Bola / Bola Indonesia
Selasa, 10 Februari 2026 | 13:53 WIB
Rahang Lepas dan Leher Patah, Kiper Keturunan Indonesia Dani van den Heuvel Debut Liga Champions. [Dok. IG Dani van den Heuvel]
Baca 10 detik
  • Kiper keturunan Indonesia, Dani van den Heuvel, menjalani debut di Club Brugge saat Liga Champions 2025/2026.
  • Kariernya hampir hancur akibat kecelakaan mobil serius yang menyebabkan patah hidung, rahang, dan leher beberapa tahun silam.
  • Dani sempat dipertimbangkan untuk proses naturalisasi menjadi pemain Timnas Indonesia oleh PSSI saat dipimpin Mochamad Iriawan.

Suara.com - Kisah luar biasa datang dari kiper keturunan Indonesia, Dani van den Heuvel yang bermain di klub Belgia, Club Brugge.

Cerita Dani ini membuktikan bahwa mimpi bisa tetap hidup meski pernah berada di ambang kehancuran.

Dari kecelakaan mobil mengerikan yang hampir mengakhiri kariernya, Van den Heuvel kini justru merasakan atmosfer Liga Champions.

Musim 2025/2026 menjadi momen penting bagi sang kiper setelah menjalani debut bersama Club Brugge.

Kesempatan itu datang saat dua kiper utama, Simon Mignolet dan Nordin Jackers, mengalami cedera.

Namun sebelum menikmati panggung besar Eropa, Van den Heuvel harus melewati salah satu periode tergelap dalam hidupnya.

Beberapa tahun lalu, Van den Heuvel terlibat kecelakaan mobil serius bersama tiga rekan setim dan seorang staf usai kegiatan karting bersama Timnas Belanda U-19.

Insiden terjadi saat perjalanan menuju hotel ketika sebuah mobil tiba-tiba masuk jalur dan memaksa kendaraan mereka menghindar hingga menabrak rambu lalu lintas.

Van den Heuvel menjadi korban paling parah.

Baca Juga: Liam Rosenior Bongkar Jurus Chelsea Benamkan Napoli di Stadion Diego Maradona

Ia mengalami hidung patah, rahang terlepas, dan leher patah di dua tempat. Bahkan, dokter sempat khawatir ia bisa mengalami kelumpuhan.

“Saya sempat pingsan. Setelah itu saya merangkak keluar dari mobil. Saya langsung yakin rahang saya patah karena terasa benar-benar lepas,” ungkapnya kepada Voetbal International.

Sesaat setelah kecelakaan, ia masih sempat bercanda dengan rekan-rekannya. Namun kenyataan pahit baru terasa ketika berada di rumah sakit.

“Wajah saya dua kali lebih bengkak dari sekarang. Saya bahkan tidak mengenali diri sendiri,” katanya.

Momen paling sulit terjadi saat pertama kali bercermin. Teknologi Face ID di ponselnya bahkan gagal mengenali wajahnya.

“Saat itu saya sadar semuanya nyata. Saya bukan orang yang mudah menangis, tapi waktu itu saya benar-benar tak kuasa menahan air mata.”

Load More