Bola / Bola Indonesia
Rabu, 26 November 2025 | 18:11 WIB
Erick Thohir (IG Erick Thohir)
Baca 10 detik
  • PSSI Erick Thohir dikritik otoriter dan tidak transparan oleh PSTI.

  • PSTI desak PSSI buka seleksi pelatih dan roadmap sepak bola.

  • Federasi dituntut hentikan 'one man show' demi martabat Timnas.

Suara.com - Paguyuban Suporter Timnas Indonesia (PSTI) kembali melayangkan kritik tajam terhadap pengelolaan organisasi Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI).

Ketua Umum PSTI, Ignatius Indro, menilai proses pemilihan nakhoda baru untuk Timnas Indonesia semakin tidak terarah di bawah kepemimpinan Ketua Umum PSSI saat ini.

Indro menyoroti bahwa gaya kepemimpinan Erick Thohir di PSSI mengarah pada praktik one man show yang sentralistik.

Dia berpendapat bahwa pengambilan keputusan strategis saat ini didominasi oleh satu figur, jauh dari semangat kolektivitas.

Hal ini, menurutnya, berpotensi memicu keputusan-keputusan yang didorong oleh kepentingan visual semata, bukan karena didasari pembangunan sistem yang kokoh.

“PSSI di bawah Erick ini seperti dipegang satu tangan. Tidak ada diskusi, tidak ada transparansi, tidak ada roadmap. Yang ada hanya panggung pencitraan,” tegas Indro.

Indikasi nyata dari tata kelola yang tidak sehat ini terlihat dari seleksi lima kandidat pelatih Timnas yang diselenggarakan tanpa pengumuman terbuka.

Proses seleksi pelatih yang tertutup ini hanyalah satu bukti dari buruknya fondasi kerja PSSI, menurut pandangan sang Ketua PSTI.

“Publik tidak tahu siapa kandidat pelatih, apa kriterianya, dan bagaimana prosesnya," kata Indro dalam keterangannya.

Baca Juga: Timnas Indonesia U-22 Target Cuma Perak, Takut Sama Ambisi Tuan Rumah Thailand?

"Ini bukan sekadar soal teknis—ini bukti bahwa roadmap sepakbola nasional tidak jelas dan tidak pernah dibuka ke publik,” jelasnya.

PSTI secara tegas mendesak PSSI untuk segera membuka keseluruhan proses seleksi pelatih kepala Timnas kepada publik.

Masyarakat berhak mengetahui secara rinci nama kandidat yang ada, kriteria evaluasi yang dipakai, dan dasar logis di balik penentuan keputusan akhir.

Indro menyatakan bahwa keterbukaan bukanlah sebuah opsi, melainkan sebuah kewajiban yang harus dipenuhi oleh federasi.

“Transparansi bukan pilihan—itu kewajiban. Suporter sudah terlalu lama dibutakan oleh proses yang gelap,” tegas Indro.

Sosok pelatih yang dibutuhkan Timnas haruslah figur yang memiliki pandangan jangka panjang yang jelas untuk membangun tim.

Kandidat pelatih wajib memiliki keberanian untuk menolak segala bentuk intervensi yang bersifat politis atau pencitraan.

Pelatih terpilih haruslah mampu menciptakan identitas permainan yang khas dan memiliki rekam jejak dalam pembentukan tim sejak awal.

“Pelatih harus diberi ruang penuh tanpa agenda politik. Timnas bukan alat pencitraan dan bukan panggung ego,” lanjutnya.

PSTI juga menuntut agar federasi menyajikan secara gamblang peta jalan (roadmap) sepak bola nasional.

Roadmap yang komprehensif harus mencakup strategi pembinaan pemain muda dan peningkatan standar kompetisi yang ada.

Selain itu, federasi perlu menguraikan rencana pengembangan kualitas pelatih domestik dan identitas permainan Timnas yang hendak dibangun.

“Bagaimana kita mau menilai kinerja PSSI jika roadmap-nya saja tidak pernah ditunjukkan? Suporter tidak bisa dididik kalau federasinya sendiri tidak jujur menyampaikan arah perjuangan,” katanya.

Indro meminta PSSI menghentikan pola kerja sentralistik yang hanya fokus pada satu orang karena hal itu menghambat laju perkembangan Timnas.

Kerja kolektif adalah kunci kemajuan sepak bola, bukan panggung untuk mengedepankan ego pribadi figur tertentu.

Selama keputusan strategis masih dikontrol oleh satu pihak, Timnas Indonesia akan sulit lepas dari lingkaran pencitraan dan kebijakan reaktif.

“Pola kepemimpinan satu orang seperti ini tidak sehat. Kita butuh federasi, bukan kerajaan kecil. Yang dipertaruhkan adalah martabat sepakbola Indonesia,” ujar Indro.

Hal ini didasari keinginan sederhana para suporter untuk melihat tata kelola yang jujur, arah yang terperinci, dan sistem yang sehat.

“Suporter hanya ingin kejujuran, arah yang jelas, dan tata kelola yang sehat. Bukan permainan satu orang dan bukan janji besar tanpa kerja nyata,” tutupnya.

Load More