/
Selasa, 11 Oktober 2022 | 18:32 WIB
Momen Bos Arema gelar 7 harian korban tragedi Kanjuruhan (Foto Istimewa / Suara.com / Instagram - @shandypurnamasari)

SuaraCianjur.id- Kabar terbaru dari korban Tragedi Kanjuruhan Malang yang meninggal dunia bertambah.

Satu orang meninggal dunia, maka hingga kini jumlah korban meninggal menjadi 132 jiwa. Adapun identitas yang meninggal dunia bernama Helen Prisella (21).

Dikatakan Kapolres Malang, AKBP Putu Kholis Aryana, korban meninggal yang baru berusia 21 tahun itu, sempat mendapatkan perawatan dari RSU Saiful Anwar.

"Korban meninggal dunia bertambah satu atas nama Helen Prisella (berusia) 21 tahun. Pasien yang dirawat di RSU Saiful Anwar Malang," jelas Putu kepada wartawan, Selasa (11/10/2022) mengutip dari Suara.com.

Putu mengatakan Helen meninggal dunia sekitar pukul 14.25 WIB. Pada hari Minggu (2/10) lalu, dirinya mendapatkan perawatan di ruang Ranu Kumbolo, dengan kategori pasien luka sedang. Lalu setelah itu dipindahkan ke ruang ICU.

"Kemudian dipindahkan ke ruang ICU pada hari keempat perawatan, pasien dinyatakan meninggal dunia pada hari Selasa pukul 14.25 WIB,” bebernya.

Dari penjelasan dr. Syaifulloh Ghani, Sp.OT Wadiryan RSSA pasien di ICU terdiagnosa dengan Multiple Trauma Ekstra kranial (banyak trauma di luar kepala), Peritoneal Bleeding (Perdarahan dalam Perut) dan Sepsis (Infeksi Luas), serta sudah sempat dilakukan CRRT (Cuci Darah Insidental).

Sementara itu untuk korban luka tercatat sebanyak 607 orang, luka ringan sebanyak 532 orang. Lalu luka sedang 49 orang dan luka berat sebanyak 26 orang.

Sementara itu, Polri mengakui kalau anggotanya ada yang melepaskan gas air mata yang sudah kadaluarsa. Gas air mata yang digunakan itu tercatat tahun 2021.

Baca Juga: Hari Kesehatan Mental Sedunia : Akses Kesehatan Jiwa di Indonesia Minim

"Ya, ada beberapa yang ditemukan ya. Yang tahun 2021, ada beberapa," ungkap Kadiv Humas Polri Irjen Pol Dedi Prasetyo kepada wartawan, Senin (10/10) kemarin.

Tak disebutkan berapa banyak jumlah gas air mata yang sudah kadaluarsa itu. Namun untuk barang bukti tersebut, masih dilakukan pemeriksaan di laboratorium forensik.

"Saya belum tahu jumlahnya tapi masih didalami oleh labfor," jelas Dedi.

Dedi juga mengklaim kalau gas air mata yang sudah kadaluarsa itu tidak berbahaya. Dedi kemudian membandingkan dengan kondisi makanan yang kadaluarsa juga.

"Kebalikannya (dengan makanan), dengan zat kimia atau gas air mata ini, ketika dia expired justru kadar kimianya itu berkurang. Sama dengan efektivitasnya gas air mata ini, ketika ditembakkan, dia tidak bisa lebih efektif lagi," kata dia.

Tak hanya itu, Polri mengklaim juga soal para korban yang meninggal dunia, dalam Tragedi Kanjuruhan bukan karena gas air mata. Tapi karena kekurangan oksigen saat berebut pintu keluar hingga terinjak-injak.

Load More