SuaraCianjur.id- Bagi seorang muslim bekerja bukan hanya sekedar melakukan suatu amal, tapi ibadah dalam menjalankan perintah Allah SWT. Makanya Islam mengajarkan bahwa bekerja itu pada hakikatnya adalah, manifestasi amal kebaikan yang harus dilandasi niat ibadah karena Allah SWT.
Sebagai sebuah amal, niat seseorang dalam bekerja akan sangat menentukan penilaian di mata Allah Sang Pencipta.
Dalam QS.Al-Qashash [28]:77 dijelaskan: “Dan carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (untuk kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi.”
Betapa Maha Baiknya Allah Pencipta langit dan bumi yang telah memilih manusia untuk menjadi khalifah di muka bumi, dan menyediakan sumber daya alam yang begitu kaya untuk dikelola, sehingga kita manusia dapat melangsungkan kehidupan yang fana ini melalui aktivitas bekerja.
Budaya adalah keseluruhan gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam kehidupan bermasyarakat dengan cara belajar, yang kemudian dijadikan identitas diri manusia dan sosialnya. Adapun kerja adalah melakukan setiap amal perbuatan. Maka, budaya dan kerja jika digabungkan adalah nilai-nilai sosial, atau suatu keseluruhan pola perilaku yang berkaitan dengan akal dan budi manusia dalam melakukan suatu pekerjaan.
Budaya kerja setiap individu atau kelompok itu tergantung pada lingkungan sosialnya. Seperti yang diungkapkan Mc Gregor, dalam sudut pandang manajemen SDM, budaya kerja sangat terikat dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya, dan diantara faktor kuat yang dapat mempengaruhinya itu adalah faktor kepemimpinan. Dalam lingkup organisasi instansi misalnya, para pemimpin yang mewakili budaya instansi akan menentukan nilai-nilai budaya yang tercipta.
Budaya organisasi instansi yang mengandung nilai-nilai Islam akan mendahulukan pembinaan terhadap keimanan, keislaman, dan ke-ihsan-an. Selanjutnya, substansi pada setiap budaya kerja akan terekspresi dalam ritual-ritual seremoni. Substansi agamawi pada ritual-ritual seremoni seyogyanya mengekspresikan nilai-nilai iman, islam dan ihsan tadi. Jika nilai-nilai tersebut diciptakan, maka setiap individu tidak akan mudah terpancing dan tergelincir pada hal-hal yang menyebabkan terjadinya pelanggaran yang dimurkai Sang Pencipta.
Menjadi Manusia Beradab
Islam menuntun agar setiap Individu menjadi manusia yang ihsan. Maksudnya adalah penyempurna dari keimanan dan keislaman seseorang. Manusia yang ihsan adalah manusia yang beradab secara internal dan eksternal.
Adab internal yaitu akhlaq terhadap dirinya sendiri, dan adab eksternal yaitu akhlaq terhadap segala sesuatu yang ada pada luar dirinya. Imam Al-Ghazali memberikan penjelasan dalam Ihya ‘Ulumid-diin, bahwa yang dimaksud dengan akhlaq adalah: “Ibaarotun ‘an hai’atinn fii an-nafsi roosikhatin ‘anhaa tashduru al-‘af’aalu bisuhuulatin wa yusrin min ghairi haajatin ilaa fikrin wa rowiyyatin”.
Baca Juga: PPATK Deteksi Ada Dana Judi Online Masuk ke Rekening Oknum Polisi, Ini yang Dilakukan Mabes Polri?
Artinya, akhlaq adalah sebuah gambaran tentang suatu bentuk yang melekat/mengakar dalam jiwa, dan terlahir darinya berbagai perbuatan dengan keadaan refleks dan spontan tanpa melalui pemikiran dan pertimbangan yang sulit.
Ekspresi setiap ritual seremoni yang sudah merupakan bagian dari budaya kerja ini lebih erat kaitannya dengan adab eksternal (akhlak lingkungan) setiap individu. Adab eksternal seseorang tidak akan pernah mencapai substansinya selama akhlaq internalnya masih diabaikan, sehingga dirinya selalu terperangkap dalam kepura-puraan, ketidakjujuran, keangkuhan, dan sikap-sikap tercela lainnya.
