Bola / Bola Indonesia
Senin, 20 April 2026 | 15:15 WIB
Pelatih Kurniawan Dwi Yulianto bongkar masalah transisi dan serangan balik yang bikin Timnas Indonesia U-17 tersingkir dari fase grup Piala AFF 2026 usai ditahan imbang Vietnam.[Dok. KitaGaruda]
Baca 10 detik
  • Timnas Indonesia U-17 resmi tersingkir dari Piala AFF 2026 setelah bermain imbang 0-0 melawan Vietnam pada laga penentu di Stadion Gelora Delta Sidoarjo.
  • Kurniawan Dwi Yulianto menyoroti lemahnya transisi menyerang dan kurangnya dukungan lini depan sebagai masalah serius yang harus segera dievaluasi.
  • Tim pelatih berencana melakukan perombakan skuad untuk Piala Asia U-17 dengan menyaring 23 pemain terbaik dari total 50 nama, termasuk memantau Matt Baker.

Suara.com - Timnas Indonesia U-17 dipastikan gagal melangkah ke babak semifinal Piala AFF 2026 setelah hanya mampu bermain imbang tanpa gol di laga penentuan kontra Timnas Vietnam U-17, Minggu (19/4/2026) malam WIB.

Kegagalan memetik poin penuh pada laga terakhir Grup A di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Minggu (19/4/2026) tersebut, menjadi penutup perjalanan pahit skuad Garuda Asia di kandang sendiri.

Pelatih Kurniawan Dwi Yulianto secara terbuka mengungkapkan bahwa masalah transisi dan efektivitas serangan balik menjadi kendala utama yang menghambat performa anak asuhnya.

Kendala Transisi dan Serangan Balik

Pelatih Timnas U-17 Indonesia Kurniawan Dwi Yulianto berdoa saat tim asuhannya melawan Timnas Malaysia pada pertandingan penyisihan grup A ASEAN U-17 Boys Championship atau AFF U-17 di Stadion Gelora Joko Samudro, Gresik, Jawa Timur, Kamis (16/4/2026). [ANTARA FOTO/Rizal Hanafi/sgd/kye]

Kurniawan menjelaskan bahwa tim pelatih sebenarnya sudah menyiapkan rencana permainan yang menitikberatkan pada pertahanan solid dan serangan balik cepat.

Namun, implementasi di lapangan menunjukkan bahwa alur serangan balik yang dibangun oleh para pemain muda Indonesia masih jauh dari kata memuaskan.

“Kami menyiapkan game plan bertahan dan counter attack. Tapi saat melakukan serangan balik, hasilnya belum maksimal dan ini menjadi catatan sebelum kami bertanding di Piala Asia,” ujar Kurniawan dalam konferensi pers usai pertandingan.

Meski gagal melaju, ia tetap memberikan apresiasi terhadap kedisiplinan barisan belakang yang mampu meredam agresivitas para pemain Vietnam sepanjang laga.

Keputusan untuk bermain lebih menunggu diambil karena staf pelatih menyadari bahwa Vietnam memiliki daya serang yang sangat berbahaya.

Baca Juga: Timnas Indonesia U-17 Gagal Total di Piala AFF, Ini Pembelaan Kurniawan

Dampak Strategi Lima Bek di Lapangan

Kurniawan mengakui bahwa penggunaan skema lima pemain bertahan memberikan konsekuensi pada minimnya daya gedor di lini depan.

Kekurangan dukungan pemain saat melakukan transisi menyerang membuat peluang yang tercipta menjadi sangat terbatas dan mudah dipatahkan lawan.

“Ketika kami bermain dengan lima pemain di belakang, dukungan ke depan memang lebih sedikit. Jadi kami harus memaksimalkan counter attack,” ucapnya menambahkan.

Ia menegaskan bahwa pendekatan bertahan ini merupakan bagian dari eksperimen dan rencana jangka panjang menuju ajang yang lebih tinggi, yakni Piala Asia U-17.

“Kami memang sengaja bermain defend counter. Kami tunggu mereka di area sendiri dan berharap bisa melakukan serangan balik,” tuturnya.

Load More