Bola / Bola Indonesia
Jum'at, 20 Maret 2026 | 06:05 WIB
Mantan pelatih Timnas Indonesia, Ivan Kolev bicara soal naturalisasi yang banyak di skuad Garuda. [Suara.com/Adie Prasetyo]
Baca 10 detik
  • Mantan pelatih Timnas Indonesia Ivan Kolev mengkritik masifnya naturalisasi pemain asing tanpa darah keturunan dalam sepak bola Indonesia saat ini.
  • Kolev menyoroti bahwa dominasi pemain naturalisasi di klub dan tim nasional belum memberikan hasil sesuai harapan publik.
  • Ia juga mengkritik minimnya kepercayaan terhadap pelatih lokal, karena dianggap otoritasnya tidak sebesar pelatih asing.

Suara.com - Mantan pelatih Timnas Indonesia, Ivan Kolev memberikan pandangan tajamnya mengenai kondisi sepak bola tanah air saat ini.

Dalam sebuah wawancara dengan media Bulgaria jelang partisipasi negaranya di ajang FIFA Series 2026, Kolev tak segan mengkritik dua fenomena yang menurutnya menjadi sorotan yaitu masifnya naturalisasi pemain asing dan minimnya kepercayaan pada pelatih lokal.

Wawancara ini dilakukan oleh Darik Radio dan Dsport mengingat Bulgaria akan segera berlaga di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) pada 27-30 Maret 2026, bersama Timnas Indonesia, Kepulauan Solomon, dan St Kitts and Nevis.

Ivan Kolev menyoroti perbedaan drastis antara eranya menangani Timnas Indonesia dalam dua periode dengan kondisi sekarang, terutama soal kebijakan pemain.

Ia secara spesifik menentang naturalisasi pemain asing yang tidak memiliki darah keturunan.

"Perbandingan dengan masa ketika saya masih di sana sulit. Pada masa saya, atas desakan saya, ketika saya berada di tim nasional, saya sangat mengutamakan pemain lokal dan menentang naturalisasi terlalu banyak pemain asing," ujar Kolev.

Ia melihat tren tersebut kini sudah menjamur baik di level klub maupun tim nasional, namun ia meragukan efektivitasnya dalam mendongkrak prestasi.

"Sekarang saya melihat ada 5-6 pemain asing di klub. Tim nasional juga dipenuhi pemain asing," jelas Kolev.

"Di sana mereka menganggap itu bermanfaat bagi mereka. Namun, hasilnya tidak sesuai dengan harapan masyarakat Indonesia," kata arsitek berusia 68 tahun tersebut.

Baca Juga: Jelang FIFA Series 2026, Stadion GBK Disidak Persiapannya

Tak hanya soal pemain, Kolev juga mengkritik kebiasaan sepak bola Indonesia yang dinilainya lebih memercayai juru taktik asing ketimbang memberi kesempatan pada pelatih lokal untuk berkembang.

"Mereka mencari pelatih yang memiliki otoritas lebih besar," tutur Kolev.

"Mungkin pelatih lokal dianggap tidak cukup berwibawa, yang tentu saja merupakan kesalahan, tetapi itulah penilaian mereka," ucapnya lagi.

Kritik Kolev memiliki bobot tersendiri mengingat rekam jejaknya yang sangat panjang di Indonesia.

Selain dua kali menukangi skuad Garuda, ia pernah memimpin Persija Jakarta, Mitra Kukar, Persipura Jayapura, Sriwijaya FC, hingga PS TNI.

Load More