Suara.com - Gunungan sampah plastik masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Di tengah produksi plastik yang terus meningkat, kemampuan sistem pengelolaan sampah untuk mengolah kembali material tersebut masih belum mampu mengejar laju konsumsi.
Data yang dikutip dari Indonesia.go.id menunjukkan jutaan ton sampah plastik dihasilkan setiap tahun di Indonesia. Sebagian berakhir di tempat pembuangan akhir, sementara sebagian lainnya mencemari sungai dan laut atau hanya dapat didaur ulang menjadi produk dengan kualitas yang lebih rendah.
Di tengah situasi tersebut, sekelompok ilmuwan dari Northwestern University memperkenalkan pendekatan baru yang berupaya mengubah cara plastik didaur ulang: lebih sederhana, lebih hemat energi, dan menghasilkan lebih sedikit limbah.
Mengurai Plastik dengan Bantuan Udara
Penelitian tersebut berfokus pada plastik jenis polyethylene terephthalate (PET), material yang umum digunakan untuk botol minuman, kemasan makanan, hingga berbagai produk konsumsi sehari-hari.
Alih-alih menggunakan proses daur ulang konvensional yang bergantung pada suhu tinggi dan pelarut kimia, tim peneliti mengembangkan metode yang memanfaatkan katalis berbahan molibdenum dan karbon aktif.
Kedua material tersebut digunakan untuk memutus ikatan kimia pada plastik.
Yang membuat pendekatan ini berbeda adalah tahap berikutnya: plastik yang telah diproses cukup dipaparkan ke udara sehingga kelembapan alami membantu mengubah material tersebut kembali menjadi monomer—komponen dasar pembentuk plastik.
Dalam waktu sekitar empat jam, metode ini dilaporkan mampu memulihkan hingga 94 persen asam tereftalat (TPA), salah satu bahan utama yang digunakan untuk membuat plastik PET baru.
Baca Juga: Di Tengah Kenaikan Harga BBM, Bisakah Sampah Plastik Menjadi Sumber Energi Alternatif?
Mengapa Pendekatan Ini Dianggap Berbeda?
Selama ini, daur ulang plastik sering menghadapi keterbatasan. Banyak metode membutuhkan energi besar dan penggunaan bahan kimia tambahan. Dalam beberapa kasus, hasil akhirnya juga hanya menghasilkan produk dengan kualitas lebih rendah dibanding material awal—kondisi yang dikenal sebagai downcycling.
Pendekatan baru ini mencoba mengubah pola tersebut. Salah satu penulis penelitian, Yosi Kratish, mengatakan penggunaan kelembapan udara menjadi bagian penting karena dapat membuat proses berlangsung lebih bersih.
“Yang sangat menarik dari penelitian kami adalah kami memanfaatkan kelembapan di udara untuk menguraikan plastik sehingga menghasilkan proses yang sangat bersih dan selektif. Dengan memulihkan monomer sebagai bahan dasar PET, kami dapat mendaur ulang atau bahkan meningkatkan nilainya menjadi material yang lebih berharga,” ujarnya.
Penulis utama lainnya, Naveen Malik, menilai metode ini juga lebih mendekati kebutuhan penerapan di dunia nyata.
“Tidak seperti metode daur ulang tradisional yang sering menghasilkan produk samping berbahaya dan membutuhkan energi maupun bahan kimia dalam jumlah besar, pendekatan kami menggunakan proses tanpa pelarut yang hanya mengandalkan sedikit kelembapan dari udara sekitar,” katanya.
Penulis: Natasha Suhendra
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Kaki Masih Pegal Setelah Lari? Ini 5 Sepatu Recovery Run Lokal dengan Review Terbaik
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
Pilihan
-
Anggaran Kunjungan Luar Negeri Prabowo Tembus Rp1,1 T! Lebih Besar dari TKD Satu Kabupaten di NTB
-
Prabowo Bukan Negarawan, Tapi Wisatawan!
-
Aliansi Rakyat Memanggil Kritik Sederet Program Pemerintah, Tuntut Prabowo-Gibran Lengser
-
Hasil Piala Dunia 2026: Hajar Paraguay, Start Sempurna Amerika Serikat
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
Terkini
-
Pengamat Soroti Dominasi 'Geng Solo' di Kabinet Prabowo, Singgung Risiko Vacuum of Power
-
Soal Peluang Kerja WNI di Jerman hingga Perdamaian, Ini Obrolan Prabowo dan Presiden Steinmeier
-
Tak Perlu Dapur Baru! DPR: Libatkan Kantin untuk Makan Gratis Sudah Kami Sarankan Lama
-
Anggaran Kunjungan Luar Negeri Prabowo Tembus Rp1,1 T! Lebih Besar dari TKD Satu Kabupaten di NTB
-
Gempar! 326 Kepala Sekolah di Sulsel Mundur Serentak, DPR Cium Adanya Tekanan
-
SPMB di Jabar Dinilai Kacau, Hampir 60 Persen Siswa Pasti Gagal Masuk Sekolah Negeri
-
Siasat Licik Komplotan Copet di PRJ: Kepung Korban Lengah, Kini Jadi Buruan Polisi
-
'Jaga Wibawa dan Jangan Ngeledek', Pengamat Bandingkan Gaya Pidato Prabowo dengan Putin
-
5 Pemimpin Dunia Sambut Amerika Serikat dan Iran Damai
-
Pangi Syarwi: Kalau Prabowo Berhenti Pidato Dua Minggu, Jangan-jangan Tenang Negara Ini