- Mantan Presiden FIFA, Sepp Blatter, mengkritik pembagian laga Piala Dunia 2026 yang didominasi Amerika Serikat.
- Blatter juga mengkritik format 48 tim dan mengaitkan kebijakan turnamen dengan pengaruh politik Presiden Amerika Serikat saat itu.
- Ia secara spesifik menyoroti harga tiket yang mahal dan kebijakan imigrasi negara tuan rumah dianggap merugikan sepak bola.
Suara.com - Mantan Presiden FIFA, Sepp Blatter, melontarkan kritik keras terhadap pembagian laga Piala Dunia 2026.
Ia menilai tuan rumah bersama, Meksiko dan Kanada, hanya mendapat pertandingan recehan, sementara Amerika Serikat mendominasi hampir seluruh laga.
Amerika Serikat akan menjadi tuan rumah 78 dari total 104 pertandingan. Sementara Meksiko dan Kanada masing-masing hanya kebagian sekitar 13 laga.
Blatter menilai pembagian tersebut tidak adil.
“Ini menyedihkan apa yang diberikan kepada Kanada dan Meksiko. Seharusnya mereka mendapat porsi yang kurang lebih setara. Ini tidak membantu perkembangan sepak bola,” tegasnya dilansir dari wdeportes.
Tak hanya itu, pria asal Swiss berusia 89 tahun itu juga mengkritik format baru 48 tim yang akan digunakan di Piala Dunia 2026.
Menurutnya, keputusan tersebut lebih mengutamakan kepentingan komersial ketimbang pengembangan sepak bola.
Blatter juga menyoroti peran Presiden FIFA saat ini, Gianni Infantino. Ia bahkan mengaitkan kebijakan turnamen dengan kedekatan Infantino dan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Menurut Blatter, campur tangan politik dalam urusan Piala Dunia merupakan hal yang keliru.
Baca Juga: 3 Pemain Bintang Rival Timnas Indonesia di FIFA Series 2026 yang Patut Diwaspadai
“Partisipasi Trump dalam urusan Piala Dunia adalah hal terburuk yang terjadi pada FIFA,” ujarnya.
Ia juga mengkritik pemberian penghargaan perdamaian dari FIFA kepada Trump yang dinilai tidak pantas.
Blatter mempertanyakan keputusan menggelar Piala Dunia di negara yang dinilai memiliki kebijakan imigrasi ketat.
“Pada prinsipnya, Piala Dunia tidak seharusnya digelar di negara yang tidak memberikan visa. Ada kebijakan America First yang menyedihkan bagi nilai sosial dan budaya sepak bola,” katanya.
Selain itu, ia juga menyoroti mahalnya harga tiket pertandingan yang disebut bisa mencapai 1.000 dolar AS per laga.
“Seribu dolar untuk satu pertandingan? Itu memalukan. Piala Dunia bukan mesin judi, tetapi sekarang terlihat seperti itu. Yang paling diuntungkan adalah Amerika Serikat, bukan para penonton,” kritik Blatter.
Kontributor: Adam Ali
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- 5 Sepatu Puma yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp200 Ribuan
- 5 Sunscreen Wardah Terlaris di Shopee Mulai Rp30 Ribuan, Ini Kandungan dan Manfaatnya
Pilihan
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
Terkini
-
Luis de la Fuente: Lamine Yamal Harus Terbuka Terima Nasihat dan Jangan Cedera
-
John Herdman Mulai Racik Timnas Indonesia untuk Piala AFF 2026, Thom Haye dan Klok Sudah Gabung TC
-
Tidak Terpilihnya Dean Huijsen di Timnas Spanyol Menuai Tanda Tanya
-
FIFA Rilis Markas 48 Peserta Piala Dunia 2026: Inggris dan Argentina Pilih Kansas, Iran di Tijuana
-
Hidemasa Morita Tinggalkan Sporting CP, Dilirik Klub Premier League
-
Mauricio Souza Pergi, 3 Bintang Persija Tulis Pesan Emosional
-
Kabar Duka, Mantan Pemain Southampton Meninggal Dunia di Usia 21 Tahun
-
Pelatih Klub MLS Terang-terangan Ingin Boyong Robert Lewandowski
-
Son Heung-min Pamit di Piala Dunia 2026, Beban Berat Cetak Sejarah Buat Korea Selatan
-
Arsenal Serius Ingin Boyong Morgan Rogers dari Aston Villa