- Ketua GAPMMI Adhi S Lukman menyatakan pelemahan rupiah dan lonjakan biaya logistik internasional menekan operasional industri makanan dan minuman.
- Ia berharap pemerintah dan Bank Indonesia menjaga stabilitas rupiah.
- Pelaku industri menyiasati tekanan biaya pengiriman dan bahan baku impor dengan mencari jalur alternatif serta pemasok dari negara lain.
Suara.com - Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi S Lukman mengatakan lemahnya nilai tukar rupiah dan melonjkanya biaya logistrik internasional sangat mengkhawatirkan industri karena menekan biaya operasional.
Ia mengatakan pelemahan rupiah membuat biaya pengadaan bahan baku dari luar negeri semakin mengkhawatirkan bagi pelaku usaha.
Adhi menilai kepastian nilai tukar menjadi kebutuhan penting bagi industri agar perusahaan dapat memperhitungkan biaya produksi dan menjalankan kegiatan usaha. Karena itu, GAPMMI berharap pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) menjaga stabilitas rupiah.
"Ya memang rupiah ini mengkhawatirkan ya, karena kita tidak tahu sampai seberapa. Ini yang paling penting, karena bagi industri kepastian ini menjadi penting gitu ya. Oleh sebab itu, kita sangat berharap pemerintah bisa menjaga stabilitas, dan bersama BI ya untuk menjaga stabilitas," kata Adhi di Bogor, Jawa Barat, Kamis (7/11/2026).
Selain itu, lanjut Adhi, industri makanan dan minuman (mamin) juga menghadapi tekanan kenaikan biaya logistik internasional. Ongkos pengiriman satu kontainer ke sejumlah negara tujuan bahkan mengalami lonjakan hingga tiga kali lipat dibandingkan sebelumnya.
Adhi mengungkapkan, biaya pengiriman kontainer ke Australia yang biasanya sekitar 1.000 dolar AS kini meningkat menjadi 3.000 dolar AS. Sementara itu, ongkos pengiriman ke China naik dari 200-300 dolar AS menjadi 700-800 dolar AS.
"Kemarin kami diskusi dengan beberapa buyer dari Australia, sekarang ke Australia yang biasanya cuma $1.000, sekarang $3.000 per kontainer, seperti itu. Yang ke China biasanya cuma 200–300, sekarang bisa 700–800, seperti itu. Kalau ke yang jauh-jauh, ke Timur Tengah lebih berat lagi," kata Adhi.
Kenaikan ongkos logistik tersebut menambah beban industri yang masih bergantung pada bahan baku impor.
Di tengah tekanan tersebut, pelaku industri mulai mencari alternatif jalur pengiriman dan negara pemasok bahan baku untuk mengantisipasi hambatan rantai pasok global. Langkah ini diperlukan agar kegiatan produksi dan distribusi tetap berjalan meskipun biaya pengiriman meningkat.
Adhi mengatakan, pemenuhan bahan baku dari dalam negeri sebenarnya menjadi pilihan terbaik agar industri tidak terlalu bergantung pada pasokan luar negeri. Namun, upaya tersebut membutuhkan strategi jangka panjang karena tidak semua kebutuhan bahan baku industri makanan dan minuman dapat dipenuhi dari produksi domestik.
"Ya, tentunya kita mencari alternatif ya. Alternatif termasuk misalnya ke Timur Tengah itu alternatif logistik. Ya, kemudian alternatif bahan baku yang dari beberapa negara yang terhambat dan lain sebagainya," ujar dia.
Meski menghadapi berbagai tekanan, Adhi menyebut permintaan produk makanan dan minuman masih cukup baik. Namun, kenaikan biaya logistik dan harga bahan baku berpotensi menghambat kinerja industri apabila tidak segera diantisipasi.
Ia pun berharap pemerintah dapat memperkuat ketersediaan bahan baku dalam negeri agar industri makanan dan minuman tidak terus bergantung pada pasokan impor.
"Sebetulnya paling bagus kalau dalam negeri bisa memenuhi. Tapi ini kan perlu strategi jangka panjang," tuturnya.