-
PSSI mengecam keras maraknya aksi rasisme terhadap pemain di media sosial belakangan ini.
-
Arya Sinulingga menyayangkan sikap suporter Indonesia yang melakukan rasisme meski sering menjadi korban.
-
Federasi mengajak suporter dan media untuk membangun kesadaran anti-rasisme demi kesehatan sepak bola.
Suara.com - Kasus rasisme kembali mencoreng sepak bola Indonesia. Dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah pemain menjadi sasaran ujaran rasis, terutama melalui media sosial yang membuat PSSI miris.
Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI, Arya Sinulingga, mengaku prihatin melihat fenomena tersebut kembali muncul di kompetisi sepak bola nasional.
Kasus terbaru menimpa pemain Persebaya Surabaya, Mikael Alfredo Tata, serta bek Persib Bandung, Kakang Rudianto.
Keduanya mendapat serangan rasisme secara daring setelah pertandingan antara Persebaya dan Persib.
Dalam laga lanjutan BRI Super League musim 2025/2026 pada 2 Maret 2026, kedua tim bermain imbang 2-2.
Seusai pertandingan itulah komentar bernada rasis bermunculan di media sosial.
Sebelum kasus ini, insiden serupa juga menimpa pemain kembar Malut United, Yakob Sayuri dan Yance Sayuri.
Mereka menjadi korban rasisme setelah pertandingan melawan Persib Bandung pada 14 Desember 2025.
Tak hanya di kompetisi domestik, kasus rasisme juga sempat menyasar pemain Ratchaburi FC, Denilson Junior, seusai laga leg kedua babak 16 besar AFC Champions League Two 2025/2026 di Bandung pada 18 Februari 2026.
Melihat rentetan kejadian tersebut, Arya menilai praktik rasisme sangat bertentangan dengan nilai dasar sepak bola yang menjunjung tinggi sportivitas dan fair play.
Baca Juga: BRI Super League: Bojan Hondak Waspadai Motivasi Berlipat Persik Kediri
"Itu yang kita cukup sedih. Sebenarnya di dunia ini sepak bola fair play-nya kuat. Sepak bola itu fair play," kata Arya kepada awak media.
"Dan, anti-rasisme itu sudah jadi gerakan di sepak bola. Jadi, sampai kenapa kita terlalu gampang tangan kita untuk menulis ataupun omongan kita terlalu gampang untuk rasis."
"Sebenarnya lucu juga, kita orang Indonesia itu rasis. Karena biasanya justru kita yang terkena rasis, di mana-mana hampir seperti itu," jelas Arya.
Arya juga mempertanyakan mengapa masyarakat Indonesia justru melakukan tindakan rasis, padahal menurutnya bangsa Asia sering menjadi korban diskriminasi di berbagai belahan dunia.
"Di dunia itu orang di Asia itu lebih sering kena rasisme, tapi sekarang kenapa kita jadi rasis. Jadi, itu jadi pertanyaan yang aneh, kok bisa," Arya menjelaskan.
"Jadi, kita harapkan ada kesadaran baru di teman-teman untuk jangan ada ungkapan-ungkapan seperti itu dan sangat tidak sehat untuk sepak bola kita. Jadi, jangan terlalu gampang untuk menulis tanpa berpikir."
"Ini gampang sekali kita menulis tanpa berpikir, ini yang saya harap teman-teman PSSI Pers bisa bantu kita untuk memberikan kesadaran itu," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 10 Simbol Feng Shui di Rumah Old Money yang Dipercaya Membawa Kemakmuran
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Pilihan
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
Terkini
-
Istimewa! Eks Jampidsus Febrie Ditahan Tanpa Rompi Pink dan Tangan Tak Diborgol
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Merawat Koperasi agar Berdaya Melampaui Dinamika Politik
-
55 Karya Desain Dunia dari SaloneSatellite Permanent Collection Dipamerkan di Indonesia
-
Ribuan Orang di Dunia Jadi Korban Phishing Kratos, Pengelola Dibekuk di Pontianak
-
Usia 35 Tahun Sudah Punya 5 SPBU, Herman Deru Ungkap Kebiasaan yang Mengubah Hidupnya
-
Terkuak! Pengemudi Alphard Arogan ke Satpam di Bundaran HI Ternyata Anggota Polda Jabar
-
Napi Kasus Narkoba Pekanbaru Kabur saat Berobat, Petugas Pengawal ke Mana?
-
Hinca Panjaitan Sebut Perkara Kredit Tak Layak Diproses sebagai Korupsi
-
Mahfud MD Bantah Kejagung soal Febrie: Tak Pernah Ada Pelimpahan Kasus Asabri dari Polisi