Bisnis / Keuangan
Minggu, 29 Maret 2026 | 15:41 WIB
Moody's Rating
Baca 10 detik
  • Moody's menurunkan *outlook* bank Himbara menjadi negatif, mengindikasikan kewaspadaan terhadap kebijakan ekonomi makro ke depan.
  • PERBANAS menegaskan fundamental perbankan nasional tetap kuat, ditunjukkan oleh pertumbuhan kredit dan likuiditas solid Desember 2025.
  • Keputusan Moody's hanya menyasar proyeksi masa depan, bukan peringkat atau kondisi riil perbankan yang fundamentalnya masih sehat.

Suara.com - Keputusan lembaga pemeringkat internasional, Moody’s Investors Service, yang menurunkan outlook bank-bank milik negara yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) menjadi negatif tengah menjadi sorotan pelaku pasar.

Menanggapi hal tersebut, Chief Economist Office of Chief Economist (OCE) PERBANAS, Dzulfian Syafrian, menegaskan bahwa kondisi fundamental perbankan nasional saat ini masih berada dalam posisi yang sangat kuat dan stabil.

Dzulfian menjelaskan bahwa revisi yang dilakukan Moody’s hanya menyasar pada aspek proyeksi masa depan (outlook), bukan pada peringkat kredit (rating) maupun kondisi riil kesehatan perbankan saat ini.

Langkah Moody’s tersebut dinilai lebih sebagai sinyal kewaspadaan terhadap dinamika kebijakan ekonomi makro ke depan.

“Moody’s pada dasarnya sedang memberikan sinyal kewaspadaan terhadap potensi risiko ke depan, terutama terkait efektivitas serta tata kelola kebijakan ekonomi nasional,” ujar Dzulfian dalam siaran pers di Jakarta, Minggu (29/3/2026).

Dzulfian menekankan bahwa perubahan pandangan tersebut tidak didasari oleh pelemahan kinerja internal bank. Sebaliknya, data agregat hingga Desember 2025 menunjukkan performa perbankan yang sangat solid.

Kredit perbankan tercatat tumbuh di atas 9 persen secara tahunan (year-on-year), sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) melonjak dua digit melampaui 13 persen.

Ketahanan modal perbankan juga berada di level yang sangat aman dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) di kisaran 25 persen. Sementara itu, kualitas aset tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) yang rendah di sekitar 2 persen.

“Seluruh indikator tersebut mencerminkan bahwa fungsi intermediasi, kualitas aset, permodalan, dan likuiditas perbankan tetap terjaga dengan baik,” imbuh Dzulfian.

Baca Juga: Contact BRI 1500017 Apakah Bebas Pulsa? Simak Penjelasan Lengkapnya

Senada dengan PERBANAS, Bank Indonesia (BI) turut mengonfirmasi bahwa sektor perbankan per awal 2026 masih menunjukkan ketahanan yang tinggi.

Kajian internal OCE PERBANAS menunjukkan perbankan Indonesia tetap resilien menghadapi tekanan eksternal, mulai dari konflik geopolitik di Iran hingga ketidakpastian arah kebijakan domestik.

Khusus untuk bank-bank BUMN, kinerjanya justru melampaui rata-rata industri dengan pertumbuhan kredit yang tetap berada di level dua digit. Hal ini membuktikan peran intermediasi Himbara tetap berjalan optimal meskipun kondisi global sedang bergejolak.

Secara individual, pertumbuhan dana murah (CASA) dan rasio permodalan bank-bank plat merah ini masih dalam kondisi yang sangat prima.

Menurut Dzulfian, fokus utama Moody’s sebenarnya lebih tertuju pada arah kebijakan makroekonomi nasional yang berpotensi memberikan dampak rambatan ke sektor keuangan.

Oleh karena itu, penurunan outlook ini sebaiknya dijadikan momentum bagi pemerintah dan otoritas terkait untuk memperkuat stabilitas ekonomi makro dan menjaga kepercayaan investor.

Load More