Bola / Bola Indonesia
Senin, 09 Maret 2026 | 21:05 WIB
Arya Sinulingga (pssi)
Baca 10 detik
  • PSSI mengecam tindakan rasisme yang menimpa pemain di Liga 1 dan kompetisi Asia.

  • Arya Sinulingga menyebut tindakan rasis suporter Indonesia aneh karena orang Asia sering didiskriminasi.

  • Federasi mendesak suporter untuk berhenti menulis komentar jahat demi menjaga sportivitas sepak bola.

Suara.com - Wajah dunia olahraga tanah air kembali ternoda oleh perilaku tidak terpuji dari kalangan oknum suporter.

Berbagai platform digital belakangan ini dipenuhi dengan caci maki bernada rasis yang menyasar para pesepak bola.

Fenomena memprihatinkan ini mendapatkan perhatian serius dari jajaran petinggi federasi sepak bola tertinggi di Indonesia PSSI.

Arya Sinulingga selaku Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI mengungkapkan rasa sedihnya terhadap situasi yang berkembang.

Beliau menilai bahwa tindakan diskriminatif ini telah merusak integritas dan semangat persaudaraan dalam kancah olahraga.

Kejadian paling gres melibatkan penggawa Persebaya Surabaya, Mikael Alfredo Tata, serta pilar pertahanan Persib Bandung, Kakang Rudianto.

Keduanya menjadi sasaran empuk komentar rasis di jagat maya tepat setelah tensi tinggi pertandingan berakhir.

Insiden tersebut pecah setelah duel sengit antara Bajul Ijo melawan Pangeran Biru pada 2 Maret 2026.

Laga pekan lanjutan BRI Super League musim 2025/2026 itu sendiri berakhir dengan skor sama kuat 2-2.

Baca Juga: Siap Hadapi Persik, Federico Barba Ingin Lanjutkan Tren Positif Persib di GBLA

Sayangnya atmosfer kompetisi yang kompetitif justru dicemari oleh perilaku rasisme oleh para pengguna internet.

Ternyata kasus yang menimpa Mikael dan Kakang bukanlah peristiwa pertama yang terjadi pada musim ini.

Sebelumnya, duo kembar andalan Malut United, Yakob Sayuri dan Yance Sayuri, juga mengalami nasib serupa.

Keduanya mendapatkan perlakuan diskriminatif setelah mereka melakoni laga kontra Persib Bandung akhir tahun lalu.

Tepatnya pada 14 Desember 2025, kolom komentar mereka dibanjiri narasi yang sangat tidak pantas didengar.

Daftar panjang ini menunjukkan bahwa literasi digital dan etika suporter masih menjadi pekerjaan rumah besar.

Load More