Bola / Liga Inggris
Sabtu, 17 Januari 2026 | 13:44 WIB
Jose Mourinho dan Pep Guardiola [Instagram]
Baca 10 detik
  • Alessandro Costacurta menyebut Carlo Ancelotti dan Pep Guardiola sebagai pelatih terbaik sepanjang sejarah sepak bola.
  • Costacurta mengkritik gaya kepelatihan Jose Mourinho meskipun mengakui statusnya sebagai peraih treble.
  • Legenda Milan ini menyatakan Rafael Leao cenderung bermain individual dan tidak selalu mementingkan tim.

Suara.com - Legenda AC Milan dan Italia, Alessandro Costacurta, melontarkan pandangan tajam soal pelatih dan pemain top Eropa.

Dalam wawancara terbarunya dengan Corriere dello Sport, Costacurta menyebut Carlo Ancelotti dan Pep Guardiola sebagai pelatih terbaik dalam sejarah sepak bola, sekaligus mengkritik gaya kepelatihan Jose Mourinho.

Menurut Costacurta, Ancelotti berada di puncak daftar pelatih terbaik, disusul oleh Guardiola.

Ia juga menempatkan Johan Cruyff dan Arrigo Sacchi sebagai figur revolusioner yang mengubah wajah sepak bola dunia.

“Carlo Ancelotti, lalu Pep Guardiola, adalah yang terbaik,” ujar Costacurta.

Carlo Ancelotti Murka Usai Brasil Dipermalukan Jepang: Kami Harus Belajar Lagi [Tangkap layar X]

“Cruyff tepat di belakang mereka karena mengubah sepak bola. Sacchi menciptakan gempa besar, ia menginspirasi kebangkitan sepak bola, bukan hanya di Italia. Arrigo adalah figur kunci, seperti Leonardo da Vinci.”

Di sisi lain, Costacurta tidak menutupi pandangannya yang kritis terhadap José Mourinho, yang saat ini melatih Benfica.

Meski mengakui prestasi besar Mourinho sebagai pelatih peraih treble, Costacurta menegaskan dirinya tidak pernah menikmati sepak bola yang ditampilkan tim-tim asuhan pelatih asal Portugal tersebut.

“Mourinho tidak pernah benar-benar menarik bagi saya. Saya tidak pernah suka menonton timnya,” katanya.

Baca Juga: Tatap Old Trafford di Derby Manchester, Pep Guardiola Bawa Skuat Lebih Segar dan Bertenaga

“Dia pelatih top, pemenang treble, tapi menurut saya dia tidak pernah meningkatkan kualitas tim yang ia latih.”

Costacurta juga memberikan penilaian jujur terhadap Rafael Leao, winger andalan AC Milan.

Ia mengaku sejak awal bukan penggemar Leao, bahkan ketika sang pemain masih berusia 19 tahun dan disebut-sebut sebagai calon peraih Ballon d’Or.

“Saya tidak pernah menjadi pengagum Leao,” ucapnya.

“Saya bermain dengan banyak pemenang Ballon d’Or. Mereka selalu menempatkan bakatnya untuk tim. Leao itu enigmatik. Saya tidak tahu apakah yang dia lakukan benar-benar untuk tim atau sekadar untuk dirinya sendiri. Dia seorang showman.”

Kontributor: Azka Putra

Load More