SuaraCianjur.id- Media raksasa The New York Times asal Amerika Serikat mengulas soal institusi Polri buntut dari penggunaan gas air mata dan pengendalian massa dalam Tragedi Kanjuruhan Malang.
Tragedi Kanjuruhan yang terjadi pada hari Sabtu (1/10) kemarin, bukan hanya menjadi sorotan dalam negeri saja, tapi dunia pun memasang mata.
The New York Times mengulas tentang aksi arogansi Polisi Indonesia, dengan menulis judul artikel ‘Deadly Soccer Clash in Indonesia Puts Police Tactics, and Impunity, in Spotlight' (Bentrokan Sepak Bola Mematikan di Indonesia Menonjolkan Taktik Polisi, dan Impunitas).
Perlu diketahui, The New York Times adalah media raksasa dari Amerika Serikat. Tentu saja hal ini cukup membuat wajah Indonesia malu, karena kinerja dari kepolisian Indonesia yang dikritik oleh mereka.
The New York Times menyampaikan kalau kepolisian dianggap termiliterisasi. Kurang terlatih dalam mengendalikan masa, dan hampir selalu tidak pernah dimintai pertanggungjawaban atas kesalahan mereka.
Sebuah tulisan dari seorang Jurnalis Kepala Biro Asia Tenggara The New York Times, bernama Sui-Lee Wee menyatakan jika masyarakat Indonesia menghadapi kepolisian yang disebut korup.
Mereka menggunakan kekerasan untuk menekan massa dan mereka juga tidak bertanggungjawab kepada siapapun.
Bahkan Sui-Lee Wee turut menyoroti peristiwa yang terjadi sebelumnya. Ia juga mencantumkan pendapat dari Ekonom Politik dari Murdoch University, Jacui Baker.
Baginya tragedi Kanjuruhan mengungkapkan masalah sistemik Polisi. Selain itu hal yang paling disorot selanjutnya adalah pengendalian massa.
Baca Juga: Resep Detox Rahim Ala Dokter Zaidul Akbar, Menstruasi Kembali Lancar
Menurut Jacui Baker, kalau kepolisian Indonesia kurang terlatih dalam mengendalikan massa.
“Bagi saya ini benar-benar fungsi dari kegagalan reformasi kepolisian di Indonesia,” terang Baker.
Jacui Baker sangat menyayangkan selama dua dekade, aktivis Hak Asasi Manusia dan Ombudsman pemerintah sudah menyelidiki tindakan kepolisian namun tidak berpengaruh. Bahkan dirinya juga turut mengatakan seperti ini.
“Mengapa kita terus dihadapkan dengan impunitas? Karena tidak ada kepentingan politik untuk benar-benar mewujudkan kepolisian yang profesional,” begitu katanya.
Bahkan tersebar pula soal video, yang memperlihatkan secara perlahan tentang aksi-aksi yang dilakukan Polisi dan massa. Tampak pelepasan gas air mata yang diarahkan ke tribun sebagai bentuk mengendalikan massa.
Hal tersebut sangatlah disayangkan, sebagai alasan untuk mencegah kericuhan yang terjadi. Tragedi Kanjuruhan menjadi duka kelam bagi seluruh masyarakat Indonesia hingga disorot dunia.
Sumber: Suara.com / Kontributor : Annisa Fianni Sisma
Tag
Berita Terkait
-
Polri Kembali Disorot Kini Dicolek Media Raksasa Amerika Singgung Gas Air Mata, Warganet: Gimana Pak?
-
Arogansi Polisi Indonesia yang Disorot The New York Times di Tragedi Kanjuruhan
-
Komdis PSSI Beri Sanksi Arema FC Denda Ratusan Juta Sampai Ketua Panpel dan SO Divonis Berat Seumur Hidup
-
Nugroho Setiawan Orang Indonesia Pemilik Lisensi Security Officer FIFA Gabung di TGIPF, Pernah Ditendang Federasi?
Terpopuler
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- Peluang Baru Terbuka, Kehidupan 4 Shio Ini Diprediksi Semakin Membaik Mulai 10 Juni 2026
Pilihan
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
-
'Kalau Semua Diam, Siapa yang Akan Bicara?' Alasan Zaskia Adya Mecca Dukung Aksi Mahasiswa
-
Silakan Tabrak Kami! Polisi Tantang Massa Mahasiswa UI yang Nekat ke Bundaran HI
Terkini
-
Polemik Pembangunan GKJ Solo: Saat Aturan Negara Justru Menjadi Hambatan Beribadah
-
Niat Beli Motor Lewat Facebook, Pemuda di Way Kanan Malah Ditodong Senjata Api
-
Dari Rp150 ke Rp17.000: Menelusuri Sejarah Kenaikan Harga BBM dari Era Soekarno hingga Prabowo
-
Modal Sapu dan Hanger, Pelarian 10 Bulan Otak Pembobol Rumah di Bandar Lampung Berakhir
-
Mengapa Revolusi Tidak Lahir dari Tagar
-
Bukan Cuma Putih, Ini 5 Warna Kamar Mandi yang Bawa Rezeki dan Energi Positif Versi Feng Shui
-
Dilema Pertamina Naikkan Harga Pertamax, Ekonom: Kalau Ditahan Terus Bisa Gerus Keuangan Negara
-
Oli Motor Makin Boros di Tengah Kenaikan Harga, Benarkah Tanda Harus Turun Mesin?
-
Kenapa Mahasiswa Demo 'Menuju Indonesia Bangkrut' di Bundaran HI?
-
Inovasi Karyawan Petrokimia Gresik Hasilkan Nilai Rp154 Miliar