- Spread XAUUSD bisa menggerus 20% target keuntungan dari pergerakan emas.
- Trading 15 kali sehari berpotensi memicu biaya spread hingga US$600 per bulan.
- Spread melebar saat likuiditas rendah dan dapat memperberat biaya transaksi trader.
Jika trader melakukan lima transaksi setiap hari selama 20 hari kerja, akumulasi biaya spread dapat mencapai US$100-US$200 per bulan. Jumlahnya meningkat menjadi US$200-US$400 jika frekuensi transaksi mencapai 10 kali sehari.
Bahkan, trader yang melakukan 15 transaksi sehari berpotensi menanggung biaya spread US$300-US$600 per bulan.
Beban tersebut bisa jauh lebih besar ketika transaksi dilakukan pada periode likuiditas rendah. Dengan asumsi spread melebar menjadi US$0,20-US$0,40 per ons, biaya spread untuk posisi 0,1 lot mencapai US$2-US$4 per transaksi.
Dalam skenario tersebut, trader yang bertransaksi 15 kali sehari dapat menanggung biaya spread hingga US$600-US$1.200 per bulan.
Analis pasar keuangan Elev8, Kar Yong Ang, mengatakan strategi intraday sangat sensitif terhadap spread karena biaya tersebut terus dikenakan pada target pergerakan harga yang relatif kecil.
Spread yang lebih lebar dapat memangkas keuntungan bersih dari transaksi yang berhasil sekaligus meningkatkan tingkat keuntungan yang harus dicapai trader untuk menutup kerugian dan biaya transaksi.
"Yang penting bukan hanya spread minimum yang diiklankan, tetapi bagaimana spread berperilaku selama jam dan kondisi pasar di mana strategi tersebut beroperasi," ujar Kar Yong Ang.
Kondisi ini membuat strategi scalping dan day trading memiliki tantangan tersendiri. Target keuntungan yang relatif kecil serta frekuensi transaksi tinggi membuat biaya spread berpotensi mengambil porsi besar dari hasil trading.
Sementara itu, trader dengan strategi jangka panjang umumnya memiliki target pergerakan harga lebih besar sehingga pengaruh spread relatif lebih kecil. Meski demikian, biaya menginap dan penyesuaian posisi tetap perlu diperhitungkan.