Suara.com - Berikut deretan pemain yang sempat gagal lolos seleksi Timnas Indonesia, tapi malah berhasil menjalani kariernya dengan bergabung klub luar negeri.
Mendapat panggilan membela tim nasional adalah mimpi para pesepak bola. Tak terkecuali para pesepak bola asal Indonesia.
Untuk menembus tim nasional sendiri, setiap pesepak bola harus menunjukkan kemampuan dan performanya di level klub.
Penampilan konsisten pun nyatanya tak menjamin bahwa seorang pemain bisa berseragam tim nasional. Sebab, para pemain harus menjalani seleksi melawan puluhan hingga ratusan pemain lainnya.
Di tahap ini, seorang pemain harus bersaing dengan para pemain lainnya yang berasal dari seluruh penjuru negeri. Hal ini berlaku baik di tim nasional kelompok umur dan juga tim utama.
Sebagian ada yang berhasil dan dipilih untuk berseragam tim nasional, sebagian lainnya malah harus pulang dengan tangan hampa dan mengubur mimpinya untuk membela negara.
Dalam seleksi untuk Timnas Indonesia, tak terhitung sudah berapa banyak pemain yang gagal berseragam tim nasional karen tak lolos tahap seleksi.
Meski demikian, para pemain ini tak patah semangat dan bahkan ada pula yang berhasil menembus serta bermain di klub luar negeri.
Lantas, siapa sajakah para pemain yang gagal membela Timnas Indonesia namun justru berkarier di luar negeri? Berikut daftarnya.
Baca Juga: Bukan Cuma Sepak Bola, Sandy Walsh Ceritakan Usahanya untuk Mengenal Budaya Indonesia
Terens Puhiri merupakan salah satu pemain yang sempat gagal mengikuti seleksi tim nasional Indonesia, hingga akhirnya ia pun dipanggil ke Timnas di era Shin Tae-yong.
Saat Terens Puhiri gagal dalam seleksi Timnas Indonesia, ia pun tak patah arang dan malah makin bersinar dengan direkrut untuk membela klub Thailand, Port FC.
Kerja keras dan usaha Terens Puhiri demi bisa berseragam Timnas Indonesia pun membuahkan hasil di 2022 ini, di mana ia dipanggil dan dimainkan oleh Shin Tae-yong saat skuat Garuda bersua Timor Leste.
2. Nicholas Pambudi
Nicholas Pambudi merupakan salah satu pemain yang juga pernah mengalami kegagalan bermain untuk Timnas Indonesia usai gagal lolos tahap seleksi.
Berita Terkait
-
Luke Vickery Sah Jadi WNI, Tambahan Amunisi Baru Timnas Indonesia
-
Jelang Piala AFF 2026, Stadion Pakansari Dipoles Rp8 Miliar untuk Timnas Indonesia
-
John Herdman Puas TC Timnas Indonesia di Bali, Singgung Fondasi Jelang Piala AFF 2026
-
Berapa Nilai Transfer Elkan Baggott ke Millwall FC? Tembus Rekor Pribadi!
-
Shin Tae-yong Mulai Revolusi di Persija, Pemain Macan Kemayoran Wajib Tunduk pada Aturan Disiplin
Terpopuler
- Parfum Paling Wangi Rasa Apa? Ini 5 Rekomendasi Aroma yang Populer
- 5 Rekomendasi Lipstik Wardah untuk Usia 40-an yang Elegan, Nyaman di Bibir dan Awet
- 5 HP Samsung Galaxy A Series Termurah: Layar Super AMOLED, 5G hingga NFC
- Pesaing Vario 125 dari Yamaha, Tampang Bernuansa R1M
- 5 Parfum Wanita Terbaik untuk Acara Malam, Wanginya Elegan dan Memikat
Pilihan
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
Terkini
-
Pulau Panggang Krisis BBM, Nelayan Terancam Tak Bisa Melaut
-
Misteri Pembunuhan di Ruangan Tertutup dalam Novel Everything Becomes F
-
Panut Rilis Buku Otobiografi, Tegaskan Komitmen Kawal Benteng Hijau Sumatra
-
Perjalanan Putra Samuel Silitonga Dikenal Jutaan Penonton Berkat Sosok Mumu Warintil
-
Cluster Beverly Hills Resmi Show Unit, Tawarkan Hunian American Classic di Semarang
-
Mau ke Monas Malam Ini? Simak Rekayasa Lalu Lintas dan Titik Parkir Konser Akbar 2026
-
Dua Mahasiswa Diduga Jadikan Instagram Lapak Tembakau Sintetis
-
Pelatih Spanyol Lebih Takut Naik Helikopter Dibanding Lawan Lionel Messi di Final Piala Dunia 2026
-
Kanker pada Perempuan Kini Bisa Ditangani Lebih Personal, Terapi Presisi Bawa Harapan Baru
-
Dari Propaganda hingga Pengawasan: Mengapa 1984 Tetap Relevan di Zaman Digital