/
Rabu, 17 Agustus 2022 | 20:20 WIB
Justin Fashanu | Daily Mail

Meski sudah menjadi pemain tenar dengan skillnya yang tak biasa, perlakuan diskriminatif tetap dirasakan oleh Fashanu. Setelah memutuskan pindah dari Norwich, Fashanu sempat membela Nottingham Forest, Southampton, Brighton & Hove Albion, Manchester City, hingga Newcastle United. 

Karier Fashanu sayangnya tak beranjak lebih baik. Sejumlah pihak mengklaim bahwa hal tersebut juga karena faktor perlakuan diskriminatif kepada Fashanu, ditambah pemain kelahiran 19 Februari 1961 tersebut tidak memiliki mental kuat seperti John Barnes, pemain kulit hitam kelahiran Jamaika yang membela Liverpool di era yang sama dengan Fashanu. 

Fashanu juga sempat hijrah ke Amerika Serikat usai pengakuannya menjadi gay. Ia tercatat membela Toronto Blizzard pada 1991. Keputusan ke Amerika Serikat diambil Fashanu agar publik Inggris bisa melupakan pengakuannya yang kontroversial tersebut dan akan kembali setelah semua sudah tenang. 

Sayang hal tersebut tak pernah terjadi. Fashanu bahkan sampai harus keluar dari Inggris lagi pada 1997 menuju Miramar Rangers, klub sepakbola di Selandia Baru. Setahun membela Miramar dengan mencetak 12 gol dari 18 caps, Fashanu memutuskan kembali ke Inggris. Ia tak lagi bermain bola di negaranya namun publik tetap mencapnya sebagai seseorang yang hina. 

Pada pagi haru, 03 Mei 1998, Justin Fashanu mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Ia menggantung dirinya di garasi bekas di kawasan Shoreditch, London Timur, sekitar satu mil dari tempat kelahiranya, Hackney. 

Satu jam sebelum menggantung diri, Fashanu menghabiskan waktunya di Chariots Roman Spa, sebuah sauna untuk kaum gay di kawasan itu. Di kantong celananya, pihak aparat keamanan menemukan pesan terakhir dirinya. "Saya berharap Tuhan yang saya cintai menyambut saya pulang," tulis Fashanu. 

Load More