News / Internasional
Senin, 10 Agustus 2026 | 07:12 WIB
Sebuah bangunan hancur di kawasan Gaza Palestina (news of Bahrain)
Baca 10 detik
  • Israel menolak 15 poin rencana perdamaian Gaza yang diusulkan oleh Presiden AS Donald Trump.

  • Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menuntut perlucutan senjata Hamas sebelum penarikan militer dilakukan.

  • Netanyahu menegaskan tidak akan pernah mengizinkan pembentukan negara Palestina di Gaza maupun Tepi Barat.

Suara.com - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan penolakan Israel terhadap proposal perdamaian Gaza yang diusung Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Israel menetapkan syarat mutlak berupa pelucutan senjata penuh milisi Hamas sebelum menarik mundur seluruh pasukannya dari kawasan konflik.

Sikap keras ini menjadi babak baru yang menghambat terwujudnya gencatan senjata permanen di kawasan Timur Tengah.

Universitas Islam Gaza (Al Jazeera)

Langkah tegas Tel Aviv mematahkan optimisme Washington yang sebelumnya mengklaim telah mencapai terobosan diplomasi.

Penolakan terbuka ini sekaligus menegaskan batas toleransi kompromi politik Israel terhadap sekutu utamanya.

Netanyahu secara eksplisit membatalkan skema perdamaian yang dirancang oleh tim negosiasi Gedung Putih.

Ia menegaskan tidak akan mengompromikan keamanan nasional hanya demi mengakomodasi usulan diplomatik pihak luar.

“Saya ingin memperjelas di sini: Israel menolak dokumen 15 poin tersebut,” tegas Netanyahu dikutip dari CNN Internasional, Senin (10/8/2026) pagi.

Pasukan militer Israel dipastikan bakal bertahan di posisinya sampai ancaman keamanan benar-benar bersih.

Baca Juga: Inggris Investigasi Aliran Dana Badan Amal ke Permukiman Ilegal Israel di Tepi Barat

Pemerintah menolak berkompromi soal keberadaan militer sebelum kelompok perlawanan menyerahkan seluruh persenjataannya.

“Kami tidak akan menarik diri sama sekali sampai Hamas benar-benar dilucuti energinya dan kami akan terus menggagalkan ancaman terhadap pasukan dan warga kami,” ujar Netanyahu.

Komunikasi diplomatik antara Tel Aviv dan Washington saat ini masih berlangsung intensif untuk menjembatani perbedaan tersebut.

Israel memilih untuk menyaring poin kesepakatan yang masuk akal dan menolak mentah-mentah poin yang merugikan.

“Kami sekarang sedang mendiskusikan hal ini dengan orang-orang Amerika,” tambahnya.

“Mereka memiliki gagasan, beberapa di antaranya dapat kami terima dan beberapa tidak, dan kami tahu cara menghadapi hal-hal itu.”

Load More