- Manchester United mengalahkan Manchester City 2-0 pada debut interim Michael Carrick menggunakan transisi cepat efektif.
- Kemenangan United tersebut ditandai efektivitas serangan balik dan catatan expected goals (xG) City yang sangat rendah.
- Laga krusial berikutnya melawan Arsenal akan menguji konsistensi United melawan tim dengan pertahanan terbaik liga.
Suara.com - Manchester United memasuki ujian krusial setelah tampil luar biasa dengan menaklukkan Manchester City 2-0 pada akhir pekan lalu.
Kemenangan tersebut menjadi debut sempurna bagi Michael Carrick sebagai pelatih interim, namun laga berikutnya melawan Arsenal akan menentukan apakah performa itu awal kebangkitan nyata atau sekadar harapan palsu yang kembali menghantui Setan Merah.
Di Old Trafford, United tampil dominan secara taktik meski kalah penguasaan bola.
Mereka membiarkan City mengontrol permainan, lalu menghukum lewat transisi cepat yang mematikan.
Strategi ini sukses besar, City hanya mencatatkan expected goals (xG) 0,45, sementara United unggul jauh dan bahkan sempat mencetak tiga gol yang dianulir karena offside tipis.
Kemenangan atas City juga mencatatkan salah satu selisih xG terburuk sepanjang era Pep Guardiola di Premier League.
Fakta ini menegaskan betapa efektif dan solidnya United, baik dalam bertahan maupun menyerang.
Transisi Cepat Jadi Senjata Utama United
Carrick menurunkan skema yang memaksimalkan kecepatan dan dinamika lini depan. Pemilihan Bryan Mbeumo sebagai ujung tombak, menggantikan Benjamin Sesko yang tengah on fire, terbukti tepat.
Baca Juga: 5 Fakta Kekalahan Menyakitkan Liverpool dari Bournemouth: Rekor Buruk The Reds Sejak 2021
Gol pembuka United lahir dari serangan balik cepat, melibatkan Bruno Fernandes, Amad Diallo, Patrick Dorgu, dan Mbeumo yang menuntaskannya dengan dingin.
United juga mencatatkan kecepatan progresi bola tercepat mereka dalam satu laga Premier League sejak data dicatat Opta, menegaskan identitas permainan berbasis transisi yang sangat efektif.
Ancaman Masih Membayangi
Meski tampil impresif, keraguan belum sepenuhnya sirna. Dalam beberapa musim terakhir, Manchester United kerap menunjukkan performa besar di laga-laga prestisius, namun gagal menjaga konsistensi setelahnya.
Contoh paling nyata adalah kemenangan atas rival-rival besar yang sering diikuti rentetan hasil buruk.
Statistik juga menunjukkan United justru kerap kesulitan saat menghadapi tim papan bawah, ketika mereka dituntut mendominasi penguasaan bola dan membongkar pertahanan rapat.
Tag
Berita Terkait
-
5 Fakta Kekalahan Menyakitkan Liverpool dari Bournemouth: Rekor Buruk The Reds Sejak 2021
-
Diego Simeone Ngamuk Saat Disinggung Rumor Julian Alvarez Merapat ke Arsenal
-
Virgil van Dijk Salahkan Angin Usai Blunder Fatal di Kekalahan Liverpool dari Bournemouth
-
Hasil dan Klasemen Liga Inggris Terbaru: Manchester City Menang, Liverpool Tersungkur
-
Debut Kai Rooney di Hadapan Michael Carrick, Wayne Rooney Ungkap Rasa Bangga
Terpopuler
- 36 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 22 Januari: Klaim TOTY 115-117, Voucher, dan Gems
- Alur Lengkap Kasus Dugaan Korupsi Dana Hibah Pariwisata Sleman yang Libatkan Eks Bupati Sri Purnomo
- Kenapa Angin Kencang Hari Ini Melanda Sejumlah Wilayah Indonesia? Simak Penjelasan BMKG
- Lula Lahfah Pacar Reza Arap Meninggal Dunia
- 5 Lipstik Ringan dan Tahan Lama untuk Usia 55 Tahun, Warna Natural Anti Menor
Pilihan
-
ESDM: Harga Timah Dunia Melejit ke US$ 51.000 Gara-Gara Keran Selundupan Ditutup
-
300 Perusahaan Batu Bara Belum Kantongi Izin RKAB 2026
-
Harga Emas Bisa Tembus Rp168 Juta
-
Fit and Proper Test BI: Solikin M Juhro Ungkap Alasan Kredit Loyo Meski Purbaya Banjiri Likuiditas
-
Dompet Kelas Menengah Makin Memprihatinkan, Mengapa Kondisi Ekonomi Tak Seindah yang Diucapkan?
Terkini
-
5 Fakta Kekalahan Menyakitkan Liverpool dari Bournemouth: Rekor Buruk The Reds Sejak 2021
-
Pemilu Barcelona Maret 2026 Memanas, Hansi Flick Pasang Badan untuk Joan Laporta
-
Bojan Ungkap Alasan Persib Tak Rekrut Banyak Pemain Baru, Layvin Kurzawa Batal Gabung?
-
Jadwal TV dan Cara Nonton Link Streaming Persib Bandung vs PSBS Biak Malam Ini Pukul 19:00 WIB
-
Skandal Presiden FIFA, Diprotes Harga Tiket Piala Dunia 2026 Kemahalan Malah Hina Suporter Inggris
-
Tiket Final Piala Dunia 2026 Tembus Rp3,6Miliar, Infantino: Di Resale Bisa Lebih Mahal
-
Keras! Wakil Presiden DFB Sebut Boikot Piala Dunia 2026 Bisa Terjadi, Trump dan Infantino Bungkam
-
Bojan Hodak Pastikan Pemain Rp5,65 Miliar Absen Lawan PSBS Biak, Apa Penyebabnya?
-
Diego Simeone Ngamuk Saat Disinggung Rumor Julian Alvarez Merapat ke Arsenal
-
Deco Semringah Barcelona Sukses Salip AC Milan Dapatkan Bek Keturunan Indonesia Juwensley Onstein