- Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyatakan nilai tukar rupiah melemah hingga menembus level Rp18.100 per dolar AS pada Selasa (27/10/2026).
- Bank Indonesia tetap memantau pergerakan pasar dan tidak mengubah strategi intervensi untuk meredam volatilitas nilai tukar rupiah tersebut.
- Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menyebutkan kenaikan harga minyak dunia akibat antisipasi aksi militer memicu pelemahan rupiah.
Suara.com - Nilai tukar rupiah mengalami tekanan hingga menembus level Rp18.100 per dolar AS. Menanggapi pelemahan mata uang Garuda tersebut, Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti menyatakan, pihaknya terus memantau pergerakannya di pasar keuangan.
“Kita tetap ada di pasar. Ini tergantung supply and demand. Hari ini mungkin lagi... Ya pokoknya tetap kita monitor, kita memantau pergerakannya,” kata Destry dikutip Selasa (27/10/2026).
Di tengah tekanan terhadap rupiah, Destry juga menegaskan bahwa Bank Indonesia tidak mengubah strategi intervensi untuk meredam volatilitas nilai tukar.
Meski demikian, dia belum memerinci faktor utama yang mendorong rupiah melemah hingga menembus level Rp18.100 per dolar AS.
“Enggak, enggak, enggak. Ini volatilitas biasa, tapi kita akan terus monitor. Kita lihat root cause-nya juga,” ujarnya.
Sebelumnya, nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (26/10/2026). Tekanan terhadap mata uang Garuda sudah terjadi sejak awal perdagangan.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp18.135 per dolar AS. Posisi tersebut melemah 55 poin atau 0,30 persen dibandingkan penutupan perdagangan.
Dalam hal ini, Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyoroti perkembangan sentimen global dan domestik yang memengaruhi pergerakan rupiah.
Di pasar global, kenaikan harga minyak dunia turut menjadi perhatian pelaku pasar di tengah antisipasi aksi militer Amerika Serikat dan Israel. Kondisi tersebut memengaruhi pergerakan mata uang di kawasan Asia.
"Rupiah dan mata uang yang sensitif terhadap harga minyak dunia seperti Rupee India dan Peso Filipina melemah cukup tajam terhadap dolar AS di tengah kenaikan harga minyak dunia oleh antisipasi aksi militer oleh AS dan Israel," katanya.