-
Ronald Koeman memprediksi Inggris akan mengandalkan strategi bola mati mirip Arsenal di Piala Dunia.
-
Cuaca ekstrem di Amerika Utara menjadi alasan Thomas Tuchel memilih taktik yang menghemat energi.
-
Thomas Tuchel mengonfirmasi kesiapan skuadnya melalui pemanggilan pemain spesialis bola mati dan penalti.
Di kubu seberang, Belanda juga mempersiapkan kekuatan penuh dengan membawa sejumlah pilar berpengalaman. Koeman memasukkan nama Jurrien Timber yang juga memahami betul seluk-beluk taktik bola mati Arsenal.
Selain Timber, lini serang De Oranje akan bertumpu pada ketajaman Memphis Depay dan Wout Weghorst. Kehadiran penyerang sayap Donyell Malen yang bersinar di Roma turut menambah opsi daya dobrak.
Koeman mengaku telah mengevaluasi pendekatan kepelatihannya dari turnamen-turnamen besar sebelumnya. Ia tidak ingin mengulangi kesalahan dalam menentukan komposisi pemain utama di atas lapangan.
"Saya telah berubah," aku Koeman jujur saat merefleksikan perjalanan karier taktisnya.
"Melihat kembali Euro 2004, saya telah mempertimbangkan setelahnya apakah saya melakukan hal-hal dengan cara yang benar—menjadikan [Depay] sebagai starter. Jadi jika saya pikir itu seperti itu lagi, saya mungkin melakukannya secara berbeda," jelasnya.
Pemanggilan penyerang muda seperti Brian Brobbey dan Crysencio Summerville menjadi bukti regenerasi di skuad Belanda. Keduanya mendapatkan tempat setelah tampil memukau di level kompetisi tertinggi.
Hubungan antara Ronald Koeman dan publik sepak bola Inggris memang selalu diwarnai oleh tensi sejarah yang tinggi. Koeman pernah menjadi sosok antagonis utama yang menjegal langkah Inggris menuju Piala Dunia 1994.
Gol tendangan bebas Koeman kala itu memastikan Belanda menang dua kosong dan menyingkirkan Tiga Singa dari kualifikasi. Momen kontroversial tersebut terjadi setelah ia lolos dari kartu merah akibat melanggar David Platt.
Kini, psywar taktis yang dilemparkan Koeman kembali memanaskan atmosfer menjelang turnamen akbar di Amerika Utara. Analisis tajamnya menjadi alarm awal bagi kesiapan mental anak asuh Thomas Tuchel.
Baca Juga: Pelatih Maroko Ungkap Alasan Tak Sertakan Sofiane Boufal di Piala Dunia 2026
Piala Dunia mendatang akan menjadi pembuktian apakah pragmatisme bola mati mampu mengakhiri dahaga gelar Inggris. Taktik efisiensi energi ini dipastikan memicu perdebatan sengit di kalangan pengamat sepak bola dunia.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Tabur atau Bedak Padat Dulu? Panduan Makeup Flawless Tahan Lama
- 4 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Sesuai Review Pembeli
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan 12 Juli 2026, Masa Sulit Diprediksi Berakhir
- Aisyah Zakkiyah, Komisaris Baru PTPP yang Viral Punya Gaji dan Tunjangan Miliaran
- Bedak Tabur Apa yang Bikin Glowing dan Tahan Lama? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review dan Harga
Pilihan
-
Garda Revolusi Iran Tutup Lagi Selat Hormuz Sampai Batas Waktu Tak Ditentukan
-
Jadi Tersangka Bareng Eks Jampidsus Febrie, Don Ritto Sudah Ditahan di Rutan Polda Metro Jaya
-
Polri Tetapkan Febrie Adriansyah dan DR Tersangka Kasus Dugaan Korupsi serta TPPU
-
Jampdisus Febrie Adriansyah Akhirnya Mundur
-
Tangan Terborgol, Mulut Bungkam: Raut Wajah Bupati Sukoharjo Pakai Rompi Oranye KPK Tengah Malam
Terkini
-
Dominasi Jawa Barat, Persib Bandung dan Goal Aksis Cimahi Juara HLS All-Stars 2026
-
Gilas Putri Garut Lima Gol, Akademi Persib Bandung Juara HSL All-Stars
-
Akademi Persib Bandung vs Putri Garut, Derbi Jawa Barat di Final HLS All-Stars U-18 2026!
-
Dua Gol di Extra Time! Argentina Tantang Inggris di Semifinal Piala Dunia 2026
-
Kenapa Wasit Untungkan Lionel Messi Cs? Paredes Kartu Kuning, Embolo Malah Kartu Merah
-
Brasil Tersingkir dari Piala Dunia, Neymar Hamburkan Rp150 juta di Meja Judi
-
Swiss Main 10 Orang! Messi Mandul, Argentina Dipaksa Main hingga Perpanjangan Waktu
-
Intip Bisnis Unik Erling Haaland, Raup Cuan Miliaran di Luar Gaji
-
Mati 7 Menit Lalu Hidup Lagi, Sisi Lain Pelatih Norwegia Stale Solbakken
-
Argentina Unggul Cepat! Sundulan Mac Allister Bawa Albiceleste Robek Gawang Swiss