Bola / BolaTaiment
Jum'at, 19 Juni 2026 | 17:25 WIB
Penyerang Haiti Frantzdy Pierrot mengungkap kisah menyentuh dari masa kecilnya yang penuh keterbatasan, di tengah perjalanannya tampil di Piala Dunia 2026. [Instagram]
Baca 10 detik
  • Frantzdy Pierrot, pemain tim nasional Haiti berusia 31 tahun, kini berjuang mewujudkan impian tampil di Piala Dunia 2026.
  • Pierrot mengungkapkan masa kecilnya yang penuh keterbatasan dan kemiskinan ekstrem saat bermain sepak bola di jalanan Haiti.
  • Sepak bola kini menjadi simbol harapan serta sarana pemersatu masyarakat Haiti di tengah situasi konflik yang melanda negara.

Suara.com - Penyerang Haiti Frantzdy Pierrot mengungkap kisah menyentuh dari masa kecilnya yang penuh keterbatasan, di tengah perjalanannya tampil di Piala Dunia 2026.

Pemain berusia 31 tahun itu kini menjadi bagian dari skuad Haiti yang berjuang di Piala Dunia 2026.

Dalam sebuah wawancara, Pierrot menceritakan kerasnya kehidupan yang ia jalani saat kecil di negaranya.

Pierrot menggambarkan bagaimana sepak bola menjadi satu-satunya pelarian dari kondisi hidup yang serba kekurangan.

“Kami bermain di jalan tanpa sepatu. Kami menggunakan jeruk sebagai bola karena kecil dan mudah ditendang. Terkadang ada pecahan kaca yang melukai kaki kami,” ujarnya.

Namun, bagian paling menyentuh dari ceritanya adalah kondisi keluarganya saat itu.

“Ibu saya harus memilih antara makan untuk dirinya sendiri atau memberi kami makan,” kata Pierrot, menggambarkan beratnya kehidupan yang mereka hadapi seperti dikutip dari O Jogo

Kini, Pierrot bermain untuk klub Çaykur Rizespor dan menjadi salah satu andalan Haiti di level internasional.

Pierrot menyebut sepak bola sebagai jalan keluar dari masa kecil yang penuh perjuangan.

Baca Juga: Mengenal Jimat Keberuntungan Argentina Diego Iacovone, Dari Intelijen ke Dapur Tim Tango

Pierrot juga menyoroti peran tim nasional Haiti sebagai simbol harapan di tengah situasi sulit negara tersebut.

Menurutnya, pertandingan sepak bola bahkan mampu menghentikan kekerasan dan membawa masyarakat bersatu.

“Selama pertandingan, tidak ada tembakan, tidak ada konflik. Semua orang hanya fokus pada tim nasional. Kami adalah harapan mereka,” ungkapnya.

Di luar lapangan, Pierrot ternyata memiliki latar belakang akademik di bidang kriminologi.

Ia bahkan sempat bercita-cita menjadi agen FBI, sesuatu yang jarang diketahui rekan setimnya.

Load More