-
FIFA resmi memperluas fungsi VAR untuk membatalkan gol dari pelanggaran bola mati.
-
Aturan baru Piala Dunia 2026 ini menyasar taktik blokir ilegal ala Liga Inggris.
-
Regulasi ketat juga diterapkan untuk memberantas strategi manipulasi cedera demi mengulur waktu.
Suara.com - FIFA resmi memperluas jangkauan intervensi Video Assistant Referee (VAR) demi memberangus taktik kotor dalam situasi bola mati. Aturan baru ini siap debut pada putaran final Piala Dunia 2026 mendatang.
Langkah progresif ini diambil untuk menghentikan tren strategi "blokir" fisik pemain yang kini marak diadopsi dari kompetisi Liga Inggris. Otoritas tertinggi sepak bola dunia tersebut menilai tindakan menghalangi lawan sebelum bola mengalir sebagai bentuk kecurangan nyata.
Melalui sistem teranyar, wasit kini memegang otoritas penuh untuk membatalkan gol yang lahir dari skema pelanggaran awal tersebut. Taktik manipulatif yang kerap merugikan pertahanan tim dipastikan tidak akan lolos lagi dari pengamatan ruang digital.
Kepala Wasit FIFA, Pierluigi Collina, menegaskan bahwa pembiaran terhadap insiden semacam itu mencederai nilai sportivitas olahraga.
"Kami yakin gol seperti itu tidak bisa dibenarkan, ini benar-benar tidak adil," kata Kepala Wasit Pierluigi Collina dalam laporan The Telegraph yang dikutip di Jakarta, Senin.
Kekhawatiran internal FIFA memuncak setelah mengamati laga internasional Inggris kontra Uruguay dalam sebuah laga uji coba resmi. Saat itu, gelandang Tiga Singa melakukan pergerakan ilegal demi menyandera ruang gerak benteng pertahanan musuh.
Aksi ofensif berlebihan dalam kotak penalti itu sengaja dilakukan guna membuka ruang tembak yang bersih bagi eksekutor. Dampaknya, kubu lawan kehilangan momentum krusial untuk menghalau datangnya si kulit bundar secara adil.
Collina menilai gol yang dilesakkan Ben White dalam pertandingan tersebut seharusnya tidak pernah tercatat di papan skor. Pola permainan destruktif ini dianggap merusak estetika skema bola mati yang seharusnya murni mengandalkan taktik murni.
Ia menyatakan bahwa intervensi teknologi mutakhir merupakan solusi paling logis untuk mengembalikan keadilan di lapangan hijau.
Baca Juga: 8 Pemain Keturunan Timnas Indonesia Dicoret John Herdman di FIFA Matchday Juni
"Jika pelanggaran terjadi tepat sebelum bola dimainkan, kami yakin tidak ada yang bisa mengajukan keberatan," katanya.
Kebijakan revolusioner ini berhasil direalisasikan setelah FIFA mengantongi lampu hijau dari International Football Association Board (IFAB). Dewan regulasi tersebut sepakat mempercepat implementasi aturan demi meredam gejolak protes di berbagai liga top Eropa.
Nantinya, perangkat VAR akan memberikan rekomendasi langsung kepada wasit tengah untuk meninjau monitor di pinggir lapangan. Evaluasi video difokuskan pada benturan fisik yang berdampak langsung terhadap terciptanya gol atau keputusan penalti.
Jika terbukti ada pelanggaran sebelum sepak pojok dilakukan, gol otomatis dianulir dan situasi bola mati wajib diulang kembali. Sistem ini memaksa setiap tim kembali pada koridor permainan yang bersih tanpa trik provokasi.
Selain fokus pada kemelut sepak pojok, federasi dunia juga menargetkan pemberantasan taktik manipulasi durasi laga. Tren pemain yang sengaja berpura-pura cedera untuk memotong ritme serangan lawan kini masuk dalam radar pengawasan.
Strategi mengulur waktu ini sering dimanfaatkan pelatih untuk menyisipkan instruksi taktis di tengah kepungan tekanan musuh. FIFA menilai kebiasaan buruk ini sangat merugikan tim yang sedang memegang kendali permainan.
Rencana penegakan aturan ini pun telah disosialisasikan secara tertutup kepada 48 arsitek tim peserta Piala Dunia 2026. Meski belum melahirkan sanksi kartu instan, korps baju hitam diperintahkan bertindak lebih tegas dan proaktif di lapangan.
Latar belakang pengetatan regulasi ini berakar dari rentetan kontroversi pengesahan gol di kompetisi domestik Premier League. Salah satu pemicu utama adalah dianulirnya gol penting West Ham United akibat adanya kontak fisik minimal terhadap kiper Arsenal, David Raya.
Ketidakpastian hukum lapangan tersebut mendorong FIFA mengambil alih standardisasi penilaian demi menjaga marwah turnamen sepak bola terakbar di dunia. Modifikasi regulasi ini diharapkan mampu meminimalisasi perdebatan klasik pascapertandingan di ruang publik.
Berita Terkait
Terpopuler
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- Guru Besar UGM Cium Ada Perubahan Sikap yang Tak Biasa Usai Mama Sinta Lapor Polisi soal Pesta Babi
Pilihan
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
-
Prabowo Tabuh Genderang Perang: Kita Lawan Kelompok Anti Tanah Air
-
Prabowo Pidato 1 Juni 2026: Lawan Asing, Waktunya Kembali ke Ekonomi Pancasila
-
Rambah Cempaka: Perempuan yang Bersemayam di Batu Lumpang
-
Jay Idzes Tercoret! Ini Daftar Pemain Timnas Indonesia Hadapi FIFA Matchday
Terkini
-
Arne Slot Tulis Surat Perpisahan untuk Liverpool
-
John Terry Paham Perasaan Gabriel: Saya Pernah di Posisi Itu
-
Respons Melbourne City Usai Mathew Baker Promosi ke Timnas Indonesia Senior
-
James Milner Pensiun di Usia 40 Tahun, Akhiri Karier Legendaris Setelah 24 Musim di Liga Inggris
-
Mathew Baker Bela Timnas Indonesia U-19 di Semifinal Piala AFF U-19 2026 Setelah FIFA Match Day
-
Mathew Baker Naik Kelas, Nova Arianto Bangga Target Utama Cetak Pemain Senior Tercapai
-
Antonio Rudiger Bertahan, Alasan Real Madrid Tunda Pengumuman Resmi Kontrak Baru Sang Bek
-
John Herdman Waspadai Malaysia dan Thailand di Piala AFF 2026
-
Misteri Hattrick Piala Dunia: Mengapa Paling Banyak Terjadi di Hari Minggu?
-
Rekor Debutan Termuda Piala Dunia: Pele hingga Etoo, Siapa yang Paling Muda dalam Sejarah