Rupiah Menuju Rekor Terburuk, Modal Asing Terus Kabur

Selasa, 27 Oktober 2026 | 16:18 WIB
Nilai tukar rupiah melemah ke level Rp18.156 per dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa, 27 Oktober 2026. [Suara.com/Alfian Winanto]
BACA 10 DETIK
  • Nilai tukar rupiah melemah ke level Rp18.156 per dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa, 27 Oktober 2026.
  • Pelemahan rupiah disebabkan oleh aliran keluar modal asing dan kenaikan harga minyak akibat konflik Timur Tengah.
  • Pelaku pasar juga menanti hasil pertemuan Federal Reserve terkait kebijakan suku bunga dan sinyal hawkish mendatang.

Suara.com - Nilai tukar rupiah kembali melemah pada penutupan perdagangan Selasa (27/10/2026) setelah modal asing terus mengalir keluar dan gejolak di Timur Tengah memicu naiknya harga minyak yang mengancam anggaran pemerintah.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp18.156 per dolar AS. Posisi tersebut melemah 21 poin atau 0,12 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp18.135 per dolar AS. Sepanjang tahun ini, rupiah sudah melemah sekitar 8 persen.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi oleh tekanan dari sisi eksternal dan internal.

Di dalam negeri, prospek berlanjutnya arus keluar modal asing menjadi beban bagi rupiah. Kondisi tersebut berpotensi membuat investor semakin berhati-hati dalam menempatkan dana di pasar keuangan domestik.

Tekanan terhadap rupiah juga berasal dari aksi jual bersih investor asing di pasar saham domestik yang masih berlanjut.

Sementara kekhawatiran terhadap eskalasi geopolitik di Timur Tengah menyusul ancaman serangan militer Amerika Serikat (AS) ke Iran.

"Rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar AS di tengah tekanan internal dan eksternal. Ada kekuatiran eskalasi geopolitik di Timur Tengah oleh acaman serangan militer AS, ke Iran," katanya.

Selain sentimen geopolitik, Di sisi lain, pelaku pasar turut mencermati hasil pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu (28/10/2026).

"Dalam beberapa hari kedepan dan net sell asing di pasar ekuitas domestik yang berkelanjutan membebani rupiah. Investor diperkirakan masih akan menghindari rupiah oleh antisipasi FOMC besok di mana the Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunga namun memberikan sinyal hawkish," jelasnya.

Ekspektasi bahwa bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga, tetapi tetap memberikan sinyal hawkish, turut menjadi perhatian investor. Sikap tersebut berpotensi mempertahankan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Sementara itu, pergerakan mata uang di kawasan Asia terpantau bervariasi dengan kecenderungan melemah pada penutupan perdagangan Selasa.

Peso Filipina menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di kawasan Asia setelah ditutup anjlok 0,38 persen. Berikutnya, yen Jepang tertekan 0,23 persen dan won Korea Selatan tergelincir 0,14 persen.
Dolar Singapura juga terkoreksi 0,07 persen. Sementara itu, yuan China melemah tipis 0,004 persen terhadap dolar AS.

Di sisi lain, dolar Taiwan mencatatkan penguatan terbesar di Asia setelah ditutup melesat 0,32 persen. Rupee India turut menguat 0,03 persen.
Selanjutnya, dolar Hong Kong dan ringgit Malaysia sama-sama naik 0,02 persen. Sementara itu, baht Thailand juga tercatat melemah tipis pada perdagangan hari ini.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com