Sudah jadi rahasia umum bahwa pemain yang hijrah dari Juventus ke Fiorentian atau sebaliknya akan jadi musuh fans, hal itu tak lepas dari kasus kepindahan Roberto Baggio dari Fiorentina ke Juventus pada 1990.
Meski dianggap pengkhianat oleh fans Juventus, Di Livio mengajarkan arti kesetiaan justru saat ia bermain untuk Fiorentina.
Bergabung ke Fiorentina pada 1999, sukses mempersembahkan trofi Copa Italia pada musim berikutnya. Sayang setelah raihan trofi tersebut, Di Livio mendapat kenyataan pahit.
Seperti dikutip dari laporan Football-Italia.net, Fiorentina divonis bangkrut karena bobrok dan korupnya manajemen klub. La Viola harus menerima hukuman turun ke kasta keempat Liga Italia atau Serie C2.
Sebagai pemain jebolan Piala Dunia dan mengantarkan Italia runner up Euro 2000, Di Livio bisa saja hijrah ke klub lain. Memasuki masa senja dalam kariernya tentu tidak elok jika harus bermain di kompetisi kasta terendah, apalagi rekan-rekan satu angkatannya lebih memilih untuk bermain di klub kaya raya di Qatar, atau negara Timur Tengah lain di sisa masa kariernya.
Namun Di Livio tak bergeming, ia memutuskan untuk tetap membela Fiorentina. Bahkan saat Franco Baresi mengajaknya untuk bermain di Liga Inggris bersama Fulham, Di Livio menolaknya.
"Saya memutuskan bertahan di sini untuk membantu Fiorentina kembali ke Serie A" kata Di Livio dengan penuh keyakinan.
Keputusannya tersebut ternyata mendapat dukungan dari banyak pihak, termasuk dari sang istri dan anaknya. Sang istri mendukung keputusan sang suami dan berada di sampingnya meski dengan resiko bahwa sang suami akan mendapat gaji kecil, tak banyak mendapat sorotan media, dan membela klub bermasalah.
Dukungan kepada Di Livio pun mengalir dari sejumlah mantan pemain Fiorentina lain seperti Francesco Toldo, Rui Costa, atau Gabriel Batistuta. Di Livio dianggap pahlawan bagi publik Firenze. Kehadiran Di Livio tentu jadi energi besar bagi para skuat Fiorentina yang kala itu hanya diisi pemain muda dan pemain tak tenar.
Baca Juga: Cara Bikin Huruf WhatsApp Tebal, Miring, Bergaris, Gampang Banget!
Pernyataan penolakan Di Livio kepada Baresi akhirnya berbuah manis. Semusim di Serie C2, ia sukses mengantarkan Fiorentina ke Serie B, setelah itu akhirnya Fiorentina berhasil promosi ke Serie A pada musim 2004. Sebuah kesetiaan dan loyalitas yang terbayar manis.
Setelah berhasil membawa Fiorentina kembali mentas di Serie A, Di Livio memutuskan untuk gantung sepatu pada 2005. Ia pun mendapat tempat tersendiri bagi publik Firenze, Di Livio menjadi legenda Si Ungu.
Kesetiaan di sepakbola memang cukup sering kita temui dari perjalanan karier seorang pemain. Namun kasus kesetiaan Di Livio sangat jarang di temui di era sepakbola industri, mungkin hanya seorang Alessandro Lucarelli di Parma yang bisa disejajarkan dengan Di Livio untuk urusan kesetiaan untuk era sekarang.
Sejumlah pemain akan memutuskan untuk pindah ke klub lain dengan iming-iming uang dan prestasi lebih mentereng di tempat baru. Tidak ada yang salah dengan keputusan itu, dan itu sangat lumrah.
Meski begitu dari kisah Di Livio, saya pada akhirnya paham bahwa kesetiaan, loyalitas, dan kemauan untuk berproses jadi hal yang tak kalah penting dengan uang dan prestasi mentereng.
Berita Terkait
-
Massimiliano Allegri: Juventus Siap Tempur di Markas PSG
-
Soal Paul Pogba Kirim Santet, Kylian Mbappe: Saya Lebih Percaya Kata-kata Rekan Setim
-
Christophe Galtier: Juventus Belum Terkalahkan di Serie A
-
Awal Laga Juventus Disuguhi Laga Berat Hadapi Trio Penyerang PSG: Sangat Kuat
-
Jadwal Sepakbola Hari Ini, Selasa 6 September 2022, Lengkap Link Live Streaming: Juventus, Chelsea, Man City
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Menyoal PHK 178 Buruh Garmen di Cimahi, Dedi Mulyadi Minta Pekerja Fleksibel Ikuti Peta Industri
-
Kronologi Misteri Jasad Mutilasi dalam Karung di Pancoran Mas Depok
-
Final Piala Presiden 2026 Antara Persib vs Persebaya Digelar Tanpa Penonton, Ini Alasannya
-
Potongan Kaki Masih Dicari, Polisi Buru Motif Pelaku Mutilasi Pria Tanpa Identitas di Depok
-
Lawan Kejagung dan Polri, Sidang Perdana Praperadilan Febrie Digelar Usai HUT RI
-
Waktu Istirahat Minim Jelang Final, Pelatih Persib: Mari Kita Lihat Siapa yang Bisa Bertahan
-
Gubernur Andra Soni Sebut Gedung Baru DPD RI Rp4,1 M Kebutuhan Daerah, Bukan Senator
-
Pelaku Mutilasi Depok Semula Korban? Polisi Diminta Uji Klaim Percobaan Pelecehan
-
Soroti Kasus 46 Juta Obat Ilegal di Tangsel, DPR: Bongkar Mata Rantai Distribusi Sampai ke Akar!
-
BRI Perkuat Sinergi dengan Ditjenpas DIY Melalui Optimalisasi Layanan Pemasyarakatan