- IHSG diproyeksikan melemah pada 8 Oktober 2026 akibat sentimen The Fed dan aksi jual asing bersih sebesar Rp829 miliar.
- BEI resmi mencabut suspensi tiga saham yaitu NICK, BIKE, dan POLA setelah mengalami lonjakan harga yang signifikan sebelumnya.
- Wall Street dan bursa Asia tertekan ke zona merah karena lonjakan yield obligasi serta harga minyak mentah Brent.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak konsolidasi dengan kecenderungan melanjutkan pelemahan pada rentang 6.100–6.250 di perdagangan Kamis (8/10/2026).
Sentimen penekan utama bagi indeks domestik datang dari rilis FOMC Minutes September yang bernada hawkish. Mayoritas anggota The Fed mengindikasikan kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan sebelum akhir tahun 2026 untuk merespons inflasi yang persisten dan aktivitas ekonomi AS yang masih solid.
Pada penutupan perdagangan sehari sebelumnya, IHSG terkoreksi 0,75% diiringi arus modal keluar yang deras. Investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) mencapai Rp829 miliar, dengan fokus penjualan pada saham berkapitalisasi besar seperti BBCA, GOTO, BRIS, TPIA, dan ANTM.
Menurut analisis teknikal BNI Sekuritas, indeks berpotensi bergerak sideways dengan rentang support di 6.100–6.120 dan resistance di 6.200–6.250.
Dari sisi regulasi bursa, Otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi mencabut suspensi perdagangan tiga saham mulai Sesi I hari ini setelah sebelumnya dihentikan akibat lonjakan harga yang signifikan:
- PT Charnic Capital Tbk (NICK): Kembali diperdagangkan setelah melambung 94% ke Rp2.820 dalam sebulan sebelum disuspensi pada 21 September 2026.
- PT Bhineka Inovasi Ketahanan Energi Tbk (BIKE): Dibuka kembali pasca-lonjakan 119% ke Rp1.505 yang memicu suspensi sejak 29 September 2026.
- PT Pool Advista Finance Tbk (POLA): Kembali aktif setelah harganya melonjak 107,55% menjadi Rp110.
Dalam ranah aksi korporasi lainnya, Adhi Karya (ADHI) mendivestasikan saham Tol Jogja-Solo senilai Rp1,77 triliun di bawah arahan Danantara, sementara OJK tengah menelusuri dugaan penggelapan dana di Asuransi Bintang (ASBI).
Untuk panduan trading hari ini, BNI Sekuritas merekomendasikan MDKA, AMMN, PTRO, JPFA, SGER, dan UVCR. Di sisi lain, BRI Danareksa Sekuritas memberikan rekomendasi beli untuk INDY, KAEF, dan INDF.
Bursa Global dan Regional Tertekan Harga Minyak dan Yield Obligasi
Beralih ke pasar global, Wall Street kompak ditutup di zona merah pada Rabu (7/10). Indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,66%, S&P 500 terkoreksi 0,22%, dan Nasdaq Composite melemah 0,22%.
- Baca Juga
- IHSG Betah di Level 6.100, GOTO Melesat
Pelemahan ini dipicu oleh lonjakan imbal hasil (yield) US Treasury tenor 30 tahun yang menyentuh rekor tertinggi, sehingga memperbesar kekhawatiran pasar terhadap beban utang dan inflasi di tengah rezim suku bunga tinggi yang diprediksi akan berlangsung lebih lama.
Tekanan inflasi global kian diperburuk oleh harga minyak mentah Brent yang kembali menembus dan bertahan di atas US$100 per barel.
Kenaikan harga komoditas energi ini dipicu oleh eskalasi ketegangan perang Iran, serangan kelompok Houthi ke fasilitas Arab Saudi, serta ancaman badai di wilayah produksi minyak Amerika Utara yang berisiko mengganggu pasokan.
Sejumlah sektor spesifik di Wall Street mengalami pukulan keras:
Perumahan: Saham perusahaan properti anjlok 2,3% hingga 2,9% setelah suku bunga hipotek 30 tahun melonjak ke titik tertinggi dalam tiga tahun terakhir.
Semikonduktor: Terkoreksi 1,2% akibat aksi ambil untung setelah sektor ini memimpin reli pertumbuhan lebih dari 80% sepanjang tahun.
Teknologi Angkasa: Saham SpaceX turun 2,5% menyusul beredarnya laporan bahwa perusahaan milik Elon Musk tersebut tengah mencari pendanaan masif senilai US$40 miliar untuk membiayai akuisisi chip kecerdasan buatan dari Nvidia.
Mengekor pelemahan di bursa AS, bursa saham kawasan Asia juga terpuruk pada perdagangan hari Rabu, dipimpin oleh kejatuhan di pasar Korea Selatan dan Singapura. Di Seoul, indeks Kospi dan Kosdaq anjlok dalam, masing-masing melemah 2% dan 2,3%.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 turun 0,9% diikuti Topix yang melemah 0,7%. Indeks Hang Seng Hong Kong juga turun 0,6%, terseret oleh kejatuhan sektor bioteknologi yang merosot hingga 4%, sementara indeks ASX 200 Australia ditutup turun tipis 0,1%. Pasar keuangan Tiongkok masih belum beroperasi karena libur nasional.