Rupiah Sulit Balik ke Rp17.000 pada 2027, Ini Sentimen yang Membayangi

Minggu, 08 November 2026 | 09:35 WIB
Nilai Tukar Rupiah sulit kembali ke level Rp17.000. [Suara.com]
BACA 10 DETIK
  • Lead Economist Bank Danamon Irman Faiz menyatakan rupiah berpotensi melemah di atas Rp18.000 pada semester pertama 2027.
  • Pelemahan rupiah tersebut disebabkan oleh sentimen domestik dan ketidakpastian global seperti keputusan final MSCI pada 30 April 2027.
  • Rata-rata nilai tukar rupiah sepanjang tahun 2027 diproyeksikan berada di kisaran Rp17.780 per dolar AS.

Suara.com - Nilai tukar rupiah diperkirakan masih sulit menembus level Rp17.000 per dolar AS pada 2027. Sejumlah sentimen global dan domestik diperkirakan masih membayangi pergerakan mata uang Garuda, terutama pada paruh pertama tahun depan.

Lead Economist Bank Danamon, Irman Faiz, mengatakan pemerintah perlu mewaspadai potensi turbulensi pasar pada semester I 2027. Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah keputusan final Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang dijadwalkan diumumkan pada 30 April 2027.

"Dinamikanya itu mungkin akan tinggi pressure-nya menjelang kuartal 2 tahun 2027. Kenapa demikian? Karena ada uncertainty MSCI final decision tadi. Jadi saya tidak bilang Rupiah akan sepanjang tahun Rp 17.800 atau Rp Rp17.700 tadi. Ada potensi dia kembali di atas Rp 18.000 di first semester," kata Faiz dalam Forum Group Discussion (FGD) yang digelar Bank Indonesia di Sabang, Aceh, Kamis (5/11/2026).

Nilai Tukar Rupiah sulit kembali ke level Rp17.000. [Suara.com]

Faiz menjelaskan, pelemahan rupiah saat ini juga dipengaruhi anomali sentimen domestik. Menurutnya, secara fundamental, kondisi penawaran dan permintaan rupiah seharusnya tidak berada pada level pelemahan seperti sekarang.

Hal tersebut tercermin dari kondisi neraca pembayaran Indonesia. Meski defisit transaksi berjalan atau Current Account Deficit (CAD) melebar dari 0,1 persen pada tahun lalu menjadi 1,5 persen pada tahun ini dan diperkirakan mencapai 1,6 persen pada tahun depan, angka tersebut dinilai masih lebih sehat dibandingkan periode sebelumnya.

"Dengan 1,6 persen defisit current account itu sebenarnya kalau kita bandingkan jauh lebih kecil dibandingkan dengan 3,3 persen atau 4 persen current account deficit kita pada saat 2013-2014 sebelum COVID. Artinya sebenarnya secara fundamental, supply-demand Rupiah itu seharusnya tidak di level sekarang. Mostly itu digerakkan oleh sentimen,” jelasnya.

Selain faktor domestik, pelemahan rupiah juga dipengaruhi ketidakpastian global. Faiz menyebut dinamika geopolitik, pemilu sela Amerika Serikat atau US midterm election, hingga pergerakan harga minyak turut memengaruhi arus modal asing.

Kondisi tersebut membuat aliran dana portofolio asing belum sepenuhnya kembali ke level sebelum pandemi.

“Artinya memang banyak sekali sentimen-sentimen yang mendorong outflows itu untuk keluar. Geopolitik kemudian uncertainty US midterm election, harga minyak, dan segala macam. Nah, ini yang kita harus perhatikan apakah sentimennya akan membaik atau tidak,” bebernya.

Meski demikian, Faiz memperkirakan rata-rata nilai tukar rupiah sepanjang 2027 berada di kisaran Rp17.780 per dolar AS. Proyeksi tersebut menunjukkan rupiah masih berpeluang bergerak di bawah level Rp18.000 per dolar AS secara rata-rata tahunan.

Namun, tekanan diperkirakan masih muncul pada beberapa periode, terutama menjelang kuartal II 2027 ketika ketidakpastian terkait keputusan MSCI meningkat.

"Jadi overall, rupiah relatif menguat di tahun depan, tapi ada beberapa window, itu pressure-nya akan di-justified," pungkasnya.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com