yang digelar oleh UBS Group AG itu Direktur MSCI Raman Aylur Subramanian mengatakan bahwa masalah pada pasar modal Indonesia bukan terletak pada indeks tapi pada pasar. Indonesia, kata dia, harus menyingkirkan para "aktor jahat" di pasar.
Informasi ini disampaikan oleh sumber yang mengikuti pertemuan tersebut dan tak mau identitasnya diungkap ke publik.
Jawaban Subramanian itu menjelaskan satu hal, bahwa Indonesia harus meyakinkan MSCI dan investor global bahwa pasar modalnya bisa diatur dengan lebih tertib.
MSCI sendiri dalam peringatannya pada akhir pekan kemarin mengatakan bahwa aturan-aturan baru yang ditetapkan oleh Bursa Efek Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan untuk mereformasi pasar modal belum cukup.
Penyedia indeks tersebut memberi waktu hingga Juni 2027 bagi BEI dan OJK untuk memberikan hasil kerja untuk memberantas perdagangan terkoordinasi di bursa, penerapan free float dan kepastian hukum.
Jika tidak, maka MSCI berencana mengucilkan Indonesia ke standalone market dan pada akhirnya menyebabkan para investor asing melarikan duit mereka dengan nilai miliaran dolar AS ke luar negeri.
Subramanian dalam pertemuan kemarin mengatakan peringatan MSCI ke Indonesia dibuat berdasarkan masukkan para pelaku pasar dan pihaknya menggunakan pendekatan yang objektif.
Ia juga mengatakan bahwa MSCI sudah memberi sinyal kepada para pemangku kepentingan di Indonesia dalam pertemuan di New York, AS dan Jakarta, menekankan bahwa masalah di pasar modal belum diperbaiki.
Sementara dalam pertemuan pada 31 Agustus lalu salah satu petinggi MSCI sudah meminta Indonesia untuk mencegah manipulasi di pasar modal yang tidak hanya berhenti pada sanksi dan meniru cara-cara yang digunakan di pasar modal Hong Kong dan Amerika Serikat.
Lalu dalam pertemuan lain pada 23 September lalu pejabat pasar modal Indonesia disebut terkejut melihat betapa khawatirnya pemimpin eksekutif MSCI Henry Fernandez melihat kondisi pasar saham Indonesia. Para pejabat itu kemudian meminta rekomendasi yang akan disampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto dan Fernandez mengatakan akan mengirimkan rekomendasi tersebut via email.