/
Minggu, 07 Agustus 2022 | 14:30 WIB
grafik bitcoin masih mencoba untuk terus naik, meski beberapa kali turun menuju resisten (bitocto.com)

SuaraCianjur.id,- Dolar AS Kembali menunjukan gairahnya. Hal itu dipicu lantaran The Fed memberikan sinyal tak akan mengecilkan suku bunga. Sementara itu, harga Bitcoin terpantau relatif sideways di kisaran US$22.800, setelah sempat mengalami kenaikan tipis menjadi US$24.500 pada akhir Juli 2022 lalu.

Saat ini, Dolar berada di posisi terdepan. Tentu hal itu karena dibantu oleh beberapa komentar dari pejabat The Fed yang menolak saran dari pasar. Disebutkan bahwa mereka akan memperlambat laju kenaikan suku bunga, sementara pound tampil datar menjelang rapat Bank Sentral Inggris.

Seperti diketahui, Indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang lainnya, dalam posisi stabil di awal perdagangan yakni 106,39 setelah menambah sedikit kenaikan sekitar 0,5 persen di minggu ini.

“Dolar melemah pekan lalu akibat pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (pengatur kebijakan) karena pasar ingin percaya bahwa Fed bersikap dovish, karena pertumbuhan yang melambat,” kata Sim Moh Siong, ahli strategi mata uang di Bank of Singapore, dilansir dari Reuters.

“Minggu ini, ada lebih banyak pembicaraan tentang FOMC yang menentang ide ini, semuanya menyuarakan nada serupa bahwa kita belum selesai, dan harus mengharapkan lebih banyak kenaikan suku bunga,” tambahnya.

Sementara itu, Presiden The Fed San Francisco Mary Daly dan Presiden The Fed Minneapolis Neel Kashkari mengatakan tekad mereka untuk terus mengendalikan inflasi yang tinggi, mengulangi pesan serupa dari pejabat lain.

Berdasakan data dari FedWatch CME, pasar memperkirakan peluang 58 persen kenaikan suku bunga sebesar 50 basis poin pada pertemuan The Fed September 2022 dan peluang 42 persen dari kenaikan besar-besaran 75 basis poin lainnya.

Namun Sim mengatakan, kinerja dolar baru-baru ini adalah gambaran yang beragam, karena sentimen risiko yang membaik, yang juga telah membantu harga saham di AS walaupun hanya sedikit.

Sikap The Fed teranyar ini dapat ditafsirkan bahwa inflasi di AS sejatinya belum turun. Dari data sebelumnya pada Juni yakni di angka 9,1 persen secara year-on-year. Sasaran mutlak bank sentral itu adalah inflasi ditekan hingga menjadi 2 persen.

Baca Juga: FWP Jabar Konsisten Bangun Dunia Pendidikan agar Semakin Maju dan Adil

Sebelumnya, Ketua The Fed, Jerome Powell mengatakan pemangkasan suku bunga bisa dilakukan mulai tahun depan. Berdasarkan proyeksi Trading Economics, inflasi AS hanya sebesar 8,5 persen pada akhir kuartal ke-3 tahun 2022 ini.

“Tingkat inflasi di Amerika Serikat diperkirakan 8,50 persen pada akhir kuartal ini. Dalam jangka panjang, diproyeksikan sekitar 1,90 persen pada tahun 2023,” sebutnya.

Di saat yang sama, nilai dolar masih seperti saat ini, yakni di kisaran 106.99, tetapi diperkirakan masuk ke 110,33 dalam 12 bulan mendatang.

Load More