Hal ini bisa berdampak pada budaya konflik antar sesama, saling melemahkan dan menjatuhkan kepada yang bukan kelompok kerjanya, fisiknya terlihat berjama'ah, namun hatinya berpecah belah, dalam istilah qur'an disinggung, tahsabuhum jamii'an wa qulu uhun syattaa (QS.59:14).
Maka dari itu, apabila ekspresi nilai-nilai iman, Islam, dan ihsan ini masih sulit kita rasakan di hati dan pikiran, berbanding terbalik dari apa yang nampak oleh kasat mata, ini patut menjadi muhasabah bagi para stakeholder dalam organisasi. Padahal dari satu ritual seremoni ke seremoni lainnya kita sudah giat berpartisipasi, mengikuti dan melaksanakannya, namun belum bisa termanifestasi menjadi ihsan dalam bingkai adab (akhlaqul mahmudah).
Sahabat Umar bin Khathab ra pernah memberi nasehat kepada umat dengan nasehat yang populer di kalangan umat Muslim: “haasibuu “anfusakum qobla ‘an tuhaasabuu”, Hisablah diri-diri kalian sebelum kalian dihisab oleh Allah SWT.
Jika deretan kegiatan ritual seremoni ini tidak sampai membawa seseorang pada adab internal yang baik bagi dirinya sendiri, khawatir ini akan menjadi kamuflase terhadap akhlaq lingkungannya, dan membentuk habbits yang bisa menjadi karakter buruk (akhlaq madzmumah) yang melekat baginya dan lingkungan kerjanya, seperti apa yang dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali tersebut, terlebih lagi, apabila di dalam ritual seremoni tersebut membawa substansi agamawi, bisa terjatuh kepada perbuatan dzalim terhadap diri dan lingkungan. Na’udzubillahiu min dzalik.
Berita Terkait
Terpopuler
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 5 Pelembap Viva Cosmetics untuk Mencerahkan Wajah dan Hilangkan Flek Hitam, Dijamin Ampuh
- 6 Sepeda Lipat Alternatif Brompton, Harga Murah Kualitas Tak Kalah
- Siapa Saja Tokoh Indonesia di Epstein Files? Ini 6 Nama yang Tertera dalam Dokumen
- 24 Nama Tokoh Besar yang Muncul di Epstein Files, Ada Figur dari Indonesia
Pilihan
-
Hakim di PN Depok Tertangkap Tangan KPK, Diduga Terlibat Suap Ratusan Juta!
-
Eks Asisten Pelatih Timnas Indonesia Alex Pastoor Tersandung Skandal di Belanda
-
KPK Amankan Uang Ratusan Juta Rupiah Saat OTT di Depok
-
KPK Gelar OTT Mendadak di Depok, Siapa yang Terjaring Kali Ini?
-
Persib Resmi Rekrut Striker Madrid Sergio Castel, Cuma Dikasih Kontrak Pendek
Terkini
-
LMKN: Kreator TikTok Live Tak Dibebankan Bayar Royalti Musik
-
Jakarta Pertamina Enduro Sikat Electric PLN 3-0, Servis Mematikan Jadi Kunci Kemenangan
-
Peringkat Kredit Indonesia di Moodys Tetap Baa2, Alarm Bagi Kepercayaan Investor?
-
Review Film Warrior (2011): Drama Keluarga Mengharukan di Balik Ring MMA
-
Persib Bandung Gaet Sergio Castel: 5 Poin Penting Rekrutan Anyar Pangeran Biru
-
Gus Ipul Serukan Gerakan Peduli Tetangga, Perkuat Data Lindungi Warga Rentan
-
DPR RI Awasi Pengembangan Kawasan Wisata di Area Rencana Proyek Giant Sea Wall
-
Waspadai Malut United, Bojan Hodak Sesumbar Siapkan Kejutan
-
Sudah Tiba di Jakarta, PM Australia Segera Bertemu Prabowo di Istana
-
Gus Ipul dan Kepala Daerah Komitmen Buka 8 Sekolah Rakyat Baru