Bri / News
Minggu, 29 Maret 2026 | 16:25 WIB
Ketua Umum Perbanas sekaligus Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Hery Gunardi [Suara.com/HO-BRI]
Baca 10 detik
  • Industri perbankan Indonesia memperketat manajemen risiko sebagai respons terhadap meningkatnya tensi geopolitik global terkini.
  • Fundamental perbankan domestik tetap solid meski volatilitas eksternal naik, dibuktikan pertumbuhan kredit dan likuiditas terjaga.
  • Mitigasi mencakup *stress test* sektoral dan penguatan *early warning system* untuk menjaga stabilitas intermediasi.

Suara.com - Industri perbankan Indonesia kini tengah meningkatkan kewaspadaan dengan memperketat kerangka manajemen risiko dan prinsip kehati-hatian (prudential banking).

Langkah strategis ini diambil sebagai respons terhadap meningkatnya tensi geopolitik global, menyusul eskalasi konflik antara Iran dan Israel yang turut melibatkan Amerika Serikat.

Gejolak tersebut diprediksi akan menekan stabilitas harga komoditas strategis, terutama minyak mentah dunia.

Ketua Umum Perbanas sekaligus Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Hery Gunardi, menegaskan bahwa meski volatilitas eksternal meningkat, fundamental perbankan domestik tetap berada pada posisi yang solid.

Hal ini dibuktikan dengan pertumbuhan kredit yang terjaga, kecukupan likuiditas, serta struktur permodalan yang kuat.

Hery menjelaskan bahwa risiko global saat ini merambat melalui kenaikan harga energi dan fluktuasi pasar keuangan. Oleh karena itu, perbankan berkomitmen memperkuat kualitas aset untuk menjaga stabilitas.

“Kami melihat risiko global meningkat, terutama melalui transmisi kenaikan harga energi. Dalam konteks ini, perbankan akan semakin memperkuat prinsip kehati-hatian melalui penguatan manajemen risiko,” ujar Hery dalam keterangannya, Minggu (29/3/2026).

Beberapa langkah mitigasi yang kini diperkuat oleh industri perbankan tanah air meliputi:

Stress Test Sektoral: Pengujian ketahanan terhadap sektor-sektor yang paling sensitif terhadap lonjakan biaya energi, seperti transportasi, logistik, dan manufaktur.

Baca Juga: Dengan QRIS Tap di BRImo, Kini Naik Transjakarta Jadi Makin Mudah

Early Warning System (EWS): Penguatan sistem peringatan dini untuk mendeteksi potensi penurunan kualitas kredit secara lebih cepat.

Selain pengujian ketahanan, perbankan juga menerapkan disiplin ketat dalam penyaluran pembiayaan melalui pendekatan risk-based pricing. Strategi ini memastikan bahwa risiko yang diambil telah terukur dengan tingkat imbal hasil yang sesuai.

Dari sisi pengelolaan dana, bank-bank nasional fokus mengoptimalkan rasio Liquidity Coverage Ratio (LCR) dan Net Stable Funding Ratio (NSFR).

Sementara untuk menghadapi gejolak mata uang, perbankan menerapkan strategi lindung nilai (hedging) yang lebih konservatif serta pengendalian posisi devisa neto secara ketat.

Hery menambahkan bahwa seluruh kebijakan tersebut sangat krusial agar fungsi intermediasi—yakni penyaluran dana dari masyarakat ke sektor produktif—tetap berjalan optimal tanpa mengabaikan aspek stabilitas.

“Langkah-langkah ini penting untuk memastikan fungsi intermediasi tetap berjalan optimal tanpa mengabaikan aspek stabilitas, khususnya di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi,” tambahnya.

Load More