News / Internasional
Senin, 15 Juni 2026 | 14:19 WIB
Ilustrasi Potret Tumpukan Sampah Plastik (Pexels/Magda Ehlers)

Suara.com - Gunungan sampah plastik masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Di tengah produksi plastik yang terus meningkat, kemampuan sistem pengelolaan sampah untuk mengolah kembali material tersebut masih belum mampu mengejar laju konsumsi.

Data yang dikutip dari Indonesia.go.id menunjukkan jutaan ton sampah plastik dihasilkan setiap tahun di Indonesia. Sebagian berakhir di tempat pembuangan akhir, sementara sebagian lainnya mencemari sungai dan laut atau hanya dapat didaur ulang menjadi produk dengan kualitas yang lebih rendah.

Di tengah situasi tersebut, sekelompok ilmuwan dari Northwestern University memperkenalkan pendekatan baru yang berupaya mengubah cara plastik didaur ulang: lebih sederhana, lebih hemat energi, dan menghasilkan lebih sedikit limbah.

Mengurai Plastik dengan Bantuan Udara

Ilustrasi Sampah plastik di Dasar Laut (freepik/freepik)

Penelitian tersebut berfokus pada plastik jenis polyethylene terephthalate (PET), material yang umum digunakan untuk botol minuman, kemasan makanan, hingga berbagai produk konsumsi sehari-hari.

Alih-alih menggunakan proses daur ulang konvensional yang bergantung pada suhu tinggi dan pelarut kimia, tim peneliti mengembangkan metode yang memanfaatkan katalis berbahan molibdenum dan karbon aktif.

Kedua material tersebut digunakan untuk memutus ikatan kimia pada plastik.

Yang membuat pendekatan ini berbeda adalah tahap berikutnya: plastik yang telah diproses cukup dipaparkan ke udara sehingga kelembapan alami membantu mengubah material tersebut kembali menjadi monomer—komponen dasar pembentuk plastik.

Dalam waktu sekitar empat jam, metode ini dilaporkan mampu memulihkan hingga 94 persen asam tereftalat (TPA), salah satu bahan utama yang digunakan untuk membuat plastik PET baru.

Baca Juga: Di Tengah Kenaikan Harga BBM, Bisakah Sampah Plastik Menjadi Sumber Energi Alternatif?

Mengapa Pendekatan Ini Dianggap Berbeda?

Selama ini, daur ulang plastik sering menghadapi keterbatasan. Banyak metode membutuhkan energi besar dan penggunaan bahan kimia tambahan. Dalam beberapa kasus, hasil akhirnya juga hanya menghasilkan produk dengan kualitas lebih rendah dibanding material awal—kondisi yang dikenal sebagai downcycling.

Pendekatan baru ini mencoba mengubah pola tersebut. Salah satu penulis penelitian, Yosi Kratish, mengatakan penggunaan kelembapan udara menjadi bagian penting karena dapat membuat proses berlangsung lebih bersih.

“Yang sangat menarik dari penelitian kami adalah kami memanfaatkan kelembapan di udara untuk menguraikan plastik sehingga menghasilkan proses yang sangat bersih dan selektif. Dengan memulihkan monomer sebagai bahan dasar PET, kami dapat mendaur ulang atau bahkan meningkatkan nilainya menjadi material yang lebih berharga,” ujarnya.

Penulis utama lainnya, Naveen Malik, menilai metode ini juga lebih mendekati kebutuhan penerapan di dunia nyata.

“Tidak seperti metode daur ulang tradisional yang sering menghasilkan produk samping berbahaya dan membutuhkan energi maupun bahan kimia dalam jumlah besar, pendekatan kami menggunakan proses tanpa pelarut yang hanya mengandalkan sedikit kelembapan dari udara sekitar,” katanya.

Penulis: Natasha Suhendra

Load More