Suara.com - Presiden UEFA Aleksander Ceferin menegaskan dirinya tak mau lagi mendukung ide menggelar Euro dengan sistem pan-kontinental sebagaimana yang dilangsungkan tahun ini. Dia menganggak hal itu banyak ruginya.
Euro 2020 jadi edisi perdana turnamen sepakbola internasional terakbar di Eropa itu tidak berlangsung dengan tuan rumah tunggal, melainkan digelar di 11 kota dan negara.
Sepanjang turnamen tim-tim peserta dan suporternya harus terbang ke pinggiran benua seperti Baku di Azerbaijan yang diwarnai berbagai kekurangan logistik.
"Jika Anda bertanya kepada saya, saya tidak akan mendukungnya lagi," kata Ceferin kepada BBC Sport sebagaimana dikutip Antara dari Reuters, Sabtu (10/7/2021).
"Saya pikir ini terlalu menantang, dalam arti yang kurang menyenangkan sampai-sampai beberapa tim harus melakukan perjalanan hingga 10 ribu km sedangkan ada tim yang cuma seribu km saja."
"Ini juga tidak adil untuk suporter. Sebagian harus ada di Roma, kemudian beberapa hari berselang terbang 4,5 jam ke Baku."
"Ini sungguh menyulitkan, jelas sebuah ide menarik tapi sulit diterapkan. Saya pikir kami tidak akan melakukannya lagi," ujarnya menambahkan.
Penyelenggaraan Euro 2020 secara pan-kontinental merupakan warisan presiden UEFA pendahulu Ceferin, Michel Platini, yang pada 2012 silam menyebut ajang ini bakal menjadi perayaan romantis untuk memperingati 60 tahun lahirnya turnamen tersebut.
Bahkan setelah tertunda setahun karena pandemi COVID-19, yang sempat memunculkan wacana perubahan format ke satu negara saja, Euro 2020 tetap diselenggarakan di 11 kota dan negara berbeda menimbulkan kerugian nyata bagi beberapa tim peserta.
Baca Juga: Diminta Jadi Lagu Pembuka Final Euro 2020, Simak 5 Fakta Menarik Lagu Butter BTS
Wales misalnya dua kali harus main di Baku sebelum terbang ke Roma menjalani laga terakhir penyisihan grup dan bertolak lagi ke Amsterdam untuk pertandingan 16 besar.
Bek Wales Chris Gunter mengkritik UEFA atas format Euro kali ini setelah negaranya tersingkir, menyebut turnamen itu sebagai "pengaturan lelucon".
"Setiap negara punya suporter di mana saja, (sedangkan Wales tidak) kecuali 350 orang yang melanggar aturan pemerintah serta membobol rekeningnya sendiri untuk bisa hadir mendukung langsung," kata Gunter dalam Instagram pribadinya, @chrisgunter2.
"Kalian dan kami pantas mendapatkan lebih dari sekadar turnamen dengan pengaturan lelucon ini."
Euro 2024 dijadwalkan berlangsung di Jerman setelah negara itu mengalahkan Turki dalam pengajuan tuan rumah, dengan pertandingan dijadwalkan berlangsung di 10 kota.
Berita Terkait
-
Bonucci: Italia vs Inggris Bak Pertarungan Tua Muda
-
Final Euro 2020: Siswa di Inggris Boleh Begadang, Sekolah Masuk Siang
-
Gagal di Euro 2020, Roberto Martinez Tetap Latih Belgia
-
Bjorn Kuipers, Wasit Belanda Pertama Pimpin Laga Final Euro
-
Didier Deschamps Tetap Latih Timnas Prancis di Piala Dunia 2022
Terpopuler
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- Guru Besar UGM Cium Ada Perubahan Sikap yang Tak Biasa Usai Mama Sinta Lapor Polisi soal Pesta Babi
Pilihan
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
-
Prabowo Tabuh Genderang Perang: Kita Lawan Kelompok Anti Tanah Air
-
Prabowo Pidato 1 Juni 2026: Lawan Asing, Waktunya Kembali ke Ekonomi Pancasila
-
Rambah Cempaka: Perempuan yang Bersemayam di Batu Lumpang
-
Jay Idzes Tercoret! Ini Daftar Pemain Timnas Indonesia Hadapi FIFA Matchday
Terkini
-
FIFA Perketat VAR di Piala Dunia 2026, Taktik Bola Mati Ala Inggris Bisa Dianulir
-
Bukan Ronaldo atau Messi, Ini 5 Pencetak Gol Tertua dalam Sejarah Piala Dunia!
-
Calvin Verdonk dan Joey Pelupessy Belum Gabung Timnas Indonesia Jelang vs Oman dan Mozambik
-
Timnas Malaysia U-19 Percaya Diri Tatap Piala AFF U-19 2026, Singapura Jadi Ujian Awal
-
Timnas Haiti ke Piala Dunia 2026, Sepak Bola Jadi Juru Damai di Tengah Krisis Keamanan dan Politik
-
Aturan Baru Piala Dunia 2026: FIFA Sahkan Regulasi Pembatalan Gol Akibat Pelanggaran Bola Mati
-
Arne Slot Tulis Surat Perpisahan untuk Liverpool
-
John Terry Paham Perasaan Gabriel: Saya Pernah di Posisi Itu
-
Respons Melbourne City Usai Mathew Baker Promosi ke Timnas Indonesia Senior
-
James Milner Pensiun di Usia 40 Tahun, Akhiri Karier Legendaris Setelah 24 Musim di Liga Inggris