- Pakuwon Group memasang pagar tinggi di mal Jakarta yang memicu trauma kerusuhan Agustus tahun lalu.
- Sosiolog Rakhmat Hidayat menyatakan pagar tersebut disalahartikan publik sebagai bentuk penutupan akses ruang publik.
- Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meminta pengelola mal mengurangi pagar tinggi demi kenyamanan ibu kota.
Suara.com - Pemasangan pagar tinggi di sejumlah mal besar milik Pakuwon Group di Jakarta membangkitkan "trauma kolektif" masyarakat terhadap kerusuhan yang terjadi pada Agustus tahun lalu.
Sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Rakhmat Hidayat menyebut, publik secara otomatis menafsirkan pagar tersebut melalui lensa ingatan masa lalu yang pahit. Dalam kondisi itu ia menilai, kemunculan pagar-pagar di mal tersebut langsung dikaitkan warga dengan isu gangguan keamanan menjelang bulan Agustus.
"Itu masih segar dalam ingatan kita gitu ya. Nah, begitu muncul kabar soal potensi aksi besar Agustus 2026, pagar tinggi yang tiba-tiba muncul otomatis dibaca lewat lensa trauma itu," kata Rakhmat kepada Suara.com, Senin (3/8/2026).
Menurutnya, masyarakat tidak sekadar kekurangan informasi, melainkan sedang memberikan tafsir berdasarkan pengalaman pahit yang pernah dialami.
"Jadi bukan soal masyarakat kurang informasi, tetapi soal pengalaman kolektif yang membentuk pola tafsir terhadap simbol apapun yang mirip dengan situasi sebelum kerusuhan," ujarnya.
Rakhmat menambahkan bahwa secara sosiologis, mal sudah dianggap oleh warga sebagai ruang publik tempat bersosialisasi dan mengekspresikan diri.
Oleh karena itu, ketika mal "dipagari" tanpa alasan yang jelas, publik membacanya sebagai tanda eksklusi atau penutupan akses yang memicu kekhawatiran mendalam.
"Yang dibaca publik bukan dalam tanda petik adalah penataan arus lalu lintas gitu ya, tetapi itu adalah menjadi penutupan akses dan pemisahan. Nah secara sosiologis, pagar itu dijadikan sebagai tanda eksklusi, bukan sekadar infrastruktur keamanan gitu loh ya," jelas Rakhmat.
Belakangan, pagar tinggi yang sempat dipasang di sejumlah mal Pakuwon Group mulai dibongkar.
Baca Juga: Pagar Tinggi Mal Picu Spekulasi, Polisi: Jangan Buat Gaduh, Jakarta Masih Aman!
Meski demikian, Rakhmat menilai peristiwa tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan ruang kota tidak hanya berkaitan dengan aspek fisik, tetapi juga persepsi dan rasa aman masyarakat.
Pemasangan pagar tinggi di sejumlah mal sempat memicu spekulasi publik dan dikaitkan dengan isu potensi aksi demonstrasi pada Agustus. Polda Metro Jaya telah meminta masyarakat tidak berspekulasi dan menegaskan kondisi keamanan Jakarta masih aman serta kondusif.
Senada dengan itu, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung juga meminta pengelola mal mengurangi penggunaan pagar tinggi dan memperbanyak ruang hijau agar wajah ibu kota tetap terbuka dan nyaman bagi masyarakat.
Berita Terkait
Terpopuler
- Putusan MK soal Kuota Internet Hangus Ubah Peta Bisnis Operator, Pakar: Paket Data Bakal Berubah
- Melayat ke Yogya, Susi Pudjiastuti Kenang Sosok Nasirun
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- Kado Kemerdekaan: Pemutihan Pajak Kendaraan di Agustus 2026, Buruh dan Ojol Dapat Diskon Khusus
- Prabowo Singgung Nuklir Iran, Badan Atom Internasional Ungkap Faktanya
Pilihan
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
Terkini
-
Trauma Kolektif: Pagar Tinggi Mal Ingatkan Warga pada Kerusuhan Agustus
-
Kasus Bayi Dijual Rp20 Juta Belum Tuntas, Polisi Didesak Usut Sosok Pemberi Uang
-
Dipukul Balok Kayu, Wanita di Palembang Gagalkan Aksi Begal hingga Pelaku Ditangkap
-
Dua Kata Tijjani Reijnders Usai Timnas Indonesia Dibantai Vietnam 0-3
-
Ingin Rumah Terasa Lebih Elegan? Tren Interior Kini Mengandalkan Permainan Cahaya dari Keramik
-
Haykal Ungkap Hal yang Bikin Tak Nyaman di Palembang, Pengemis hingga Sungai Jadi Sorotan
-
Kreativitas Generasi Muda Indonesia Berbuah Manis, Ribuan Pelajar Sukses Bangun Bisnis
-
Klasemen Piala AFF 2026 Usai Timnas Indonesia Digebuk Vietnam: Wajib Menang di Singapura
-
Mengapa Direktur Bus ALS Jadi Tersangka? Polisi Periksa 50 Saksi sebelum Naikkan Kasus ke Penyidikan
-
Polda Metro Jaya Siap Ladeni 'Serangan' Praperadilan Keempat Roy Suryo