Bola / Bola Indonesia
Rabu, 26 November 2025 | 20:40 WIB
Ketua Umum PSSI, Erick Thohir. (pssi.org)
Baca 10 detik
  • PSTI menilai proses seleksi pelatih Timnas Indonesia tidak transparan dan menyalahi prinsip tata kelola.
  • Kepemimpinan Erick Thohir dikritik karena dianggap terlalu terpusat dan sarat pencitraan.
  • PSTI meminta roadmap sepakbola Indonesia dipublikasikan secara utuh dan konsisten.

Suara.com - Paguyuban Suporter Timnas Indonesia (PSTI) kembali mengangkat isu lama yang disebut tak kunjung diperbaiki PSSI: ketiadaan arah jelas dalam tata kelola sepakbola nasional.

Sorotan terbaru muncul setelah proses pemilihan pelatih Timnas Indonesia berlangsung secara tertutup tanpa penjelasan mengenai kandidat maupun kriteria yang digunakan.

Ketua Umum PSTI, Ignatius Indro, menyebut bahwa publik tidak diberi kesempatan mengetahui siapa saja pelatih yang masuk daftar pendek.

Bagi Indro, langkah PSSI ini hanya memperlihatkan bagaimana federasi masih menempatkan proses yang seharusnya transparan sebagai ruang gelap yang tak bisa diakses suporter.

“Publik tidak tahu siapa kandidat pelatih, apa kriterianya, dan bagaimana prosesnya,” ujarnya.

Menurut dia, masalah ini bukan berdiri sendiri. Cara PSSI menjalankan proses seleksi pelatih justru mengungkap lebih besar: absennya peta jalan (roadmap) sepakbola Indonesia yang dapat diikuti dan dievaluasi masyarakat.

“Ini bukan sekadar soal teknis—ini bukti bahwa roadmap sepakbola nasional tidak jelas dan tidak pernah dibuka ke publik,” tambahnya.

Indro menilai gaya kepemimpinan Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, membuat federasi berjalan seperti dikendalikan satu figur saja.

Keputusan penting dinilai tidak melibatkan diskusi luas, sehingga federasi tampak hanya bergerak berdasarkan pertimbangan citra.

Baca Juga: Belajar dari Spanyol, Legenda Timnas Spanyol Ungkap Cara Indonesia Lolos ke Piala Dunia

“PSSI di bawah Erick ini seperti dipegang satu tangan. Tidak ada diskusi, tidak ada transparansi, tidak ada roadmap. Yang ada hanya panggung pencitraan,” tegas Indro.

Ia menambahkan, pola seperti itu justru menjadi hambatan terbesar bagi pembangunan jangka panjang Timnas Indonesia.

Timnas Butuh Pelatih yang Dibiarkan Bekerja

Di sisi lain, PSTI mendorong agar pelatih baru Timnas tidak hanya dipilih dengan benar, tetapi juga diberi kewenangan penuh untuk membangun tim jangka panjang.

Bagi mereka, independensi pelatih dari agenda non-teknis adalah syarat utama.

“Pelatih harus diberi ruang penuh tanpa agenda politik. Timnas bukan alat pencitraan dan bukan panggung ego,” kata Indro.

Karena itu, PSTI ingin PSSI membuka seluruh tahapan seleksi pelatih baru—mulai dari daftar kandidat, kriteria penilaian, hingga alasan akhir penunjukan—agar publik bisa menilai prosesnya berjalan objektif.

“Transparansi bukan pilihan—itu kewajiban. Suporter sudah terlalu lama dibutakan oleh proses yang gelap,” ujarnya.

Roadmap Disebut Hanya Slogan yang Berganti-ganti

PSTI juga mendesak PSSI menunjukkan roadmap pembangunan sepakbola nasional secara nyata, bukan hanya melalui rangkaian slogan yang berubah setiap beberapa bulan.

Indro menilai peta jalan itu penting sebagai dasar mengevaluasi keberhasilan program, mulai dari pembinaan usia dini hingga peningkatan pelatih lokal.

“Bagaimana kita mau menilai kinerja PSSI jika roadmap-nya saja tidak pernah ditunjukkan? Suporter tidak bisa dididik kalau federasinya sendiri tidak jujur menyampaikan arah perjuangan,” ucapnya.

Pola One Man Show Dianggap Mengancam Martabat Sepakbola Indonesia

Kritik PSTI memuncak pada desakan agar PSSI menghentikan gaya kepemimpinan satu arah.

Menurut Indro, federasi harus bekerja secara kolektif, bukan sebagai panggung individu yang memutuskan segalanya.

“Pola kepemimpinan satu orang seperti ini tidak sehat. Kita butuh federasi, bukan kerajaan kecil. Yang dipertaruhkan adalah martabat sepakbola Indonesia,” katanya.

Ia menutup kritiknya dengan seruan agar PSSI kembali pada prinsip dasar tata kelola yang jujur, transparan, dan berpihak pada perkembangan sepakbola Indonesia.

“Suporter hanya ingin kejujuran, arah yang jelas, dan tata kelola yang sehat. Bukan permainan satu orang dan bukan janji besar tanpa kerja nyata,” tutupnya.

Load More