IHSG Jatuh ke Level 4.900, Ini Penyebabnya

Selasa, 03 November 2026 | 17:12 WIB
Penampakan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. [Suara.com/Alfian Winanto]
BACA 10 DETIK
  • IHSG ditutup jatuh 3,78 persen ke level 4.904 pada Selasa, 3 November 2026, akibat sentimen negatif global dan domestik.
  • Pelemahan pasar dipicu serangan Amerika Serikat ke Iran yang mendongkrak harga minyak serta menaikkan risiko inflasi global.
  • Seluruh sektor saham di Bursa Efek Indonesia berakhir di zona merah dengan sektor bahan baku sebagai pemberat utama.

Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup jatuh lebih dalam pada perdagangan, Selasa, 3 November 2026. IHSG terkoreksi 3,78 persen atau 192,91 poin ke level 4.904.

Berdasarkan data Phintraco Sekuritas, pelemahan IHSG karena adanya tekanan terhadap pasar saham domestik terjadi di tengah memburuknya sentimen pasar global maupun dalam negeri.

Selain itu, tekanan terhadap pasar keuangan global datang dari kenaikan harga minyak mentah Brent yang melonjak lebih dari 2 persen ke level 107 dolar AS per barel.

Kenaikan harga minyak tersebut terjadi setelah muncul pemberitaan mengenai serangan Amerika Serikat (AS) terhadap Pulau Qeshm di Iran. Situasi ini turut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap risiko geopolitik dan tekanan inflasi global.

Penampakan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. [Suara.com/Alfian Winanto]

Dari dalam negeri, nilai tukar rupiah juga masih bergerak melemah. Rupiah ditutup turun 0,02 persen ke level Rp18.160 per dolar AS.

Berdasarkan data perdagangan, seluruh sektor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) berakhir di zona merah. Sektor bahan baku atau basic materials menjadi pemberat utama setelah terkoreksi paling dalam sebesar 6 persen.

Pelemahan sektor tersebut terutama dipengaruhi koreksi saham-saham berbasis nikel dan emas.

Dari sisi komoditas, harga nikel masih menghadapi tekanan akibat kondisi kelebihan pasokan di pasar global. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan kelebihan pasokan nikel dunia saat ini mencapai hampir 800 ribu ton.

Kondisi tersebut mendorong pemerintah untuk mengatur produksi nikel dalam negeri melalui mekanisme Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).

Sementara itu, harga emas juga mengalami pelemahan lebih dari 1 persen ke level 3.901 dolar AS per troy ounce. Penurunan harga emas dipicu kenaikan harga minyak yang memunculkan kekhawatiran terhadap inflasi.

Phintraco Sekuritas memperkirakan tekanan terhadap IHSG masih berpotensi berlanjut. Secara teknikal, IHSG berpeluang menguji area 4.650-4.750 apabila level support 4.900 tidak mampu menahan tekanan jual lebih lanjut.

Data Perdagangan IHSG

  • IHSG: 4.904 turun -192,543 poin (-3,78 persen)
  • Pembukaan: 5.126
  • Tertinggi: 5.143
  • Terendah: 4.895
  • Nilai transaksi: Rp11,27 triliun
  • Volume transaksi: 25,22 miliar saham
  • Frekuensi transaksi: 1.290.373 kali

Saham Top Value

  • BBCA: Rp4.840 (-140 atau -2,81 persen)
  • BBRI: Rp2.660 (-160 atau -5,67 persen)
  • BMRI: Rp3.590 (-110 atau -2,97 persen)

Saham Top Volume

  • GOTO: Rp24 (0 atau 0 persen)
  • BUMI: Rp120 (-8 atau -6,25 persen)
  • DMAS: Rp160 (-12 atau -6,98 persen)

Saham Top Gainers LQ45

  • MAPI: Rp1.245 (+35 atau +2,89 persen)

Saham Top Losers LQ45

  • ANTM: Rp2.400 (-180 atau -6,98 persen)
  • EMTK: Rp296 (-22 atau -6,92 persen)
  • HRTA: Rp1.350 (-100 atau -6,90 persen)

Saham Top Losers Jakarta Islamic Index (JII)

  • ANTM: Rp2.400 (-180 atau -6,98 persen)
  • ARCI: Rp815 (-60 atau -6,86 persen)
  • EXCL: Rp1.575 (-115 atau -6,80 persen)

Sektor Saham Top Losers

  • Basic Materials: -6,00 persen
  • Energy: -4,38 persen
  • Transportation: -3,90 persen

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com