Hasilnya spektakuler. Pada 2020, mereka memecahkan rekor dengan menjuarai Eliteserien untuk pertama kalinya.
Tak hanya juara, Glimt melakukannya dengan gaya, 26 kemenangan dari 30 laga dan 103 gol tercipta.
Itu adalah pencapaian yang belum pernah ada di sepak bola Norwegia.
Mereka mengulang sukses pada 2021, lalu kembali juara di 2023 dan 2024.
Empat gelar liga dalam lima tahun menjadikan Glimt kekuatan dominan di Skandinavia.
Kehebatan Glimt tidak hanya berhenti di level domestik.
Mereka juga membuat heboh Eropa. Pada 2021, publik dikejutkan ketika Glimt melumat AS Roma asuhan José Mourinho dengan skor telak 6-1 di ajang UEFA Conference League.
Itu menjadi kekalahan terbesar Roma di kompetisi Eropa non-Champions League.
Dua minggu kemudian, Glimt kembali menahan imbang Roma 2-2 di Stadio Olimpico.
Baca Juga: Victor Boniface Ungkap Alasan Batal Gabung AC Milan
Nama mereka pun mulai diperhitungkan di panggung Eropa.
Petualangan itu berlanjut. Glimt menyingkirkan Celtic, mengalahkan AZ Alkmaar, hingga menembus perempat final Conference League 2022.
Prestasi luar biasa untuk klub yang markasnya, Aspmyra Stadion, hanya berkapasitas 8.300 penonton dan berada di lingkar Arktik.
Kisah dongeng itu berlanjut pada 2025. Glimt menjadi klub Norwegia pertama yang mencapai semifinal Liga Europa.
Mereka menyingkirkan Lazio lewat adu penalti dramatis, sebelum akhirnya dihentikan Tottenham Hotspur.
Meski gagal ke final, capaian itu membuat Glimt mencatat sejarah emas sebagai wakil Skandinavia paling sukses di Eropa dalam era modern.
Glimt bukan hanya soal hasil, tapi juga budaya unik.
Para suporter setia yang dijuluki Toothbrush Army dikenal membawa sikat gigi raksasa berwarna kuning ke stadion—tradisi sejak 1970-an.
Warna kuning cerah menjadi identitas klub, melambangkan energi dan semangat dari utara.
Di dalam lapangan, gaya main Glimt menekankan kolektivitas.
Mereka jarang mengandalkan satu bintang besar, melainkan sistem permainan yang membuat banyak pemain bersinar.
Nama-nama seperti Jens Petter Hauge, Philip Zinckernagel, dan Patrick Berg muncul dari sistem ini dan kemudian dijual ke liga besar Eropa.
Glimt pintar membangun pemain, menjual dengan harga tinggi, lalu menemukan pengganti dari akademi atau pasar murah.
Kontributor: M.Faqih
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 HP Midrange Serasa Flagship 2026: Spesifikasi Premium dan Performa Juara
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 4 Sepatu Nike Tanpa Tali Serbaguna: Nyaman untuk Olahraga, Praktis buat Jalan Santai
- Danantara Sumberdaya Indonesia Batal Beroperasi Penuh, Pemerintah Mundurkan Skema Ekspor SDA di 2027
- Gugurkan Klaim Santriwati 'Hamil Tanpa Hubungan Badan', Polisi Tangkap Kiai di Pekalongan
Pilihan
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
-
Live 'Pocong Jadi-Jadian' Hebohkan Warga Sragen, 3 Pelajar Diamankan Polisi
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
Terkini
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
-
Timnas Iran Minta Visa Khusus di Piala Dunia 2026, Otoritas AS Masih Cuek Bebek
-
Siapkan Rp900 Miliar Manchester United Selangkah Lagi Dapatkan Pengganti Casemiro
-
Bekas Kota Komunis Bersiap Panen Cuan di Final Liga Champions Arsenal vs PSG
-
Final Liga Champions: PSG Menggila di Depan, Arsenal Tak Tergoyahkan di Belakang
-
Daftar Klub Inggris Paling Sukses di Eropa: Liverpool Masih Juara, Arsenal Coba Cetak Sejarah
-
Hanya Ada 8 Klub! Misi Eks Barcelona Bawa PSG Samai Rekor Real Madrid di Liga Champions
-
Berapa Duit yang Dikantongi Juara Liga Champions? Yang Kalah Cuma Dapat Rp1,2 Triliun
-
Arsenal Terancam Tumbang? PSG Punya Keunggulan 7.000 Menit Jelang Final Liga Champions
-
10 Pelatih Legendaris dengan Rekor Ciamik di Piala Dunia, Siapa Paling Berkesan?