-
Gabriel Han Willhoft-King pensiun dini dari sepak bola pada usia 19 tahun dan memilih kuliah hukum di Oxford.
-
Ia mundur karena tekanan mental, cedera, dan kebosanan dari rutinitas sepak bola profesional.
-
Willhoft-King memilih pendidikan demi masa depan jangka panjang yang lebih stabil dibanding karier sepak bola.
Suara.com - Kabar mengejutkan datang dari Gabriel Han Willhoft-King, talenta muda berdarah keturunan yang pernah masuk radar Timnas Indonesia U-17, secara resmi mengumumkan meninggalkan sepak bola meski usianya baru menginjak 19 tahun.
Keputusan drastis ini ia ambil untuk menempuh jalan yang sama sekali berbeda yaitu menjadi mahasiswa hukum di universitas prestisius, Oxford.
Kisah Willhoft-King adalah cerminan dari sisi gelap di balik gemerlapnya sepak bola profesional.
Digadang-gadang sebagai prospek cerah, ia menghabiskan satu dekade di akademi Tottenham Hotspur sebelum direkrut Manchester City U-21 pada 2024.
Dengan latar belakang ayah yang besar di Jakarta dan ibu berdarah China-Amerika, ia sempat menjadi target potensial bagi PSSI.
Namun di balik CV mentereng itu, ia menyimpan pergulatan batin. Puncaknya terjadi saat ia merasakan langsung intensitas latihan tim utama Manchester City di bawah Pep Guardiola.
Alih-alih terinspirasi, pengalaman itu justru menjadi beban mental yang memadamkan gairahnya.
“Tottenham tim bagus, tapi Man City berada di level berbeda. (Kevin) De Bruyne, (Erling) Haaland, mereka pemain terbaik dunia. Tapi melihat Pep, dia sangat bergariah. Energi yang dia bawa, gerakan tangan, teriakannya. Luar biasa,” kenangnya dalam wawancara dengan The Telegraph.
Namun kekaguman itu dengan cepat berubah menjadi kelelahan mental. Sesi latihan yang seharusnya menjadi impian, justru terasa seperti siksaan.
Baca Juga: Setelah Sebulan Bungkam, Gerald Vanenburg Akhirnya Buka Suara Usai Dipecat PSSI
“Saya bukannya bilang lantas merasa kecewa, tapi jadi sadar, latihan bareng tim utama menjadi sesuatu yang anehnya sebenarnya tak dinantikan oleh siapa pun, karena kami hanya melakukan pressing," kata Han Willhoft-King.
"Kami berlari mengejar bola seperti anjing selama setengah jam, satu jam. Bukan pengalaman yang menyenangkan, terutama jika Anda mencoba menekan De Bruyne atau Gundogan atau Foden. Tak bisa mendekati mereka, jadi perasaan capek dan enggan berlatih sudah lebih dulu menguasai sebelum sempat merasa kagum,” imbuhnya.
Perasaan itu diperparah oleh serangkaian cedera dan kebosanan yang ia rasakan dalam rutinitas harian sebagai pesepak bola. Ia merasa hidupnya kurang terstimulasi secara intelektual.
“Saya tidak menikmatinya. Entah apa itu, mungkin karena lingkungannya. Saya juga sering merasa bosan. Latihan, pulang, lalu tidak melakukan apa-apa. Bandingkan dengan hidup saya sekarang, saya bahkan kekurangan waktu dalam sehari,” ungkapnya.
“Saya selalu merasa kurang terstimulus di sepakbola. Jangan salah paham, saya masih mencintainya tapi rasanya saya bisa melakukan lebih banyak hal. Saya seperti membuang-buang waktu setiap hari. Saya membutuhkan sesuatu yang berbeda dan Oxford membuat saya bersemangat,” jelas pemain yang sempat dilirik tim Merah Putih,
Pada akhirnya Willhoft-King membuat keputusan logis berdasarkan visi jangka panjang. Baginya karier sepak bola yang terbatas tidak sepadan dengan kebahagiaan dan prospek masa depan yang bisa ia raih melalui pendidikan.
“Katakanlah saya memiliki karier di League One atau Championship, gajinya mungkin bagus. Tapi apakah saya menikmatinya? Dalam pikiran saya, saya tidak yakin," ujar Han Willhoft-King.
"Paling banter Anda akan bermain selama 10–15 tahun, tapi setelah itu apa? Saya pikir berkuliah akan memberi saya fondasi untuk melakukan sesuatu setidaknya lebih lama dari 10 hingga 15 tahun ke depan. Jadi, ini juga masalah jangka panjang,” pungkasnya.
Tag
Berita Terkait
-
Timur Kapadze atau Heimir Hallgrimsson? PSSI: Kami Sudah Kantongi Nama
-
Cerita Pemain Keturunan Indonesia Han Willhoft-King Jenuh Dilatih Guardiola: Kami seperti Anjing
-
Mengejutkan! Pemain Keturunan Indonesia Han Willhoft-King Resmi Pensiun Dini
-
Rekor Uji Coba Buruk Bayangi Timnas Indonesia U-22 Jelang SEA Games 2025
-
Jadwal Lengkap Timnas Indonesia U-22 di SEA Games 2025: Lawan Singapura Jadi Pembuka
Terpopuler
- Biar Terlihat Muda Pakai Lipstik Warna Apa? Ini 5 Pilihan Shade yang Cocok
- 7 HP 5G Termurah 2026 Rp1 Jutaan, Tawarkan Chip Kencang dan Memori Lega
- 5 HP dengan Kamera Leica Termurah, Kualitas Flagship Harga Ramah di Kantong
- 16 Februari 2026 Bank Libur atau Tidak? Ini Jadwal Operasional BCA hingga BRI
- Terpopuler: 7 HP Layar Super Amoled, Samsung Galaxy A07 5G Rilis di Indonesia
Pilihan
-
Modus Tugas Kursus Terapis, Oknum Presenter TV Diduga Lecehkan Seorang Pria
-
Jangan ke Petak Sembilan Dulu, 7 Spot Perayaan Imlek di Jakarta Lebih Meriah & Anti Mainstream
-
Opsen Pajak Bikin Resah, Beban Baru Pemilik Motor dan Mobil di Jateng
-
Here We Go! Putra Saparua Susul Tijjani Reijnders Main di Premier League
-
Kabar Baik dari Elkan Baggott untuk Timnas Indonesia
Terkini
-
Lupakan Kegagalan Lalu, John Herdman Janjikan Kebahagiaan Untuk 280 Juta Rakyat Indonesia
-
1100 Hari Absen karena Cedera ACL, Eks Barcelona dan AC Milan Mengaku Mendapat Mukjizat
-
Ricuh di Terowongan San Siro Usai Inter vs Juventus, Chiellini Terancam Sanksi
-
Ibu dari Kiper Keturunan Indonesia yang Trial di Atletico Madrid Beri Kode Naturalisasi?
-
Gagal di Werder Bremen, Ethan Kohler Pilih Pulang Kampung, Bakal Main di Super Liga?
-
Dion Markx Optimis Persib Lolos ke 8 Besar ACL 2
-
Harry Kane Cetak 500 Gol, Buru Rekor Robert Lewandowski, Vincent Kompany: Saya Gak Peduli!
-
Hansi Flick Ultimatum Barcelona: Bangkit atau Tenggelam Usai Dibantai Atletico!
-
Potensi Ciro Alves dan 2 Pemain Lagi Sebagai Opsi Penyerang Baru John Herdman
-
Luke Vickyer, Anak Tukang Rumput Lapangan Golf Masih Pikir-pikir Bela Timnas Indonesia