Kekayaan Bawah Laut Mulai Digarap, Ini Potensi Bisnisnya

Jum'at, 06 November 2026 | 09:35 WIB
ilustrasi pesisir pantai (unsplash/john-vargues)
BACA 10 DETIK
  • Sebanyak 100 unit terumbu karang buatan disiapkan untuk wisata bawah laut Teluk Kupang.
  • Wisata snorkeling dan diving berpotensi membuka sumber pendapatan baru bagi warga pesisir.
  • Pertamina dan Kelompok Anana Laut mengembangkan konservasi berbasis ekonomi masyarakat.

Suara.com - Potensi ekonomi wisata bahari di Teluk Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), mulai dikembangkan melalui rehabilitasi terumbu karang. Tak sekadar memulihkan ekosistem laut yang rusak, upaya ini juga diarahkan untuk membuka sumber pendapatan baru bagi masyarakat pesisir melalui aktivitas wisata bawah laut.

Pengembangan tersebut dilakukan Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus melalui Integrated Terminal (IT) Tenau bersama Kelompok Anana Laut lewat Program Eduwisata LEMBU BERSERI (Lestarikan Terumbu untuk Berdaya, Sejahtera, dan Mandiri).

Salah satu inovasi yang digunakan adalah Modular Artificial Coral Reef (M-CAR), yakni media transplantasi terumbu karang berbahan beton dengan desain modular. Teknologi ini dirancang untuk menyesuaikan karakteristik perairan Teluk Kupang yang memiliki arus bawah laut cukup kuat.

Sebanyak 100 unit M-CAR telah ditempatkan di area rehabilitasi dengan konfigurasi melingkar. Selain menjadi tempat tumbuhnya terumbu karang, susunan tersebut disiapkan sebagai embrio kawasan wisata bawah laut yang dapat dimanfaatkan untuk aktivitas snorkeling dan diving.

M-CAR

Pengembangan kawasan ini berpotensi menciptakan rantai ekonomi baru di wilayah pesisir. Masyarakat tidak hanya bergantung pada pemanfaatan sumber daya laut secara langsung, tetapi juga berpeluang memperoleh penghasilan dari jasa pemandu wisata, penyewaan peralatan snorkeling dan diving, hingga kegiatan edukasi konservasi laut.

Dengan demikian, keberhasilan rehabilitasi terumbu karang nantinya tidak hanya diukur dari pemulihan ekosistem, tetapi juga dari kemampuan kawasan tersebut menciptakan aktivitas ekonomi yang dapat dikelola masyarakat setempat.

Ketua Kelompok Anana Laut, Joel Bolang, mengatakan program tersebut memberikan pengalaman dan sarana baru bagi masyarakat untuk melakukan rehabilitasi terumbu karang sekaligus mengembangkan potensi wisata bawah laut.

Menurutnya, masyarakat berharap kawasan konservasi tersebut nantinya bisa menjadi destinasi wisata yang dikelola secara mandiri. Dengan begitu, upaya menjaga ekosistem laut dapat berjalan beriringan dengan peningkatan pendapatan warga.

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menjelaskan program LEMBU BERSERI merupakan bagian dari komitmen tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) perusahaan untuk mengintegrasikan pelestarian lingkungan dengan pemberdayaan masyarakat.

Dia mengatakan, program tersebut tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan kegiatan konservasi, tetapi juga mendorong masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga ekosistem sekaligus mengembangkan potensi ekonomi daerah. 

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com