- Industri perbankan Indonesia memperketat manajemen risiko sebagai respons terhadap meningkatnya tensi geopolitik global terkini.
- Fundamental perbankan domestik tetap solid meski volatilitas eksternal naik, dibuktikan pertumbuhan kredit dan likuiditas terjaga.
- Mitigasi mencakup *stress test* sektoral dan penguatan *early warning system* untuk menjaga stabilitas intermediasi.
Suara.com - Industri perbankan Indonesia kini tengah meningkatkan kewaspadaan dengan memperketat kerangka manajemen risiko dan prinsip kehati-hatian (prudential banking).
Langkah strategis ini diambil sebagai respons terhadap meningkatnya tensi geopolitik global, menyusul eskalasi konflik antara Iran dan Israel yang turut melibatkan Amerika Serikat.
Gejolak tersebut diprediksi akan menekan stabilitas harga komoditas strategis, terutama minyak mentah dunia.
Ketua Umum Perbanas sekaligus Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Hery Gunardi, menegaskan bahwa meski volatilitas eksternal meningkat, fundamental perbankan domestik tetap berada pada posisi yang solid.
Hal ini dibuktikan dengan pertumbuhan kredit yang terjaga, kecukupan likuiditas, serta struktur permodalan yang kuat.
Hery menjelaskan bahwa risiko global saat ini merambat melalui kenaikan harga energi dan fluktuasi pasar keuangan. Oleh karena itu, perbankan berkomitmen memperkuat kualitas aset untuk menjaga stabilitas.
“Kami melihat risiko global meningkat, terutama melalui transmisi kenaikan harga energi. Dalam konteks ini, perbankan akan semakin memperkuat prinsip kehati-hatian melalui penguatan manajemen risiko,” ujar Hery dalam keterangannya, Minggu (29/3/2026).
Beberapa langkah mitigasi yang kini diperkuat oleh industri perbankan tanah air meliputi:
Stress Test Sektoral: Pengujian ketahanan terhadap sektor-sektor yang paling sensitif terhadap lonjakan biaya energi, seperti transportasi, logistik, dan manufaktur.
Baca Juga: Dengan QRIS Tap di BRImo, Kini Naik Transjakarta Jadi Makin Mudah
Early Warning System (EWS): Penguatan sistem peringatan dini untuk mendeteksi potensi penurunan kualitas kredit secara lebih cepat.
Selain pengujian ketahanan, perbankan juga menerapkan disiplin ketat dalam penyaluran pembiayaan melalui pendekatan risk-based pricing. Strategi ini memastikan bahwa risiko yang diambil telah terukur dengan tingkat imbal hasil yang sesuai.
Dari sisi pengelolaan dana, bank-bank nasional fokus mengoptimalkan rasio Liquidity Coverage Ratio (LCR) dan Net Stable Funding Ratio (NSFR).
Sementara untuk menghadapi gejolak mata uang, perbankan menerapkan strategi lindung nilai (hedging) yang lebih konservatif serta pengendalian posisi devisa neto secara ketat.
Hery menambahkan bahwa seluruh kebijakan tersebut sangat krusial agar fungsi intermediasi—yakni penyaluran dana dari masyarakat ke sektor produktif—tetap berjalan optimal tanpa mengabaikan aspek stabilitas.
“Langkah-langkah ini penting untuk memastikan fungsi intermediasi tetap berjalan optimal tanpa mengabaikan aspek stabilitas, khususnya di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi,” tambahnya.
Dengan bauran kebijakan fiskal dan moneter yang selaras dengan manajemen internal bank, industri perbankan diharapkan tetap resilien (tangguh).
Berita Terkait
-
Moodys Beri Sinyal Waspada, PERBANAS Klaim Fundamental Bank Himbara Tangguh
-
BRI KPR Solusi Hadirkan Kemudahan Beli Properti dari Lelang Bank dengan Proses Praktis
-
Gejolak Global Meningkat, Perbankan Nasional Perkuat Prinsip Kehati-hatian
-
BRI Konsisten Dukung Perumahan Nasional, Salurkan KPR Subsidi Rp16,79 Triliun hingga Februari 2026
-
Contact BRI 1500017 Apakah Bebas Pulsa? Simak Penjelasan Lengkapnya
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- Sunscreen Apa yang Bisa Memudarkan Flek Hitam di Wajah? Ini 9 Rekomendasi Terbaiknya
- PJJ Jakarta 18 Agustus 2026 Besok: Berlaku untuk Sekolah Negeri-Swasta, ASN Boleh WFH 50 Persen
Pilihan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
-
Bundaran HI Dijaga Ketat, Solidaritas Warga Mengalir: Ini Titik Logistik untuk Pendemo
-
Jelang Demo Mahasiswa, Bundaran HI Dijaga Ketat: Kendaraan Taktis Siaga, Lalin Masih Normal
Terkini
-
Wacana Tol Pekanbaru-Kuansing, Hubungkan Riau dengan Sumbar
-
Karya Pakai Jiwa Kalah Cepat dengan AI yang Tak Punya Nyawa
-
KNPB Minta Konflik Papua Dimediasi Negara Lain: Indonesia Harus Buka Diri
-
Bukan Sekadar Daur Ulang, Bagaimana Uni Eropa Ubah Industri Elektronik agar Lebih Ramah Lingkungan?
-
Nasabah BRI Bisa Dapat Diskon dan Cicilan 24 Bulan di Saturdays, Begini Cara Klaimnya
-
5 Keunggulan Smartwatch yang Tahan Air untuk Aktivitas Harian
-
Urgensi Kehadiran Bursa Mineral dan Komoditas Strategis
-
SBY Soroti Pidato Prabowo, Sebut Presiden Punya Target yang Ambisius
-
Singapura Keluarkan Peringatan Warganya Jadi Korban Asap Kebakaran Hutan Kalimantan dan Sumatera
-
4 Pilihan HP Redmi Rp2 Jutaan Terbaik: Kamera 108 MP hingga Baterai 7.000 mAh