- Indonesia dan India sama-sama mengandalkan kompetisi domestik untuk mengembangkan sepak bola melalui sejarah dan model bisnis berbeda.
- Kedua negara menghadapi berbagai kontroversi, mulai dari pengaturan skor di Indonesia hingga krisis komersial liga India.
- Indonesia dan India pernah mendatangkan banyak pemain bintang Eropa untuk meningkatkan daya tarik kompetisi domestik masing-masing.
Konflik tersebut akhirnya menghasilkan restrukturisasi sepak bola India.
ISL kemudian memperoleh posisi semakin penting dalam piramida sepak bola nasional, sementara sistem promosi-degradasi mulai diperkenalkan.
Sama-Sama Tidak Lepas dari Kontroversi
Jika Indonesia memiliki persoalan seperti dugaan pengaturan pertandingan, konflik jadwal, tata kelola, rusuh suporter, hingga polemik keputusan wasit, India memiliki konflik yang lebih banyak berkutat pada struktur dan bisnis liga.
Indonesia bahkan membentuk Satgas Antimafia Bola untuk menangani persoalan pengaturan skor dan praktik ilegal dalam sepak bola.
Kajian hukum mengenai sepak bola Indonesia juga mencatat pengawasan terhadap kompetisi Liga 1, Liga 2, dan Liga 3 sebagai bagian dari upaya pemberantasan praktik tersebut.
India memiliki cerita berbeda. Salah satu kontroversi besar ISL terjadi setelah final 2015 ketika keributan melibatkan pemilik FC Goa dan pemain Chennaiyin FC.
FC Goa kemudian dikenai denda besar dan pengurangan poin, meski sanksi tersebut akhirnya dikurangi.
Konflik terbaru India bahkan menyentuh keberlangsungan kompetisi.
Baca Juga: India Remehkan Indonesia, Turunkan Skuat Pelapis di FIFA ASEAN Cup 2026 Karena Alasan Ini
Musim 2025-2026 sempat tertunda akibat kebuntuan negosiasi hak komersial antara AIFF dan Football Sports Development Limited (FSDL), membuat format liga harus dipangkas menjadi hanya 13 pertandingan.
Krisis itu berlanjut pada 2026 setelah Jamshedpur FC mengumumkan pengunduran diri dari ISL.
Keputusan klub milik Tata Steel tersebut mengguncang sepak bola India dan memunculkan pertanyaan mengenai masa depan model bisnis ISL.
Pemain Eropa dan Bintang Dunia Jadi Pembeda
ISL sejak awal sangat agresif mendatangkan pemain yang pernah merasakan atmosfer sepak bola Eropa.
Nama seperti David James, Robert Pires, Nicolas Anelka, Alessandro Del Piero, Diego Forlan, Dimitar Berbatov, Robbie Keane hingga Wes Brown pernah menghiasi kompetisi India.
Berbatov, misalnya, bergabung dengan Kerala Blasters pada 2017 setelah memiliki pengalaman panjang di Bayer Leverkusen, Tottenham Hotspur, Manchester United, Fulham, dan AS Monaco.
Berbatov hanya mencetak satu gol dalam sembilan penampilan di ISL.
Robbie Keane juga datang pada periode yang sama dan memperkuat ATK.
Mantan striker Tottenham Hotspur tersebut mencetak delapan gol dalam 11 pertandingan ISL.
Indonesia tidak mau kalah. Era marquee player Liga 1 2017 menghadirkan Michael Essien, Carlton Cole, Peter Odemwingie, Mohamed Sissoko hingga Didier Zokora.
Essien menjadi magnet terbesar ketika bergabung dengan Persib Bandung setelah pernah bermain untuk Chelsea dan Real Madrid.
Carlton Cole juga datang ke Bandung setelah memperkuat klub-klub seperti Chelsea dan West Ham.
Peter Odemwingie bahkan tampil produktif bersama Madura United dengan mencetak 15 gol dalam 22 pertandingan pada musim 2017.
Ia sebelumnya memiliki pengalaman di Lille, West Bromwich Albion, Cardiff City, dan Stoke City.
India Lebih Muda, Indonesia Lebih Berakar
Di sinilah perbandingan keduanya menjadi menarik.
Indonesia memiliki sejarah klub dan kultur suporter yang lebih mengakar, sedangkan India memiliki pengalaman menarik dalam membangun liga sebagai produk komersial modern.
Namun, pengalaman India menunjukkan bahwa investasi besar dan kehadiran pemain terkenal tidak otomatis menjamin keberlanjutan kompetisi.
Krisis komersial ISL pada 2025-2026 menjadi bukti bahwa fondasi bisnis tetap menjadi persoalan utama.
Bagi Indonesia, kekuatan liga bukan hanya ditentukan oleh jumlah penonton, pemain asing atau nama besar klub.
Tata kelola, kepastian kompetisi, kesehatan finansial, kualitas pertandingan, serta integritas menjadi faktor yang menentukan apakah sebuah liga benar-benar mampu membawa sepak bola nasional naik kelas di Asia.
Berita Terkait
-
India Remehkan Indonesia, Turunkan Skuat Pelapis di FIFA ASEAN Cup 2026 Karena Alasan Ini
-
PSSI Murka! Justin Hubner dan Keluarga Jadi Sasaran Ancaman, Publik Diminta Hentikan Serangan
-
Ibu Asli Bali, Lahir di Malang, Pemain Ini Lebih Pilih Bela Timnas Belanda
-
Jakarta Sodorkan Dua Lapangan Latihan FIFA ASEAN Cup 2026, Tak Ada JIS
-
Shin Tae-yong Diminta Latih Lagi Timnas Indonesia, Bos Persija Kasih Respon Mengejutkan
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- 3 HP Infinix Memori 256 GB dan NFC Harga Rp1 Jutaan, Solusi Multitasking hingga Gaming
- KPAI Desak Audit Total MBG: Tata Kelola Gagal, Anak-anak Jadi Korban Ambisi Program
- Ramalan Shio 9 Agustus 2026: 5 Shio Bakal Buang Kesialan dan Buka Jalan Keberuntungan
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
4 Rekomendasi Parfum Wangi Sabun Mandi Segar Sesuai Review Pembeli, Aroma Tahan Lama
-
BRI Kartu Kredit Hadirkan Cicilan Mulai Rp100 Ribu dengan Bunga 0 Persen
-
Menumbuhkan Rimba Bawah Laut: Perjuangan Sunyi Nyoman Nadiana dari Desa Les
-
Gagal Total di Piala AFF 2026, PSSI Singgung 14 Pemain Absen Bela Timnas Indonesia
-
Raka Raki Jatim Terguncang: Finalisnya Terseret Dugaan Kekerasan Seksual & Paksa Aborsi
-
Ulasan Jakarta Sebelum Pagi: Menelusuri Misteri di Balik Kiriman Bunga
-
Pembiayaan UMKM Tembus Rp1.500 Triliun, Tapi Ekonomi Daerah Tak Kunjung Terangkat
-
Liga Indonesia vs India: Adu Tradisi, Uang, Bintang Dunia, hingga Krisis Tata Kelola
-
Baca Watak Orang Lewat Weton, Begini Cara Menghitungnya
-
Paramitha Hilang 2 Tahun Ternyata Dibunuh Sopir Travel dan Dibuat Jadi Tengkorak