- Maarten Paes pindah dari FC Dallas ke Ajax setelah dihubungi agennya saat mengalami jetlag di Portugal.
- Proses transfer berlangsung cepat dan ia langsung menemui direktur serta pelatih kiper Ajax sehari kemudian.
- Kepindahan tersebut dilatarbelakangi keinginan bermain di kompetisi Eropa serta berkumpul kembali bersama keluarga.
Suara.com - Maarten Paes mengungkap cerita di balik kepindahannya dari FC Dallas ke Ajax.
Kiper Timnas Indonesia itu menyebut transfer tersebut terasa mimpi karena terjadi begitu cepat dan berawal dari sebuah telepon saat dirinya masih mengalami jetlag.
Paes menceritakan pengalamannya dalam podcast Business of Sport.
Saat itu, Paes sedang menjalani pemusatan latihan di Portugal setelah melakukan perjalanan panjang dari Dallas, Amerika Serikat.
“Saya sedang menjalani pemusatan latihan di Portugal. Saya baru saja menempuh penerbangan panjang dari Dallas dan ingin segera tidur karena mengalami jetlag,” ujar Paes.
“Tiba-tiba agen saya menelepon dan bertanya apakah saya tertarik bermain di Amsterdam. Saya mengalami jetlag, tetapi setelah itu tidak bisa tidur lagi. Tentu saja saya ingin bermain untuk Ajax,” lanjutnya.
Percakapan dengan Ajax Berlangsung Cepat
Ketertarikan kedua pihak kemudian berlanjut dengan cepat.
Sehari setelah komunikasi awal, Paes bertemu direktur Ajax dan pelatih kiper ketika klub tersebut sedang bersiap menghadapi Villarreal di Liga Champions.
“Saya berbicara dengan direktur dan pelatih kiper pada hari itu dan ada perasaan yang bagus,” kata Paes.
Meski pembicaraan berjalan positif, Paes mengaku tidak langsung menganggap kepindahan tersebut akan terwujud.
Ia tetap berhati-hati karena banyak hal dapat menggagalkan sebuah transfer.
“Saya selalu pesimistis ketika sebuah klub tertarik. Ada begitu banyak hal yang bisa salah. Semuanya harus berjalan dengan baik agar sebuah kesepakatan bisa terjadi,” tuturnya.
Negosiasi antara Ajax dan FC Dallas akhirnya menemukan titik temu. Paes kemudian meninggalkan pemusatan latihan dan terbang ke Amsterdam sekitar sepekan setelah pembicaraan awal.
“Barang-barang saya bahkan masih berada di Dallas. Itu cukup surrealistis,” ujar Paes.