- Curacao resmi menjadi negara paling kecil yang pernah lolos ke putaran final Piala Dunia.
- Tim asuhan Dick Advocaat melaju tanpa kekalahan sepanjang kualifikasi.
- Pada saat bersamaan, proyek Patrick Kluivert di Timnas Indonesia justru berakhir cepat seperti pola karier sebelumnya.
Suara.com - Keajaiban sepak bola kembali tercipta. Curacao, negara kecil di Karibia dengan populasi hanya sekitar 156 ribu jiwa, memastikan satu tempat di Piala Dunia 2026.
Mereka lolos setelah menahan imbang Jamaika 0-0 pada laga terakhir kualifikasi Concacaf—hasil yang sekaligus menempatkan mereka dalam buku sejarah.
Pencapaian ini menjadikan Curacao sebagai negara terkecil yang pernah tampil di putaran final Piala Dunia, mematahkan rekor Islandia yang lebih dulu mencatatkannya pada 2018.
Dengan luas wilayah cuma 444 kilometer persegi, kiprah Curacao kini menjadi salah satu kisah terbesar dalam edisi Piala Dunia mendatang.
Yang membuat perjalanan mereka semakin dramatis: tim ini melaju tanpa sekalipun menelan kekalahan.
Selama fase kualifikasi, Curacao mencatat kemenangan telak 7-0 atas Bermuda dan terus menjaga konsistensi hingga tiket ke Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada resmi mereka genggam.
Curacao dilatih oleh mantan manajer Premier League, Dick Advocaat, yang absen pada laga penentuan melawan Jamaika karena alasan pribadi.
Adapun lawan-lawan mereka di penyisihan grup Piala Dunia 2026 baru akan diketahui saat drawing berlangsung pada 5 Desember di Kennedy Center, Washington D.C.
Curacao Bersinar, Patrick Kluivert Pesakitan
Baca Juga: Daftar 39 Negara yang Sudah Lolos ke Piala Dunia 2026, Banyak Kejutan
Di sisi lain, publik Indonesia justru merasakan ironi. Patrick Kluivert—pelatih yang sempat dua periode menangani Curacao—gagal membawa Timnas Indonesia mencapai target lolos Piala Dunia 2026.
Padahal, Garuda adalah salah satu negara dengan populasi terbesar di dunia, jauh berbeda dengan Curacao yang kini menorehkan sejarah besar.
Kerja sama PSSI dan Kluivert berakhir pada Kamis (16/10) setelah hanya 281 hari atau sekitar sembilan bulan.
Proyek jangka panjang menuju 2027 yang sempat dijanjikan pun berhenti di tengah jalan.
Dengan rata-rata 1,25 poin per pertandingan, perjalanan Timnas Indonesia bersama eks penyerang Barcelona itu dianggap belum cukup memuaskan.
Fakta lain yang mencuat: kegagalan bersama Indonesia bukanlah kasus unik dalam karier kepelatihan Kluivert.
Berita Terkait
Terpopuler
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
- 3 Sepatu Jalan untuk Lansia Paling Nyaman, Hands Free Tak Perlu Membungkuk
- Spanduk Polwan saat Adang Aksi BEMI UI Kena Rujak Netizen: Bu Polwan Salah Bawa Spanduk?
- Kulkas Sharp 2 Pintu Berapa Harganya? Ini 3 Pilihan yang Dingin dan Hemat Listrik Sesuai Review
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
Menteri Jerman Kunjungi Pabrik Bayer di Cimanggis, Soroti Energi Hijau
-
Kronologi Begal Kertapati: 2 Pelaku Bawa Parang, Kejar Korban hingga Berujung Maut
-
Sering Dianggap Cuma Kelelahan, Katup Jantung Bocor Bisa Ditangani Tanpa Operasi Terbuka
-
Korupsi KUR BSI Rp9,5 Miliar di OKI, Uang Pengganti 3 Terdakwa Tembus Rp9 Miliar
-
Buaya Muara 3 Meter Mendadak Muncul di Pantai Pasir Putih Cihara
-
Tenis Meja Indonesia Bidik 8 Besar di Asian Games 2026
-
Gempa NTT, PDIP Kirim Bantuan Khusus untuk Ibu Hamil dan Anak
-
Diisukan Ada OTT KPK, Begini Kondisi Kompleks Pemkab Bogor Malam Ini
-
Yasonna Laoly Dukung Kewarganegaraan Ganda Terbatas Usulan Prabowo: Demi Kepentingan Nasional
-
Purbaya: Pembatasan Subsidi BBM Hemat Anggaran 10 Persen