Bola / Bola Dunia
Selasa, 07 Juli 2026 | 09:26 WIB
Cristiano Ronaldo menangis sambil mengenakan jersi No. 21 milik mendiang Diogo Jota usai Portugal mengalahkan Kroasia di Piala Dunia 2026. [Dok. brfootball/x]
Baca 10 detik
  • Portugal tersingkir dari Piala Dunia 2026 setelah kalah 0-1 dari Spanyol pada Selasa, 7 Juli 2026.
  • Kekalahan memicu perdebatan antara Rúben Dias dan Ricardo Quaresma terkait performa serta konsep bermain tim tersebut.
  • Kegagalan ini menyebabkan pelatih Roberto Martinez dipastikan meninggalkan posisinya karena dinilai tidak memberikan perkembangan taktis signifikan.

Suara.com - Portugal harus mengakhiri langkahnya di Piala Dunia 2026 setelah kalah tipis 0-1 dari Spanyol di babak 16 besar, Selasa (7/7/2026).

Gol telat Mikel Merino di masa injury time menjadi penentu tersingkirnya tim yang digadang-gadang sebagai salah satu favorit tersebut.

Kekalahan ini memicu perdebatan panas antara mantan bintang Portugal, Ricardo Quaresma, dan bek andalan tim, Rúben Dias.

Keduanya terlibat adu argumen saat tampil dalam sebuah program televisi di Portugal.

Rúben Dias menilai performa tim sebenarnya menunjukkan perkembangan, terutama saat menghadapi Spanyol.

Dias menyoroti kemampuan Portugal dalam menyeimbangkan penguasaan bola melawan tim yang dikenal dominan.

“Saya rasa ini salah satu permainan terbaik kami melawan Spanyol dalam hal keseimbangan permainan,” ujar Dias dikutip dari O Globo

Namun, Quaresma memiliki pandangan berbeda. Ia menilai kualitas skuad Portugal seharusnya mampu menghasilkan performa yang jauh lebih baik sepanjang turnamen.

“Saya tidak terlalu setuju. Sejak awal hingga sekarang, kalian bisa memberi jauh lebih banyak. Kalian berada di level tertinggi, hampir semuanya pemain terbaik dunia,” tegas Quaresma.

Baca Juga: Cristiano Ronaldo Resmi Pensiun dari Piala Dunia, Portugal Tersingkir Dramatis oleh Spanyol

Menurutnya, permainan Portugal terlalu monoton dan tidak efektif meski menguasai bola.

Ia mengkritik minimnya penetrasi dan upaya mencetak gol sepanjang pertandingan.

“Kalian terlalu banyak bermain ke belakang dan ke samping. Penguasaan bola tidak memenangkan pertandingan jika tidak ada ancaman ke gawang,” tambahnya.

Menanggapi kritik tersebut, Dias mengakui adanya masalah mendasar dalam tim, terutama soal filosofi permainan.

Dias menyebut Portugal belum memiliki konsep bermain yang sejelas Spanyol.

“Kami punya banyak individu hebat, tapi belum punya konsep permainan yang sama. Tidak mudah menyatukan cara berpikir setiap pemain,” jelasnya.

Load More