Bola / Bola Dunia
Kamis, 25 Juni 2026 | 19:45 WIB
FIFA memutuskan tetap mengizinkan penggunaan bendera pelangi atau dukungan untuk LGBT dalam pertandingan Piala Dunia 2026 antara Iran dan Mesir yang akan berlangsung di Seattle, Amerika Serikat, meski mendapat protes dari kedua negara peserta. [Getty Images]
Baca 10 detik
  • FIFA mengizinkan penggunaan bendera pelangi dalam pertandingan Piala Dunia 2026 antara Iran dan Mesir di Seattle, Amerika Serikat.
  • Timnas Iran dan Mesir mengajukan keberatan resmi karena menganggap simbol tersebut melanggar nilai budaya, agama, serta aturan FIFA.
  • FIFA menegaskan bahwa ajang ini inklusif dan membolehkan atribut pendukung LGBTQ+ sesuai dengan Kode Etik Stadion Piala Dunia.

Suara.com - FIFA memutuskan tetap mengizinkan penggunaan bendera pelangi atau dukungan untuk LGBT dalam pertandingan Piala Dunia 2026 antara Iran dan Mesir yang akan berlangsung di Seattle, Amerika Serikat, meski mendapat protes dari kedua negara peserta.

Laga yang dijadwalkan berlangsung akhir pekan ini telah ditetapkan sebagai "Pride Match" karena bertepatan dengan rangkaian perayaan Pride Weekend di Seattle. Penetapan tersebut dilakukan sebelum diketahui tim yang akan bertanding di laga tersebut.

Keputusan tersebut memicu keberatan dari Iran dan Mesir, dua negara yang memiliki aturan ketat terkait homoseksualitas.

Melansir Express, Kamis (25/6/2026), Federasi Sepak Bola Mesir dilaporkan mengirim surat kepada FIFA yang menyatakan penolakan terhadap inisiatif yang dianggap mendukung homoseksualitas karena dinilai bertentangan dengan nilai budaya, agama, dan sosial masyarakat Arab serta Islam.

Sementara itu, Federasi Sepak Bola Iran juga menyampaikan keberatan dengan alasan bahwa kegiatan tersebut berpotensi melanggar aturan FIFA mengenai larangan pesan politik, agama, atau ideologis di stadion.

Ketua Federasi Sepak Bola Iran, Mehdi Taj, menyebut inisiatif tersebut sebagai tindakan yang mendukung kelompok tertentu.

Meski demikian, FIFA menegaskan bahwa penggemar tetap diperbolehkan membawa bendera pelangi ke stadion selama penggunaannya sesuai dengan Kode Etik Stadion Piala Dunia 2026.

Dalam pernyataannya, FIFA menegaskan bahwa Piala Dunia 2026 merupakan ajang yang terbuka bagi semua kalangan tanpa memandang latar belakang, orientasi seksual, maupun identitas gender.

"Pernyataan umum mengenai hak asasi manusia, termasuk penggunaan bendera pelangi dan simbol lain yang mewakili orientasi seksual serta identitas gender, diizinkan berdasarkan Kode Etik Stadion Piala Dunia FIFA 2026 selama penggunaannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku," demikian pernyataan juru bicara FIFA.

Baca Juga: Daftar Negara yang Sudah Lolos ke Babak 32 Besar Piala Dunia 2026

Menurut laporan media Inggris The Telegraph, Iran dan Mesir juga berupaya mendorong adanya pembatasan terhadap berbagai bentuk ekspresi dukungan kepada komunitas LGBTQ+ selama pertandingan berlangsung. Namun, permintaan tersebut diperkirakan tidak akan dipenuhi oleh FIFA.

Di sisi lain, komunitas LGBTQ+ di Seattle menyambut positif penyelenggaraan laga tersebut. Wakil Presiden Senior Warisan Acara FWC26 Seattle, Hedda McLendon, memperkirakan akan banyak suporter yang membawa bendera pelangi dan mengenakan atribut bertema Pride di stadion.

"Kami ingin menyambut seluruh pengunjung yang datang ke Seattle. Ini adalah Piala Dunia, dan kami ingin menunjukkan bagaimana Seattle merayakan Pride," ujarnya.

Pemerintah Kota Seattle juga menyatakan kesiapan menghadapi kemungkinan aksi protes selama pertandingan berlangsung. Wali Kota Seattle, Katie Wilson, mengatakan pihaknya telah menyiapkan sejumlah zona khusus untuk demonstrasi di sekitar area stadion guna menjaga keamanan dan ketertiban.

Sementara itu, anggota Komisi LGBTQ+ Seattle, Andrew Ashiofu, menyebut pertandingan tersebut menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa Seattle merupakan kota yang terbuka dan menerima semua orang tanpa memandang ras, orientasi seksual, maupun identitas gender.

Pertandingan Iran kontra Mesir diperkirakan akan menjadi salah satu laga yang mendapat perhatian besar, tidak hanya karena persaingan di lapangan, tetapi juga karena perdebatan mengenai isu hak asasi manusia dan inklusivitas yang mengiringinya.

Load More