News / Metropolitan
Senin, 03 Agustus 2026 | 23:53 WIB
Mal Kota Kasablanka (Kokas) di Jakarta Selatan mendadak jadi sorotan usai dipasangi pagar besi tinggi. (Suara.com/Adiyoga)
Baca 10 detik
  • Pakuwon Group memasang pagar tinggi di mal Jakarta yang memicu trauma kerusuhan Agustus tahun lalu.
  • Sosiolog Rakhmat Hidayat menyatakan pagar tersebut disalahartikan publik sebagai bentuk penutupan akses ruang publik.
  • Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meminta pengelola mal mengurangi pagar tinggi demi kenyamanan ibu kota.

Suara.com - Pemasangan pagar tinggi di sejumlah mal besar milik Pakuwon Group di Jakarta membangkitkan "trauma kolektif" masyarakat terhadap kerusuhan yang terjadi pada Agustus tahun lalu.

Sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Rakhmat Hidayat menyebut, publik secara otomatis menafsirkan pagar tersebut melalui lensa ingatan masa lalu yang pahit. Dalam kondisi itu ia menilai, kemunculan pagar-pagar di mal tersebut langsung dikaitkan warga dengan isu gangguan keamanan menjelang bulan Agustus.

"Itu masih segar dalam ingatan kita gitu ya. Nah, begitu muncul kabar soal potensi aksi besar Agustus 2026, pagar tinggi yang tiba-tiba muncul otomatis dibaca lewat lensa trauma itu," kata Rakhmat kepada Suara.com, Senin (3/8/2026).

Menurutnya, masyarakat tidak sekadar kekurangan informasi, melainkan sedang memberikan tafsir berdasarkan pengalaman pahit yang pernah dialami.

"Jadi bukan soal masyarakat kurang informasi, tetapi soal pengalaman kolektif yang membentuk pola tafsir terhadap simbol apapun yang mirip dengan situasi sebelum kerusuhan," ujarnya.

Petugas memperbaiki Halte Transjakarta Senayan yang dibakar pasca demo ricuh Agustus 2025  di Jakarta. [Suara.com/Alfian Winanto]

Rakhmat menambahkan bahwa secara sosiologis, mal sudah dianggap oleh warga sebagai ruang publik tempat bersosialisasi dan mengekspresikan diri.

Oleh karena itu, ketika mal "dipagari" tanpa alasan yang jelas, publik membacanya sebagai tanda eksklusi atau penutupan akses yang memicu kekhawatiran mendalam.

"Yang dibaca publik bukan dalam tanda petik adalah penataan arus lalu lintas gitu ya, tetapi itu adalah menjadi penutupan akses dan pemisahan. Nah secara sosiologis, pagar itu dijadikan sebagai tanda eksklusi, bukan sekadar infrastruktur keamanan gitu loh ya," jelas Rakhmat.

Belakangan, pagar tinggi yang sempat dipasang di sejumlah mal Pakuwon Group mulai dibongkar.

Baca Juga: Pagar Tinggi Mal Picu Spekulasi, Polisi: Jangan Buat Gaduh, Jakarta Masih Aman!

Meski demikian, Rakhmat menilai peristiwa tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan ruang kota tidak hanya berkaitan dengan aspek fisik, tetapi juga persepsi dan rasa aman masyarakat.

Pemasangan pagar tinggi di sejumlah mal sempat memicu spekulasi publik dan dikaitkan dengan isu potensi aksi demonstrasi pada Agustus. Polda Metro Jaya telah meminta masyarakat tidak berspekulasi dan menegaskan kondisi keamanan Jakarta masih aman serta kondusif.

Senada dengan itu, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung juga meminta pengelola mal mengurangi penggunaan pagar tinggi dan memperbanyak ruang hijau agar wajah ibu kota tetap terbuka dan nyaman bagi masyarakat.

Load More