/
Selasa, 11 Oktober 2022 | 14:54 WIB
coretan berisi kekecewaan menghiasi dinding Stadion Kanjuruhan Malang, tragedi kanjuruhan (Foto Istimewa / Suara.com/Dimas Angga)

SuaraCianjur.id- Pernyataan yang dikeluarkan oleh Polri soal gas air mata bukan penyebab jatuhnya ratusan korban meninggal di Tragedi Kanjuruhan Malang, kembali disorot media internasional.

Pernyataan dari Polri kembali menjadi sorotan tajam dari media internasional yang dianggap seolah-olah menyalahkan para penonton di Stadion Kanjuruhan Malang.

Para suprter kala itu berhamburan ketika pihak kepolisian melepaskan gas air mata kea rah penonton. Sonatak saja mereka panik dan berhamburan karena efek gas air mata yang membuat mereka pedih.

Tak sedikit para korban gas air mata dalam Tragedi Kanjuruhan Malang mulai berangsur pulih.

Seperti yang diketahui, Kadiv Humas Polri Irjen Pol Dedi Prasetyo mengungkapkan bawasanya tidak ada riset ilmiah, yang membuktikan fatalitas dari gas air mata.

Bahkan dirinya mengklaim para suporter yang berebut dan berdesakan di pintu keluar Stadion Kanjuruhan adalah penyebab terjadinya insiden maut tersebut.

Tentu saja pernyataan dari Polri itu menjadi sorotan tajam bagi jurnalis media internasional.

Mengutip dari akun Twitter editor AFP Fact Check wilayah Asia, Yenni Kwok, tampak melampirkan pernyataan dari Asosiasi Paru-paru Amerika.

"Polisi Indonesia: Tidak ada ahli yang menyatakan paparan gas air mata dalam jumlah besar bisa mematikan. Padahal Asosiasi Paru-paru Amerika menyatakan hal sebaliknya," cuit @yennikwok, seperti dikutip di hari Selasa (11/10/2022).

Baca Juga: Penjual Dawet hingga Kericuhan di Tribun Jadi Hoaks Terparah dalam Tragedi Kanjuruhan

Dari unggahan yang di posting oleh Yenni Kwok dalam tangkapan layar, diambil dari laman lung.org, membahas soal dampak penggunaan gas air mata.

Menurut pakar kesehatan tersebut dinyatakan soal paparan dari gas air mata bisa membuat dada menjadi sesak, batuk hingga sensasi tercekik. Tak hanya itu seseorang bisa mengalami pedih, bersin dan kesulitan untuk bernafas.

"Selain itu korban juga bisa merasakan sensasi terbakar di mata, mulut, dan hidung; penglihatan buram hingga kesulitan menelan," begitulah kata Asosiasi Paru-paru Amerika.

Gejala yang timbul bisa saja lebih buruk, bahkan mematikan bagi orang-orang dengan komorbid ganggaun pernapasan, seperti asma atau penyakit paru-paru obstruktif kronis (PPOK / COPD).

Pernyataan jurnalis dari media asing yang soroti tentang klaim pernyataan dari Polri soal gas air mata bukan penyebab tragedi di Kanjuruhan Malang (sumber: Foto Istimewa / Tangkapan Layar)

Perlu diketahui PPOK adalah penyakit paru-paru yang menghalangi aliran udara. Penderitanya akan mengalami kesulitan saat bernapas.

PPOK yang membuat paru-paru rusak sangat sulit untuk dipulihkan. Maka penderitanya kemungkinan akan memerlukan inhaler darurat maupun steroid inhalasi atau oral untuk mengendalikan gejala.

"Dampak kesehatan jangka panjang lebih mungkin timbul apabila korban terpapar gas air mata untuk jangka waktu lama di tempat tertutup. Dalam situasi ini, paparan gas air mata dapat berpotensi pada kegagalan pernapasan hingga meninggal dunia," jelasnya.

Sumber: Suara.com 

Load More