-
PSSI mengecam tindakan rasisme yang menimpa pemain di Liga 1 dan kompetisi Asia.
-
Arya Sinulingga menyebut tindakan rasis suporter Indonesia aneh karena orang Asia sering didiskriminasi.
-
Federasi mendesak suporter untuk berhenti menulis komentar jahat demi menjaga sportivitas sepak bola.
Bahkan aura negatif rasisme ini juga sempat merembet hingga ke level kompetisi antar klub Asia.
Pemain asing asal klub Thailand, Ratchaburi FC, yakni Denilson Junior, juga tak luput dari serangan.
Momen kelam tersebut terjadi pasca laga leg kedua babak 16 besar ajang AFC Champions League Two.
Pertandingan internasional yang digelar di Bandung pada 18 Februari 2026 itu meninggalkan noda rasisme.
PSSI melihat hal ini sebagai ancaman serius bagi reputasi sepak bola Indonesia di mata internasional.
Arya Sinulingga menegaskan bahwa rasisme adalah musuh utama yang harus diperangi secara bersama-sama dalam olahraga.
"Itu yang kita cukup sedih. Sebenarnya di dunia ini sepak bola fair play-nya kuat. Sepak bola itu fair play," kata Arya kepada awak media.
Tindakan rasisme sangat berlawanan dengan kampanye global yang selama ini didengungkan oleh FIFA dan federasi.
"Dan, anti-rasisme itu sudah jadi gerakan di sepak bola. Jadi, sampai kenapa kita terlalu gampang tangan kita untuk menulis ataupun omongan kita terlalu gampang untuk rasis."
Baca Juga: Siap Hadapi Persik, Federico Barba Ingin Lanjutkan Tren Positif Persib di GBLA
Pihak federasi menyayangkan mengapa publik begitu mudah melontarkan kata-kata yang menyakitkan tanpa mempertimbangkan dampaknya.
Ada sebuah ironi besar yang disoroti oleh Arya mengenai posisi masyarakat Indonesia dalam strata sosial global.
"Sebenarnya lucu juga, kita orang Indonesia itu rasis. Karena biasanya justru kita yang terkena rasis, di mana-mana hampir seperti itu," jelas Arya.
Beliau merasa heran karena penduduk Asia biasanya adalah kelompok yang paling sering menjadi korban diskriminasi.
"Di dunia itu orang di Asia itu lebih sering kena rasisme, tapi sekarang kenapa kita jadi rasis. Jadi, itu jadi pertanyaan yang aneh, kok bisa," Arya menjelaskan.
Ketidaklogisan perilaku ini menunjukkan adanya degradasi moral dan pemahaman dalam memberikan dukungan kepada klub.
Federasi berharap seluruh elemen pecinta sepak bola tanah air segera menyadari kesalahan fatal ini.
"Jadi, kita harapkan ada kesadaran baru di teman-teman untuk jangan ada ungkapan-ungkapan seperti itu dan sangat tidak sehat untuk sepak bola kita. Jadi, jangan terlalu gampang untuk menulis tanpa berpikir."
Upaya membangun sepak bola yang sehat tidak hanya dilakukan di lapangan, tapi juga di ruang siber.
Dukungan dari media dan komunitas suporter sangat krusial untuk mengedukasi masyarakat luas tentang bahaya rasisme.
"Ini gampang sekali kita menulis tanpa berpikir, ini yang saya harap teman-masing PSSI Pers bisa bantu kita untuk memberikan kesadaran itu," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 10 Simbol Feng Shui di Rumah Old Money yang Dipercaya Membawa Kemakmuran
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Pilihan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
Terkini
-
Juminten Edan: Suguhkan Kisah Duka dan Trauma dalam Balutan Misteri Gaib!
-
Diancam Pecat! Satpam Fiktor Dipaksa Sujud dan Kayuh Sepeda Terbalik oleh Penumpang Alphard
-
Sinopsis Welcome to the Jungle, Film Terbaru Akshay Kumar dan Disha Patani
-
Bukan Sekadar Tipis, Ini 3 Inovasi Kunci Galaxy Z Fold8 Ultra yang Menetapkan Standar Baru HP Lipat
-
Iran Ogah Gencatan Senjata dengan Amerika Kalau yang Ngomong 'Orang Ketiga' Ini
-
Universitas Republik Indonesia dan Ironi Kesejahteraan Tenaga Pendidik
-
Menggantung Nyawa di Wadah Ikan: Kisah Nelayan Situbondo Terombang-ambing 48 Jam di Laut Lepas
-
Seperti Biasa Investor Ambil Cuan di Akhir Pekan, IHSG Berakhir Ambruk ke 6.100
-
Kajati Sumsel Berganti, Siapa yang Kini Memimpin Kejati Usai Ketut Sumedana ke BGN?
-
Jangan Bandel! SPPG Makan Bergizi Gratis yang Tak Sesuai Standar Siap-siap Ditutup