Bola / Bola Indonesia
Selasa, 14 April 2026 | 13:32 WIB
Timnas Indonesia. (Instagram/@timnas.indonesia
Baca 10 detik
  • Media Vietnam menyoroti kritik pengamat Slovenia, Jernel Kamensek, yang menilai Indonesia dan Thailand belum banyak melahirkan pemain bertalenta luar biasa.
  • Kamensek mencontohkan Jan Oblak dan Benjamin Sesko yang sukses berkat sistem pembinaan usia muda terstruktur, dan menyoroti kiprah Marselino serta Egy.
  • Sang pengamat menyarankan negara ASEAN untuk memberikan dukungan finansial penuh agar pemain muda tidak takut berkarier dan berlatih di luar negeri.

Suara.com - Sepak bola Asia Tenggara kembali menjadi sorotan tajam setelah Media Vietnam mengutip pernyataan kritis dari seorang Pengamat Sepak Bola asal Slovenia, Jernel Kamensek. 

Pakar Eropa tersebut secara terang-terangan menyebut bahwa Timnas Indonesia dan Thailand masih belum mampu melahirkan banyak pemain berkualitas di kancah dunia.

Pernyataan tajam tersebut diutarakan oleh Jernel Kamensek dan dipublikasikan secara luas oleh media ternama negara Vietnam, VNExpress.

Timnas Indonesia berfoto bersama sebelum pertandingan penyisihan grup A ASEAN U-17 Boys Championship atau AFF U-17 di Stadion Gelora Joko Samudro, Gresik, Jawa Timur, Senin (13/4/2026). [ANTARA FOTO/Rizal Hanafi/sgd]

Ia menyoroti lambatnya perkembangan talenta muda di kawasan Asia Tenggara jika dibandingkan dengan standar tinggi sepak bola Eropa.

Dalam keterangannya, pengamat sepak bola ini sebenarnya mengakui keterbatasannya dalam memahami sistem akar rumput di kawasan ASEAN secara mendalam.

“Sejujurnya, saya tidak terlalu mengenal sistem pembinaan usia muda di Thailand maupun Indonesia,” ujar Jernel Kamensek, dikutip dari VNExpress.

Meski demikian, ia menggunakan kacamata hasil akhir untuk menilai efektivitas program regenerasi di kedua negara raksasa Asia Tenggara tersebut.

“Namun, Timnas Indonesia dan Thailand belum banyak menghasilkan pemain yang benar-benar bertalenta luar biasa,” lanjut Kamensek.

Bandingkan dengan Bintang Kelas Dunia Asal Slovenia

Baca Juga: Bantai Timor Leste 4-0, Kurniawan Dwi Yulianto Soroti Kelemahan Timnas Indonesia U-17

Kritik tersebut sengaja ia lontarkan untuk menyoroti betapa krusialnya membangun sistem pembinaan jangka panjang yang kuat dan terstruktur.

Ia lantas membandingkan lambatnya kemunculan bintang Asia Tenggara dengan sistem regenerasi atlet yang berjalan mulus di negara asalnya, Slovenia.

Kamensek mengambil contoh nyata dari perjalanan karier kiper andalan Atletico Madrid, Jan Oblak, dan striker tajam RB Leipzig, Benjamin Sesko.

Kedua nama besar tersebut dinilainya merupakan produk asli dari sistem pembinaan remaja yang berjalan dengan sangat terarah.

“Saya mengikuti perkembangan Jan Oblak sejak usia 15 tahun, dan Benjamin Sesko sejak 13 tahun," ungkapnya.

"Mereka adalah pesepakbola kelas dunia yang sudah dikenal sejak remaja,” kata Kamensek menambahkan penjelasannya.

Load More