-
Taktik bertahan ekstrem Arsenal mencatat rekor penguasaan bola terendah (26%) sepanjang sejarah final Liga Champions.
-
Strategi mengulur waktu selama 31 menit gagal meredam PSG dan justru merusak reputasi The Gunners.
-
Mikel Arteta dituntut merombak gaya bermain dan lebih berani menyerang agar bisa bersaing di level tertinggi.
Suara.com - Pendekatan defensif ekstrem menjadi bumerang terbesar bagi Arsenal saat dipaksa menyerah oleh Paris Saint-Germain dalam partai puncak UEFA Champions League.
Kekalahan dramatis lewat adu penalti ini sekaligus menelanjangi keterbatasan taktik pragmatis Mikel Arteta ketika dihadapkan pada panggung tertinggi Eropa.
Diulas ESPN, meskipun sukses mengakhiri puasa gelar Premier League selama 22 tahun dengan pertahanan kokoh, Arsenal terbukti tidak berkutik saat intensitas kompetisi menuntut kreativitas lebih.
The Gunners mencatatkan rekor buruk dengan hanya menguasai 26 persen aliran bola sepanjang pertandingan di Budapest.
Angka tersebut menjadi statistik penguasaan bola terendah bagi seorang finalis Liga Champions sejak pencatatan data dimulai pada 2004.
Gol cepat Kai Havertz pada menit keenam justru membuat Arsenal langsung menurunkan garis pertahanan secara ekstrem untuk menjaga keunggulan.
Alih-alih mencari gol pembunuh laga, armada London Utara memilih bermain pasif dan membiarkan PSG mendominasi sisa jalannya pertandingan.
Klub asal Inggris ini bahkan menerapkan strategi mengulur waktu yang sangat mencolok demi meredam agresivitas lawan.
Lebih dari 31 menit waktu pertandingan terbuang sia-sia akibat aksi teatrikal, keterlambatan lemparan ke dalam, hingga penundaan sepak mula.
Baca Juga: Declan Rice: Ini Seperti Lotre
Sikap provokatif ini memicu kemarahan pelatih PSG, Luis Enrique, yang berulang kali memprotes keras ofisial pertandingan di pinggir lapangan.
Ironisnya, taktik negatif ini justru memberikan angin segar bagi sang juara bertahan Prancis untuk terus mengurung lini pertahanan Arsenal.
Kegagalan ini mempertegas tren negatif Meriam London yang kerap mati kutu saat menghadapi tim-tim raksasa di kompetisi domestik maupun Eropa.
Mikel Arteta kini dituntut berani mengubah filosofi bermainnya jika ingin membawa Arsenal sejajar dengan mentalitas juara milik Liverpool atau Manchester City.
Usai laga, juru taktik asal Spanyol tersebut mengisyaratkan perlunya perombakan besar-besaran di dalam skuadnya.
"Kami [akan] mulai mengambil beberapa keputusan yang sangat penting jika kami ingin mencapai level lain," kata Arteta.
Berita Terkait
Terpopuler
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- Guru Besar UGM Cium Ada Perubahan Sikap yang Tak Biasa Usai Mama Sinta Lapor Polisi soal Pesta Babi
Pilihan
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
-
Prabowo Tabuh Genderang Perang: Kita Lawan Kelompok Anti Tanah Air
-
Prabowo Pidato 1 Juni 2026: Lawan Asing, Waktunya Kembali ke Ekonomi Pancasila
-
Rambah Cempaka: Perempuan yang Bersemayam di Batu Lumpang
-
Jay Idzes Tercoret! Ini Daftar Pemain Timnas Indonesia Hadapi FIFA Matchday
Terkini
-
Mathew Baker Naik Kelas, Nova Arianto Bangga Target Utama Cetak Pemain Senior Tercapai
-
Antonio Rudiger Bertahan, Alasan Real Madrid Tunda Pengumuman Resmi Kontrak Baru Sang Bek
-
John Herdman Waspadai Malaysia dan Thailand di Piala AFF 2026
-
Misteri Hattrick Piala Dunia: Mengapa Paling Banyak Terjadi di Hari Minggu?
-
Rekor Debutan Termuda Piala Dunia: Pele hingga Etoo, Siapa yang Paling Muda dalam Sejarah
-
8 Pemain Keturunan Timnas Indonesia Dicoret John Herdman di FIFA Matchday Juni
-
Cristiano Ronaldo Jadi Beban? Pundit Sebut Portugal Lebih Berbahaya Tanpa CR7
-
Kisah Langka di Piala Dunia 2026! Dua Saudara Kandung Jadi Andalan Prancis Kejar Gelar Juara
-
Skuad Resmi Meksiko untuk Piala Dunia 2026, Guillermo Ochoa Cetak Rekor Bersejarah
-
Aturan Baru Piala Dunia 2026: FIFA Haramkan Cara Cerdik Arsenal Cetak Gol